Senin, 27 Maret 2023

JENIS-JENIS PENILAIAN YANG WAJIB DIKETAHUI GURU

JENIS-JENIS PENILAIAN YANG WAJIB DIKETAHUI GURU


Di dunia Pendidikan seorang guru memiliki kewajiban memberikan assesmen atau penilaian kepada peserta didik. Namun di lapangan tidak sedikit guru mengenal jenis-jenis penilaian yang bisa digunakan guru untuk mengukur pencapaian belajar peserta didik. Mari kita ulas secara singkat tentang jenis-jenis assesmen atau penilaian yang wajib diketahui guru untuk mengukur pencapaian belajar peserta didik.

1. Asesmen Diagnostik

Yang pertama yaitu Penilaian dengan pendekatan asesmen diagnostik merupakan bentuk pra-penilaian yang dilakukan sebelum melaksanakan sebuah proses pembelajaran di kelas, yang bertujuan agar seorang guru melakukan upaya memahami kelebihan dan kekurangan peserta didik sebelum melakukan proses pembelajaran. 

Dengan asesmen diagnostik ini guru dapat mengetahui tingkat kognitif peserta didik sehingga dapat memutuskan tindak lanjut dalam mendesain pembelajaran. Sehingga guru dapat memilih langkah yang tepat sesuai dengan hasil asesmen diagnostik yang dilakukan sebelum pembelajaran dilaksanakan.

2. Formatif dan Sumatif

Yang ke dua adalah Penilaian formatif dan sumatif, penilaian formatif adalah evaluai yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian formatif biasa disebut dengan Assesment for Learning (AFL). Misalnya, setiap selesai pembelajaran siswa diberikan kuis atau bisa saja berupa ulangan harian.

Sedangkan penilaian sumatif merupakan penilaian yang dilakukan di akhir proses pembelajaran. Penilaian sumatif biasanya digunakan untuk menentukan kinerja akhir peserta didik seperti ulangan akhir semester atau ujian kelulusan. Penilaian sumatif biasa disebut Assesment Of Learning (AOF).

3. Penilaian Informal dan Formal

Yang ke tiga adalah penilaian informal dan formal. Mungkin diantara kita ada yang asing dengan macam penilaian ini. Sebenarnya hampir sama saja hanya membedakan sifatnya. Penilaian informal biasanya dilakukan dalam bentuk umpan balik dengan peserta didik seperti memberikan pertanyaan-pertanyaan awal sebelum memulai pembelajaran.

 Sedangkan penilaian formal merupakan evaluasi terhadap kinerja peserta didik selama proses pembelajaran, baik berupa tes tertulis maupun lainnya dengan menggunakan standar yang telah ditetapkan.

4. Continuous Assesment dan Final Assesment

Yang ke empat adalah continuous assessment dan final assessment. Continuous merupakan penilaian sepanjang pengalaman belajar atau terus-menerus. Sementara Final Assement merupakan penilaian di akhir kegiatan belajar. Penilaian akhir biasanya digunakan untuk pengambilan keputusan sumatif.

5. Penilaian Proses dan Penilaian Produk

Penilaian proses adalah penilaian yang terfokus pada langkah-langkah atau prosedur yang mendasari kemampuan tertentu, seperti mengerjakan tugas dengan proses penyelesaian yang sesuai prosedur yang sistematis. Sedangkan penilaian produk merupakan penilaian pada karya atau hasil akhir dari tugas yang telah dikerjakan oleh peserta didik.

 

Demikian jenis-jenis penilain yang dapat digunakan guru untuk mengukur pencapaian belajar peserta didik. Semoga bermanfaat.

 

Kamis, 16 Maret 2023

HABIT POSITIF SISWA DAN GURU

 HABIT POSITIF SISWA DAN GURU

Oleh: Mustafa Kamal Ali

Di tahun ini kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah sudah mulai aktif seperti biasanya. Kegiatan pembelajaran sudah mulai dengan kegiatan tatap muka, atau belajar di kelas. Kegiatan belajar daring atau melalui media virtual hanya menjadi kegiatan pendamping. Setelah kegiatan daring selama masa pandemi covid-19 memiliki banyak dampak pada siswa dan guru. Banyak beberapa nilai dan habit sekolah yang luntur.  Sering kita jumpai di sekolah-sekolah serasa ada yang berbeda dari masa sebelum pandemi dan masa setelah pandemi ini. Selain siswa guru-gurupun mulai harus membiasakan habit positif yang dulu sudah berjalan baik. Sebenarnya tanpa adanya masa pandemi di tahun 2019 s/d 2022 masih banyak sekolah yang belum sempurna dalam menanamkan nilai dan habit positif  terhadap guru dan siswa. Hal ini mengakibatkan hasil output dari sekolah dirasa kurang memuaskan dimata pasar pendidikan. 

Banyak sekali habit positif yang mengalami degradasi setelah masa pandemi dan juga beberapa sekolah memang belum sepenuhnya menanamkan habit positif. Seperti habit menjaga kebersihan sekolah, habit kedisiplinan, habit budaya literasi, dan juga habit penanaman kesopanan. Pada awal masuk sekolah Nampak siswa keberatan jika harus membersikan kelas, dating tepat waktu, dan juga ada yang menggunakan bahasa yang didak cocok digunakan dilingkungan pendidikan. Hal ini dipengaruhi habit siswa di rumah yang kurang melaksanakan habit positif. Selain itu dipengaruhi dengan kemajuan teknologi yang cepat tanpa adanya control dari orang tua dan guru. Hal ini sangatlah memperihatinkan bagi kita selaku orang yang berkecipung di dunia pendidikan. Mengingat siswa adalah subjek dan objek penyelesaian dalam permasalah ini.

Siswa sebagai subjek dan objek pembelajaran harus ditanamkan nilai-nilai habit yang dapat membentuk kepribadian mereka. Habit hidup bersih bagi siswa harus tertanam sejak di sekolah yang menjadi kesadaran hidup sehari-hari sampai di rumah. Menekankan habit hidup bersih sangatlah penting, karena hal ini akan membentuk keteraturan diri yang peduli terhadap lingkungan. Disiplin diri juga tidak kalah pentingnya menjadi tanggung jawab sekolah. Hal ini harus diperkuat oleh gerakan sistem yang membentuk keteladanan kolektif di lingkungan sekolah. Tidak ada ruang toleransi untuk mengabaikan ruang disiplin di sekolah.

Guru, siswa dan semua warga sekolah secara kolektif ikut proaktif membentuk habit siswa yang positif. Dalam proses pembelajaran siswa harus ditanamkan nilai-nilai (core value) untuk membangun komitmen belajar. Sebelum mengikuti belajar formal di sekolah, ada proses penanaman nilai-nilai habit yang diinternalisasi oleh warga sekolah, seperti habit hidup bersih, pembiasaan literasi membaca, disiplin, praktek keagamaan (nilai-nilai religiusitas), praktek penanaman kesopanan, dan komitmen norma untuk menjaga kesadaran keberlangsungan belajar.

Habit menjaga kebersihan di sekolah kadang menjadi hal yang disepelehkan, namun sebenarnya habit ini sangatlah penting. Sebenarnya setiap guru sudah sering mengajarkan atau sering juga mengingatkan kepada siswanya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Namunbiasanya hal ini kurang sempurna jika tidak di iringi dengan aksinyata seorang guru dalam mendampingi kegiatan siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan. hal ini bisa dikatakan belum bisa maksimal jika dihadapkan disekolah dasar, mengingan figur guru sangatlah penting sebagai teladan bagi siswanya. Selain itu kondisi siswa disekolah dasar sangatlah butuh pendampingan dan pengarahan secara baik. Guru harus selalu mengontrol dan mengingatkan siswa bahkan harus memberikan contoh riil. Kadang ada yang terlupakan seperti mengecek sampah saat pulang sekolah atau istirahat. Biasanya hanya menyapu lantai padahal banyak sudut yang perlu disentuh kebersihannya sepertijendela rak buku dan lain sebagainya. Mungkin kita sering menjumpai meja kursi di kelas yang penuh dengan motif yang tidak asli (penuh coretan).  Hal ini menjadikan pemandangan kelas semakin tidak mengenakkan. Oleh karena itu betapa pentingnya seorang guru selalu mengingatkan menjaga kebersihan diseluruh lini kelas.

Habit disiplin merupakan yang paling banyak dilanggar di sekolah-sekolah. Padahal habil disiplin ini merupakan hal terpenting untuk penanaman karakter siswa yang nantinya terbawa kerumah dan masa hidupnya. Jika siswa sudah tidak terbiasa disiplin akan terasa berat jika dihadapkan dalam kehidupan dimasa mendatang saat sudah berkecipung didunia kerja. Habit disiplin ini akan sulit diterapkan disekolah terhadap siswa jika figur seorang guru dan warga sekolah yang dijadikan figur tidak melaksanakannya. Dalam kata lain jika ingin siswa disiplin, guru harus juga disiplin. Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak memberi ruang warga sekolah untuk tidak disiplin.

Habit literasi sangatlah penting diterapkan di sekolah, karena hal ini dapat digunakan untuk menjaga atmosfir akademik di sekolah. Minat baca yang lesu dalam kehidupan sehari-hari atau dilingkungan masyarakat diakibatkan oleh kegagalan lembaga pendidikan untuk membentuk budaya literasi baca tulis dengan baik. Indonesia menjadi salah satu Negara yang sulit bersaing dikanca internasional, hal ini disebabkan oleh sumber daya manusia yang kualitasnya kurang baik. Hal ini disebabkan karena minat baca masyarakat yang kurang. Oleh karena itu institusi pendidikan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam hal peningkatan minat baca masyarakat, yang dimulai dari pembentukan admosfir akademik di sekolah. Sekolah menjadi garda terdepan dalam menciptakan admosfir minat baca siswanya.

Habit penanaman kesopan merupakan suatu habit yang sangat penting kita terapkan sejak dini. Karena kesopanan ini sangatlah mudah dinilai oleh setiap orang. Maka, sekolah sangat perlu menanamkan habit ini sejak dini. Dimasa sekarang ini habil kesopanan sangat mengalami degradasi. Hal ini dasebabkan karena pengaruh kemajuan zaman dan juga karena kurangnya pendampingan guru dan orang tua terhadap siswa. Penanaman habit ini sepertinya mudah, namun realitanya sangat sulit. Bagaimana cara penanaman habit ini supaya optimal? Jawabannya sederhana, kita kaji lebih jauh penyebabnya terlebih dahulu. Setelah kita tahu kita akan lebih mudah mengatasi permasalahan ini. 

Habit positif bagi siswa dan guru sebenarnya sudah diketahui semua pihak, namun kebanyakan enggan melaksanakannya, karena merasa berat. Atau mungkin merasa acuh dengan kondisi ini, sebagai orang yang berperan aktif didunia pendidikan tidak boleh acuh terhadap degradasi habit positif pada siswa dan guru. Untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini kita perlu lakukan bersama-sama untuk menanamkan habit positif di sekolah dengan sepenuh hati.

Rabu, 15 Maret 2023

Pesan Pena Kepada Kertas

Pesan Pena Kepada Kertas

 Oleh: Mustafa Kamal Ali


Aku hanya pena yang tiada makna

Tinta-tinta ini tak punya makna jika tak tergores di jiwa

jiwamu cukup luas untuk kugeskan tinta

Kucoba gores larik-larik sajak biasa

Tuk hiasi kekosongan dalam lembar kertasnya

Tak lain hanyalah pesan pena pada kertasnya

Yang tersusun rapi bait-baitnya

Berisi pesan guru pada muridnya

Dihembuskan do’a suci dari bibir manisnya

Untuk mirid yang telah jauh dari mata

Ditengah masa kita tak jumpa

Namun hati kita selalu bersama

Walau berbeda ruang dan waktunya

Teringan jelas cerita indah kita

Yang terukir dibalut canda dan tawa

Namun, kini hanya cerita senja

Yang akan hilang ditelan gelap tanpa cahaya

Hanya do’a yang menyertainya

Yang terpancar bagai lilin ditengah gelap gulita

Yang berayun-ayun sinarnya

Dihembus angin malam yang menembus dadanya

Hati ini lirih berkata

Jika raga kita harus terpisah

Biarlah hati ini selalu bersama yang beiring dengan do’a

Aku hanya pena yang tiada arti tanpa kertasnya

Engkau muskhaf-muskhaf yang beraneka warna

Yang kucoba gores tinta mutiara

Mutiara ini tiada arti jika kalian tak menyimpannya

Karena ini pesan pena pada kertasnya

Sekusut apa kertasnya akan indah

Jika tersusun rapi bait sajak disana

Biarlah melekat bagai permata diliontinnya

Jangan kau buang sia-sia

Karena itu cukup mahal belinya

Biarlah bersemayam di dada

Tergantung di rantai emasnya

Karena akan menawan dipandang bola mata

Selamat berjuang melawan masa

Jumat, 10 Februari 2023

MENJADI GURU YANG DIRINDUKAN

 Oleh : Mustafa Kamal Ali, S.Pd.

Di dunia pendidikan, guru merupakan ujung tombak dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Hal ini dikarenakan gurulah yang berhubungan langsung dengan siswa. Dikatakan pendidikan itu berhasil ketika siswanya berhasil mencapai target yang sudah ditentukan. Untuk mewujudkan tujuan yang sudah ditetapkan itu, tentu guru memiliki cara dan peran sendiri-sendiri. Kadang ada yang memilih menjadi guru yang ditakuti, ada juga yang menjadi guru yang dirindukan.

Memilih mana, guru yang dirindukan atau guru yang ditakuti?

Dulu kita memandang guru adalah sosok yang ditakuti. Selain itu juga guru merupakan sosok yang galak suka marah, suka menghukum, dan lain sebagainya. Terlintas di pikiran bahwa guru adalah orang yang paling kita takuti di sekolah. Hal ini kita jumpai saat kita menemui guru galak atau guru kiler. Apakah harus demikian seorang guru? “Jawabannya tentu tidak”. Guru galak atau kiler mungkin itu saat kita memandang dari sudut pandang tertentu. Sebenarnya guru galak itu kembali kepada siswanya. Namun juga ada karena kebiasaan yang dilakukan seorang guru, membuat siswa malah takut. Ketika tidak ada guru tersebut siswa merasa legah tenang dan tidak was-was. Namun dulu juga kita dapati guru yang humoris, guru yang penyabar, guru yang berwibawah. Namun kita akan rindu dengan semuanya saat kita sudah tidak berjumpa lagi. Sekarang kita coba menggali tentang guru, Sebenarnya siapa guru itu?

Guru merupakan pendidik, pembimbing, pelatih, dan pengajar atau orang menyalurkan ilmunya kepada siswa. Banyak orang menganggap guru adalah orang yang hanya mengajar dan menyampaikan materi di sekolah. Sehingga banyak orang yang salah penafsiran tentang guru. Selain selain itu dari guru pun ada yang berpandangan bahwa guru adalah hanya sebagai penyampai materi di kelas. Hal ini terbukti bahwasannya banyak guru yang beranggapan yang penting materi di buku diajarkan dan memberikan nilai kepada siswa. Selain itu banyak juga pada saat menyampaikan materi ajar di dalam kelas menganggap siswa itu anak yang tidak tahu apa-apa, kemudian hanya dibacakan materi di buku dan siswa hanya mendengarkan ocehan guru di depan kelas. Ketika ada siswa bicara langsung ditegur, siswa disuruh duduk rapi diam tidak boleh tengak-tengok harus menghadap ke depan. Sehingga suasana kelas tidak membuat siswa nyaman serasa berada di sebuah penjara.

Hal ini akan membuat siswa sangat bosan dan tidak memperhatikan guru saat menjelaskan. Hal tersebut mengakibatkan adanya gep antara guru dan siswa. Keadaan yang demikian ini membuat siswa menjadi jauh dengan guru dan menjadi tidak terbuka saat ada suatu permasalahan yang dihadapi oleh siswa terutama dalam hal pembelajaran. Selain itu siswa menjadi tidak berani menyampaikan apa yang mereka pendam sehingga mengakibatkan masalah-masalah yang dimiliki siswa baik dalam bidang kognitif dan afektif. Hal tersebut mengakibatkan kemampuan yang dimiliki siswa tidak tereksplor. Dampak dari semua itu dapat mempengaruhi kemampuan siswa baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Perlunya menjadi guru yang aktif, kreatif, dan bersahabat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan saat ini, dimasa perkembangan industri digital yang semakit memuncak ini mengharuskan kita lebih ekstra berjuang untuk bersaing dengan negara lain dalam bidang pendidikan. Selain itu, tantangan menghadapi siswa pun semakin beragam. Tentunya kita harus lebih profesional dalam menghadapi segala tantangan di masa ini.

Perlunya guru yang mampu mendalami dunia siswa atau bisa disebut guru kekinian serta dalam istilah kerennya adalah guru jaman now. Label guru jaman now ini tentu dituntut untuk menguasai IT dengan baik supaya tidak ketinggalan jaman. Selain itu banyak siswa sekarang yang menggunakan media IT untuk bersosialisasi, tentu kita harus bisa mengimbangi perkembangan siswa. Dengan media yang berbasis IT, kita bisa lebih dekat dengan siswa kita. Serasa tak ada penghalang untuk berkomunikasi yang positif ketika di luar proses pembelajaran. Dengan kita memahami dunia siswa, kita akan mudah memantau dan mengarahkan serta memudahkan para siswa untuk berkomunikasi kepada kita. Bagaimanapun guru merupakan orang tua bagi siswa. Sikap keterbukaan pada guru akan membuat siswa semakin nyaman dan menganggap guru sebagai sahabat, sebagai teman berbagi, sebagai contoh dan teladan, serta menjadi pembimbing yang baik. Kalau istilah sekarang sering disebut dengansistem among. Kondisi nyaman ini akan menghasilkan komunikasi yang positif antara guru dan siswa. Dengan demikian masalah siswa akan bisa terselesaikan sedikit demi sedikit.

Selain itu, dimasa sekarang guru itu anti kekerasan. Say no to bullying. Pembelajaran akan lebih nyaman dan bermakna tanpa ada kekerasan fisik maupun psikis. Siswa akan lebih nyaman dan ceria saat menerima pembelajran yang kita sampaikan. Banyak orang yang mengeluh karena siswa susah diatur dan suka mondar-mandir sendiri. Kita dapat mengatasinya dengan menciptakan iklim belajar yang lebih menarik dan menyenangkan. Ketika siswa antusias maka siswa akan berekspresi yang positif dan lebi bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Mereka akan melakukan kegiatan yang baik sesuai arahan kita. Jika suasana membosankan maka cenderung siswa akan bertindak seenaknya sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita bersama menjadi guru yang aktif, kreatif, dan bersahabat dengan siswa (atau menjadi guru among). Jadi guru kekinian yang tidak ketinggalan jaman. Jadi guru jaman now yang positif. Mari bersama-sama melawan kekerasan terhadap anak. Ajarkan pada siswa-siswi kita perdamaian dan rasa saling menghargai. Sesuai dengan selogan pendidikan yang di cetuskan oleh Ki Hajar Dewantara “ Ing ngarso sung tuladha, Ing madyo mangun karso, Tutwuri handayani”.

Saat kita mampu menjadi seorang guru yang bias menjadi teladan baik bagi siswa, selalu memberikan semangat dan penguatan positif kepada siswa akan membuat kita terkenang didalam disi siswa kita. Kita akan selalu dirindukan ketika kita tidak ada. Menjadi guru yang dirindukan bukanlah hal yang mudah. Namun jika kita bias memahami siswa pasti kita akan bias mendapatkan hatinya. Disitulah guru akan menjadi guru yang dirindukan. Saat menjadi guru yang dirindukan siswanya, seorang guru tidak boleh lengah, namun harus terus berkarya, belajar, dan selalu berinovasi. Hal ini perlu melakukan kolaborasi dengan teman guru atau dengan pihak lain yang sifatnya mendukung. Perlu dingat oleh seorang guru, jadikan siswa kita sesuai kodratnya, mereka berhak bahagia dan berhak mendapatkan kemerdekaan saat belajar.

Kamis, 02 Februari 2023

MENCIPTAKAN KENYAMANAN BELAJAR SISWA DENGAN KELAS MINIMALIS

 Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.


Siapa yang tidak suka kalau kelasnya rapi, bersih, dan terlihat menarik? Memiliki kelas yang bagus dan menarik sangatlah menjadi idaman setiap siswa dan guru. Namun kita sering menjumpai kelas yang berantakan, hiasan kelas miring, tak beraturan, kusam dantidak enak dipandang mata. Banyak faktor yang membuat kelas menjadi tidak sedap dipandang mata. Apalagi banyak barang yang tidak terpakai menumpuk dibelakang atau samping kelas, Bahkan di lemari kelas sangat berantakan, buku-buku berdebu dan tertumpuk tidak beraturan. Menambah ketidak nyamanan siswa dan guru saat melakukan pembelajaran. Apalagi kelas merupakan tempat belajar dan juga banyak yang menyebutnya sebagai lingkungan belajar fisik. Ketika lingkungan belajar tidak nyaman maka akan berpengaruh terhadap hasil belajar dan semangat saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Tempat dan lingkungan belajar yang nyaman memudahkan peserta didik untuk berkonsentrasi. Dengan mempersiapkan lingkungan yang tepat, peserta didik akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan dapat menikmati proses belajar yang siswa lakukan. Berbicara tentang lingkungan belajar berikut beberapa pengertian lingkungan belajar menurut para ahli. Menurut Hutabarat (1986) lingkungan belajar ialah segala sesuatu yang terdapat di tempat belajar. Sedang Nasution (1993), lingkungan belajar yaitu lingkungan alami dan lingkungan sosial. Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembaban udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud manusia dan representatifnya maupun berwujud hal-hal lain. Prestasi belajar itu salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan belajar. Menurut Dunn dan Dunn (dalam Mudhofir, 1999) kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, pencerapan, dan penerimaan informasi. Senada dengan hal di atas Rachman (1998/1999) menyatakan lingkungan fisik tembat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa lingkungan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar.

Menata lingkungan belajar (Kelas) pada hakekatnya melakukan pengelolaan lingkungan belajar. Aktivitas pembelajar dalam menata lingkungan belajar lebih terkonsentrasi pada pengelolaan lingkungan belajar di dalam kelas. Oleh karena itu pembelajar/guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar di kelas tiada lain melakukan aktivitas pengelolaan kelas atau manajemen kelas (classroom management). Menurut Rianto (2007:1), pengelolaan kelas merupakan upaya pendidik untuk menciptakan dan mengendalikan kondisi belajar serta memulihkannya apabila terjadi gangguan dan/atau penyimpangan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. Optimalisasi proses pembelajaran menunjukan bahwa keterlaksanaan serangkaian kegiatan pembelajaran (instructional activities) yang sengaja direkayasa oleh pendidik dapat berlangsung secara efektif dan efisien dalam memfasilitasi peserta didik sampai dapat meraih hasil belajar sesuai harapan. Hal ini dimungkinkan, karena berbagai macam bentuk interaksi yang terbangun memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar (learning experiences) dalam rangka menumbuh-kembangkan kemampuannya (kompetensi), yaitu spiritual, mental: intelektual, emosional, sosial, dan fisik (indera) atau kognitif, afektif, dan psikomotorik. Indra Djati Sidi (2005:148–150), menegaskan dalam menata lingkungan belajar di kelas yang menarik minat dan menunjang peserta didik dalam pembelajaran erat kaitannya dengan keadaan lingkungan fisik kelas, pengaturan ruangan, pengelolaan peserta didik dan pemanfaatan sumber belajar, pajangan kelas, dan lain sebagainya.” Oleh karena itu dapat ditegaskan lebih lanjut bahwa secara fisik lingkungan belajar harus menarik dan mampu membangkitkan gairah belajar serta menghadirkan suasana yang nyaman untuk belajar. Kelas belajar harus bersih, tempat duduk ditata sedemikian rupa agar anak bisa melakukan aktivitas belajar dengan bebas. Dinding kelas dicat berwarna sejuk, terpampang gambar-gambar atau foto yang mendukung kegiatan belajar seperti gambar pahlawan, lambang negara, presiden dan wakil presiden, kebersihan lingkungan, famlet narkoba, ajakan berliterasi dan sebagainya.

Salah satu aspek penting keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh pembelajar/guru menurut Muhammad Saroni (2006:81-82), adalah penciptaan kondisi pembelajaran yang efektif. Kondisi pembelajaran efektif adalah kondisi yang benar-benar kondusif, kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta kelangsungan proses pembelajaran. Indra Djati Sidi (1996) dalam Cope (No. 02 tahun VI Desember 2002 : 36), menegaskan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, setiap pembelajar harus dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, suasana interaksi pembelajaran yang hidup, mengembangkan media yang sesuai, memanfaatkan sumber belajar yang sesuai, memotivasi siswa  untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dan lingkungan belajar di kelas yang kondusif. Agar pembelajaran benar-benar kondusif maka pembelajar mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan kondisi pembelajaran tersebut. Di antara yang dapat diciptakan pembelajar untuk kondisi tersebut adalah penciptaan lingkungan belajar. Lingkungan belajar menurut Muhammad Saroni (2006:82-84), adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Lingkungan ini mencakup dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial, kedua aspek lingkungan tersebut dalam proses pembelajaran haruslah saling mendukung, sehingga peserta didik merasa kerasan di sekolah dan mau mengikuti proses pembelajaran secara sadar dan bukan karena tekanan ataupun keterpaksaan.

Berbagai penelitian lingkungan belajar di atas dapat bahwa lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Dengan demikian lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar. Selanjutanya lingkungan belajar dapat dilihat dari interaksi pembelajaran yang merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar, dan dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Menurut I Made Alit Mariana (2005:13), lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi untuk kesuksesan seluruh peserta didik. Lingkungan tersebut mengacu pada ruang secara fisik tempat belajar, lingkungan sosial dan psikologi peserta didik yang mendorong belajar, perlakuan dan etika dalam menggunakan makhluk hidup, dan keamanan (dalam area belajar yang berhubungan dengan pembelajaran sains). Berdasarkan uraian pendapat tentang lingkungan belajar tersebut di atas maka dapat disarikan bahwa lingkungan belajar yang dikelola adalah terutama bagaimana mengemas suasana kelas belajar, kelas belajarnya, dan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah ataupun yang dapat diadakan dari dibuat/alam lingkungan sekolah. Lingkungan belajar dalam hal terutama di kelas adalah sesuatu yang diupayakan atau diciptakan oleh guru agar proses pembelajaran kondusif dapat mencapai tujuan pembelajaran yang semestinya. Lingkungan belajar di kelas sebagai situasi buatan yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau konteks terjadinya pengalaman belajar, dapat diklasifikasikan yang menyangkut : 1) lingkungan (keadaan) fisik, dan 2) lingkungan sosial.

Dengan demikian lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar. Selanjutanya lingkungan belajar dapat dilihat dari interaksi dalam proses pembelajaran yang merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar, dan dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik. Menurut Muhammad Saroni (2006:82-83), yang intinya bahwa lingkungan fisik adalah lingkungan yang memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan. Lingkungan fisik ini meliputi saran prasarana pembelajaran yang dimiliki sekolah seperti lampu, ventilasi, bangku, dan tempat duduk yang sesuai untuk peserta didik, dan lain sebagainya. Hal yang senada Suprayekti (2003:18), juga menegaskan bahwa “lingkungan fisik yaitu lingkungan yang ada di sekitar peserta didik baik itu di kelas, sekolah, atau di luar sekolah yang perlu di optimalkan pegelolaannya agar interaksi belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Artinya lingkungan fisik dapat difungsikan sebagai sumber atau tempat belajar yang direncanakan atau dimanfaatkan. Yang termasuk lingkungan fisik tersebut di antanya adalah kelas, laboratorium, tata ruang, situasi fisik yang ada di sekitar kelas, dan sebagainya.”

Dengan demikian lingkungan kelas harus disusun secara minimalis. Mengapa kita harus menciptakan lingkungan kelas yang minimalis? Jawabanya singkat, yaitu untuk memciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan tidak membosankan. Seorang pendidik harus bisa menentukan mana benda yang penting dan harus ada di dalam kelas dan benda yang harus disimpan digudang sekolah. Ingat kelas bukan gudang sekolah, tapi kelas adalah tempat belajar siswa untuk mendapatkan kegiatan pembelajaran yang nyaman dan maksimal. Membuat kelas yang minimalis disini bukan diartikan kelas yang kecil dan sempit. Kelas minimalis adalah kelas yang menjadikelas yang sebenarnya, bukan kelas merangkap dengan gudang sekolah. Untuk menciptakan kelas minimalis pembelajar/guru menempatkan pajangan kelas yang sesuai kebutuhan, menata administrasi kelas ditempat yang tepat, serta buku-buku kelas ditata dengan rapi. Jika kelas tertata rapid an mempunyai pajangan yang menarik akan membuat kelas nyaman dan terlihat elegan. Dengan kelas minimalis ini akan tercipta kegiatan pembelajaran yang nyaman dan dapat membuat siswa semakin kerasan dalam kegiatan pembelajran. Ketika siswa nyaman, imbasnya konsentrasi belajar meningkat dan hasil belajar juga meningkat. Ayo bapak ibu guru pendidik hebat, kita buat kelas yang minimalis.

Rabu, 01 Februari 2023

KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA SEBAGAI DASAR MERDEKA BELAJAR

 

Siapa yang tidak kenal dengan  Ki Hajar Dewantara?

Ki Hajar Dewantara kita kenal sebagai pahlawan pendidikan Indonesia, bahkan ia mendapat julukan sebagai Bapak Pendidikan. Melalui buah pemikirannya, Ki Hajar Dewantara berpendapat jika pendidikan adalah serangkaian proses untuk memanusiakan manusia. 

Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara didasarkan pada asas kemerdekaan, memiliki arti bahwa manusia diberi kebebasan dari Tuhan yang Maha Esa untuk mengatur kehidupannya dengan tetap sejalan dengan aturan yang ada di masyarakat. Maka dari hal itu, diharapkan seorang peserta didik harus memiliki jiwa merdeka dalam artian merdeka secara lahir dan batin serta tenaganya. 

Jiwa yang merdeka sangat diperlukan sepanjang zaman agar bangsa Indonesia tidak didikte oleh negara lain. Ki Hadjar Dewantara memiliki istilah sistem among, Adapun sistem among yang sering kita kenal dengan “Ing ngarso sungtulodho, Ing madyo mangun karso, dan tutwuri handayani”. Dengan konsep sistemamong ini melarang adanya hukuman dan paksaan kepada anak didik karena akan mematikan jiwa merdeka serta mematikan kreativitasnya. Dalam konsem sistem among pendidik dituntut dapat memberikan contoh atau sebagai teladan, menjadi penguat atau selalumemberikan penguatan dan yang terakhir memberikan dorongan, atau memberikan motivasi.

Melihat berbagai hal tersebut tentunya sesuai dengan program pendidikan yang diusung Indonesia saat ini, yakni sebuah program kebijakan Merdeka Belajar. Merdeka Belajar adalah program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan teknologi Nadiem Anwar Makarim. 

Esensi kemerdekaan berpikir harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Merdeka Belajar diharapkan dapat memperbaiki proses belajar mengajar agar dapat berdampak baik dalam aspek kehidupan. Mulai dari aspek fisik, mental, jasmani dan rohani dalam dunia pendidikan. 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara perihal merdeka belajar selaras pula dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 terkait mencerdaskan bangsa. Mencerdaskan bangsa bukan berarti mencerdaskan individu, namun menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan hidup dan penghidupan rakyat Indonesia. 

Kemerdekaan merupakan salah satu yang bisa menggambarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Terdapat satu hal dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara yang harus digaris bawahi, yaitu tentang trisentris pendidikan. Trikonsentris pendidikan, yakni keluarga, perguruan, dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh dalam pendidikan.

 

“pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk kehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai manusia seutuhnya)”

Selasa, 24 Januari 2023

ORANG TUA DAN GURU HARUS BALANCE DALAM MENDIDIK

 Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.


Sering kita dengar di masyarakat tentang curhatan atau mungkin obrolan orang tua siswa dan guru tentang perkembangan siswa. Banyak orang tua atau gurunya junga mengeluh siswa yang belum bisa sesuai dengan keinginan yang diharapkan. Fenomena Ini kita jumpai di beberapa tempat atau disekitar kita sendiri. Bahkan ada juga orang tua siswa yang tidak mau tahu tentang anaknya, yang penting sekolah hasil belakangan. Ada juga yang ingin anaknya sekolah harus pinter dan orang tua tidak mau tahu dan tidak mau ikut partisipasi dalam mendidiknya. Fenomena di lapangan sanagat beragam dan permasalahan-permasalahan seolah-olah merupakan kesalahan sekolah yang gagal menerapkan kurikulum atau mungkin ada permasalahan yang lainnya. Hal ini tidak bias kita pungkiri, karena setiap wali siswa memiliki keinginan dan harapan yang berbeda-beda.

Dari permasalah tersebut, kita tidak boleh saling menyalahkan atau mungkin mengambil titik aman untuk melindungi diri atau mencari kebenaran diri. Permasalah kurang maksimalnya Pendidikan kita ini perlu kita carikan solusi bersama. Pertanyaannya “siapa sih yang memiliki kewajiban mendidik?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada sebuah cerita untuk kita jadikan ilustrasi dan juga kita jadikan pandangan untuk memahami tugas mendidik. Ada seorang kepala sekolah yang sedang diajak seorang profesor ke Jepang. Disana, kepala sekolah tersebut diajak berkunjung ke Johoku Shougakku (nama sebuah daerah di Jepang). Disana kepala sekolah tersebut dipertemukan dengan seorang wali siswa. Wali siswa tersebut menjelaskan secara detail kepada kepala sekolah tersebut tentang peran orang tua dalam mendidik anaknya. Untuk menunjang kesuksesan anaknya Ketika belajar di sekolah dari mulai SD sampai SMA. Anaknya di rumah mendapat tugas membersihkan prabot, membersihkan tempat tidur, dan bahkan di sekolah, selain membersihkan kelas juga membersihkan toilet. Hal ini sama juga dilakukan anaknya ketika di rumah. Kegiatan yang hampir sama dilakukan seorang anak. Kegiatan ini merupakan penanaman karakter yang balance antara di sekolah dan di rumah. Beberapa orang menyebutnya penanaman karakter yang bergayung sambut antara kegiatan di rumah dan di sekolah.

Tugas mendidik paling tidak dapat kita gunakan untuk memeratakan empat ruang lingkup, yaitu orang tua, lingkungan, sekolah, dan masyarakat yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan dan saling terkait erat. Orang tua berperan utama yang dapat meneladani, mendidik, membentuk prilaku, dan menciptakan pembiasaan. Sekolah adalah sarana proses penanaman belajar yang dapat membentuk kepribadian yang berkarakter. Sedangkan lingkungan dan masyarakat berkontribusi mewarnai tatanan nila, maka dengan mudah mereka menyerapnya untuk terpancar dalam prilaku kehidupan mereka sehari-hari.

Secara makro orang tua harus berperan untuk memberi sumbangsih terhadap pertumbuhan peradaban sekolah. Orang tua adalah mitra sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang ideal. Sekolah tidak dapat berpikir sendiri untuk menumbuhkan peradaban yang terdidik, dan orang tua berperan untuk menguatkan program sekolah, sehingga terwujud kerjasama yang baik dan berimbang (Balance). Sekolah maju dimanapun itu pasti melibatkan orang tua sebagai mitra. Tidak ada kemajuan sekola tanpa keterlibatan partisipasi aktif dari orang tua. Dengan hal ini, sistem komunikasi aktif antara orang tua dan sekolah harus dibangun sedemikian rupa. Melalui wali kelas atau melalui paguyuban sekolah. Dengan begini, komunikasi antara sekolah dengan orang tua akan bisa tersambung secara terus menerus.

Begitu juga dalam mendidik siswa, saat kebiasaan baik sudah diterapkan di dalam kelas, seorang guru harus mengkomunikasikan juga dengan orang tua siswa, supaya kebiasaan baik itu juga dilaksanakan siswa di rumah dengan pantauan orang tua. Dengan kata lain, dalam kaitan mendidik karakter memang tidak bias sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Karena karakter terbangun dengan kebiasaan yang terus menerus, hal ini bisa kita lakukan secara seimbang (Balance) antara pendidikan karakter di sekolah dan di rumah.