Kamis, 02 Februari 2023

MENCIPTAKAN KENYAMANAN BELAJAR SISWA DENGAN KELAS MINIMALIS

 Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.


Siapa yang tidak suka kalau kelasnya rapi, bersih, dan terlihat menarik? Memiliki kelas yang bagus dan menarik sangatlah menjadi idaman setiap siswa dan guru. Namun kita sering menjumpai kelas yang berantakan, hiasan kelas miring, tak beraturan, kusam dantidak enak dipandang mata. Banyak faktor yang membuat kelas menjadi tidak sedap dipandang mata. Apalagi banyak barang yang tidak terpakai menumpuk dibelakang atau samping kelas, Bahkan di lemari kelas sangat berantakan, buku-buku berdebu dan tertumpuk tidak beraturan. Menambah ketidak nyamanan siswa dan guru saat melakukan pembelajaran. Apalagi kelas merupakan tempat belajar dan juga banyak yang menyebutnya sebagai lingkungan belajar fisik. Ketika lingkungan belajar tidak nyaman maka akan berpengaruh terhadap hasil belajar dan semangat saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Tempat dan lingkungan belajar yang nyaman memudahkan peserta didik untuk berkonsentrasi. Dengan mempersiapkan lingkungan yang tepat, peserta didik akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan dapat menikmati proses belajar yang siswa lakukan. Berbicara tentang lingkungan belajar berikut beberapa pengertian lingkungan belajar menurut para ahli. Menurut Hutabarat (1986) lingkungan belajar ialah segala sesuatu yang terdapat di tempat belajar. Sedang Nasution (1993), lingkungan belajar yaitu lingkungan alami dan lingkungan sosial. Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembaban udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud manusia dan representatifnya maupun berwujud hal-hal lain. Prestasi belajar itu salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan belajar. Menurut Dunn dan Dunn (dalam Mudhofir, 1999) kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, pencerapan, dan penerimaan informasi. Senada dengan hal di atas Rachman (1998/1999) menyatakan lingkungan fisik tembat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa lingkungan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar.

Menata lingkungan belajar (Kelas) pada hakekatnya melakukan pengelolaan lingkungan belajar. Aktivitas pembelajar dalam menata lingkungan belajar lebih terkonsentrasi pada pengelolaan lingkungan belajar di dalam kelas. Oleh karena itu pembelajar/guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar di kelas tiada lain melakukan aktivitas pengelolaan kelas atau manajemen kelas (classroom management). Menurut Rianto (2007:1), pengelolaan kelas merupakan upaya pendidik untuk menciptakan dan mengendalikan kondisi belajar serta memulihkannya apabila terjadi gangguan dan/atau penyimpangan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. Optimalisasi proses pembelajaran menunjukan bahwa keterlaksanaan serangkaian kegiatan pembelajaran (instructional activities) yang sengaja direkayasa oleh pendidik dapat berlangsung secara efektif dan efisien dalam memfasilitasi peserta didik sampai dapat meraih hasil belajar sesuai harapan. Hal ini dimungkinkan, karena berbagai macam bentuk interaksi yang terbangun memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar (learning experiences) dalam rangka menumbuh-kembangkan kemampuannya (kompetensi), yaitu spiritual, mental: intelektual, emosional, sosial, dan fisik (indera) atau kognitif, afektif, dan psikomotorik. Indra Djati Sidi (2005:148–150), menegaskan dalam menata lingkungan belajar di kelas yang menarik minat dan menunjang peserta didik dalam pembelajaran erat kaitannya dengan keadaan lingkungan fisik kelas, pengaturan ruangan, pengelolaan peserta didik dan pemanfaatan sumber belajar, pajangan kelas, dan lain sebagainya.” Oleh karena itu dapat ditegaskan lebih lanjut bahwa secara fisik lingkungan belajar harus menarik dan mampu membangkitkan gairah belajar serta menghadirkan suasana yang nyaman untuk belajar. Kelas belajar harus bersih, tempat duduk ditata sedemikian rupa agar anak bisa melakukan aktivitas belajar dengan bebas. Dinding kelas dicat berwarna sejuk, terpampang gambar-gambar atau foto yang mendukung kegiatan belajar seperti gambar pahlawan, lambang negara, presiden dan wakil presiden, kebersihan lingkungan, famlet narkoba, ajakan berliterasi dan sebagainya.

Salah satu aspek penting keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh pembelajar/guru menurut Muhammad Saroni (2006:81-82), adalah penciptaan kondisi pembelajaran yang efektif. Kondisi pembelajaran efektif adalah kondisi yang benar-benar kondusif, kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta kelangsungan proses pembelajaran. Indra Djati Sidi (1996) dalam Cope (No. 02 tahun VI Desember 2002 : 36), menegaskan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, setiap pembelajar harus dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, suasana interaksi pembelajaran yang hidup, mengembangkan media yang sesuai, memanfaatkan sumber belajar yang sesuai, memotivasi siswa  untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dan lingkungan belajar di kelas yang kondusif. Agar pembelajaran benar-benar kondusif maka pembelajar mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan kondisi pembelajaran tersebut. Di antara yang dapat diciptakan pembelajar untuk kondisi tersebut adalah penciptaan lingkungan belajar. Lingkungan belajar menurut Muhammad Saroni (2006:82-84), adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Lingkungan ini mencakup dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial, kedua aspek lingkungan tersebut dalam proses pembelajaran haruslah saling mendukung, sehingga peserta didik merasa kerasan di sekolah dan mau mengikuti proses pembelajaran secara sadar dan bukan karena tekanan ataupun keterpaksaan.

Berbagai penelitian lingkungan belajar di atas dapat bahwa lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Dengan demikian lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar. Selanjutanya lingkungan belajar dapat dilihat dari interaksi pembelajaran yang merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar, dan dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Menurut I Made Alit Mariana (2005:13), lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi untuk kesuksesan seluruh peserta didik. Lingkungan tersebut mengacu pada ruang secara fisik tempat belajar, lingkungan sosial dan psikologi peserta didik yang mendorong belajar, perlakuan dan etika dalam menggunakan makhluk hidup, dan keamanan (dalam area belajar yang berhubungan dengan pembelajaran sains). Berdasarkan uraian pendapat tentang lingkungan belajar tersebut di atas maka dapat disarikan bahwa lingkungan belajar yang dikelola adalah terutama bagaimana mengemas suasana kelas belajar, kelas belajarnya, dan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah ataupun yang dapat diadakan dari dibuat/alam lingkungan sekolah. Lingkungan belajar dalam hal terutama di kelas adalah sesuatu yang diupayakan atau diciptakan oleh guru agar proses pembelajaran kondusif dapat mencapai tujuan pembelajaran yang semestinya. Lingkungan belajar di kelas sebagai situasi buatan yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau konteks terjadinya pengalaman belajar, dapat diklasifikasikan yang menyangkut : 1) lingkungan (keadaan) fisik, dan 2) lingkungan sosial.

Dengan demikian lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar. Selanjutanya lingkungan belajar dapat dilihat dari interaksi dalam proses pembelajaran yang merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar, dan dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik. Menurut Muhammad Saroni (2006:82-83), yang intinya bahwa lingkungan fisik adalah lingkungan yang memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan. Lingkungan fisik ini meliputi saran prasarana pembelajaran yang dimiliki sekolah seperti lampu, ventilasi, bangku, dan tempat duduk yang sesuai untuk peserta didik, dan lain sebagainya. Hal yang senada Suprayekti (2003:18), juga menegaskan bahwa “lingkungan fisik yaitu lingkungan yang ada di sekitar peserta didik baik itu di kelas, sekolah, atau di luar sekolah yang perlu di optimalkan pegelolaannya agar interaksi belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Artinya lingkungan fisik dapat difungsikan sebagai sumber atau tempat belajar yang direncanakan atau dimanfaatkan. Yang termasuk lingkungan fisik tersebut di antanya adalah kelas, laboratorium, tata ruang, situasi fisik yang ada di sekitar kelas, dan sebagainya.”

Dengan demikian lingkungan kelas harus disusun secara minimalis. Mengapa kita harus menciptakan lingkungan kelas yang minimalis? Jawabanya singkat, yaitu untuk memciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan tidak membosankan. Seorang pendidik harus bisa menentukan mana benda yang penting dan harus ada di dalam kelas dan benda yang harus disimpan digudang sekolah. Ingat kelas bukan gudang sekolah, tapi kelas adalah tempat belajar siswa untuk mendapatkan kegiatan pembelajaran yang nyaman dan maksimal. Membuat kelas yang minimalis disini bukan diartikan kelas yang kecil dan sempit. Kelas minimalis adalah kelas yang menjadikelas yang sebenarnya, bukan kelas merangkap dengan gudang sekolah. Untuk menciptakan kelas minimalis pembelajar/guru menempatkan pajangan kelas yang sesuai kebutuhan, menata administrasi kelas ditempat yang tepat, serta buku-buku kelas ditata dengan rapi. Jika kelas tertata rapid an mempunyai pajangan yang menarik akan membuat kelas nyaman dan terlihat elegan. Dengan kelas minimalis ini akan tercipta kegiatan pembelajaran yang nyaman dan dapat membuat siswa semakin kerasan dalam kegiatan pembelajran. Ketika siswa nyaman, imbasnya konsentrasi belajar meningkat dan hasil belajar juga meningkat. Ayo bapak ibu guru pendidik hebat, kita buat kelas yang minimalis.

0 comments:

Posting Komentar