Selasa, 24 Januari 2023

ORANG TUA DAN GURU HARUS BALANCE DALAM MENDIDIK

 Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.


Sering kita dengar di masyarakat tentang curhatan atau mungkin obrolan orang tua siswa dan guru tentang perkembangan siswa. Banyak orang tua atau gurunya junga mengeluh siswa yang belum bisa sesuai dengan keinginan yang diharapkan. Fenomena Ini kita jumpai di beberapa tempat atau disekitar kita sendiri. Bahkan ada juga orang tua siswa yang tidak mau tahu tentang anaknya, yang penting sekolah hasil belakangan. Ada juga yang ingin anaknya sekolah harus pinter dan orang tua tidak mau tahu dan tidak mau ikut partisipasi dalam mendidiknya. Fenomena di lapangan sanagat beragam dan permasalahan-permasalahan seolah-olah merupakan kesalahan sekolah yang gagal menerapkan kurikulum atau mungkin ada permasalahan yang lainnya. Hal ini tidak bias kita pungkiri, karena setiap wali siswa memiliki keinginan dan harapan yang berbeda-beda.

Dari permasalah tersebut, kita tidak boleh saling menyalahkan atau mungkin mengambil titik aman untuk melindungi diri atau mencari kebenaran diri. Permasalah kurang maksimalnya Pendidikan kita ini perlu kita carikan solusi bersama. Pertanyaannya “siapa sih yang memiliki kewajiban mendidik?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada sebuah cerita untuk kita jadikan ilustrasi dan juga kita jadikan pandangan untuk memahami tugas mendidik. Ada seorang kepala sekolah yang sedang diajak seorang profesor ke Jepang. Disana, kepala sekolah tersebut diajak berkunjung ke Johoku Shougakku (nama sebuah daerah di Jepang). Disana kepala sekolah tersebut dipertemukan dengan seorang wali siswa. Wali siswa tersebut menjelaskan secara detail kepada kepala sekolah tersebut tentang peran orang tua dalam mendidik anaknya. Untuk menunjang kesuksesan anaknya Ketika belajar di sekolah dari mulai SD sampai SMA. Anaknya di rumah mendapat tugas membersihkan prabot, membersihkan tempat tidur, dan bahkan di sekolah, selain membersihkan kelas juga membersihkan toilet. Hal ini sama juga dilakukan anaknya ketika di rumah. Kegiatan yang hampir sama dilakukan seorang anak. Kegiatan ini merupakan penanaman karakter yang balance antara di sekolah dan di rumah. Beberapa orang menyebutnya penanaman karakter yang bergayung sambut antara kegiatan di rumah dan di sekolah.

Tugas mendidik paling tidak dapat kita gunakan untuk memeratakan empat ruang lingkup, yaitu orang tua, lingkungan, sekolah, dan masyarakat yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan dan saling terkait erat. Orang tua berperan utama yang dapat meneladani, mendidik, membentuk prilaku, dan menciptakan pembiasaan. Sekolah adalah sarana proses penanaman belajar yang dapat membentuk kepribadian yang berkarakter. Sedangkan lingkungan dan masyarakat berkontribusi mewarnai tatanan nila, maka dengan mudah mereka menyerapnya untuk terpancar dalam prilaku kehidupan mereka sehari-hari.

Secara makro orang tua harus berperan untuk memberi sumbangsih terhadap pertumbuhan peradaban sekolah. Orang tua adalah mitra sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang ideal. Sekolah tidak dapat berpikir sendiri untuk menumbuhkan peradaban yang terdidik, dan orang tua berperan untuk menguatkan program sekolah, sehingga terwujud kerjasama yang baik dan berimbang (Balance). Sekolah maju dimanapun itu pasti melibatkan orang tua sebagai mitra. Tidak ada kemajuan sekola tanpa keterlibatan partisipasi aktif dari orang tua. Dengan hal ini, sistem komunikasi aktif antara orang tua dan sekolah harus dibangun sedemikian rupa. Melalui wali kelas atau melalui paguyuban sekolah. Dengan begini, komunikasi antara sekolah dengan orang tua akan bisa tersambung secara terus menerus.

Begitu juga dalam mendidik siswa, saat kebiasaan baik sudah diterapkan di dalam kelas, seorang guru harus mengkomunikasikan juga dengan orang tua siswa, supaya kebiasaan baik itu juga dilaksanakan siswa di rumah dengan pantauan orang tua. Dengan kata lain, dalam kaitan mendidik karakter memang tidak bias sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Karena karakter terbangun dengan kebiasaan yang terus menerus, hal ini bisa kita lakukan secara seimbang (Balance) antara pendidikan karakter di sekolah dan di rumah.

0 comments:

Posting Komentar