HABIT POSITIF SISWA DAN GURU
Oleh: Mustafa Kamal Ali
Di
tahun ini kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah sudah mulai aktif
seperti biasanya. Kegiatan pembelajaran sudah mulai dengan kegiatan tatap muka,
atau belajar di kelas. Kegiatan belajar daring atau melalui media virtual hanya
menjadi kegiatan pendamping. Setelah kegiatan daring selama masa
pandemi covid-19 memiliki banyak dampak pada siswa dan guru. Banyak beberapa
nilai dan habit sekolah yang luntur.
Sering kita jumpai di sekolah-sekolah serasa ada yang berbeda dari masa
sebelum pandemi dan masa setelah pandemi ini. Selain siswa guru-gurupun mulai
harus membiasakan habit positif yang dulu sudah berjalan baik. Sebenarnya tanpa adanya masa pandemi di tahun 2019 s/d 2022 masih banyak sekolah yang belum sempurna dalam menanamkan nilai dan habit positif terhadap guru dan siswa. Hal ini mengakibatkan hasil output dari sekolah dirasa kurang memuaskan dimata pasar pendidikan.
Banyak
sekali habit positif yang mengalami degradasi setelah masa pandemi dan juga beberapa sekolah memang belum sepenuhnya menanamkan habit positif. Seperti
habit menjaga kebersihan sekolah, habit kedisiplinan, habit budaya literasi,
dan juga habit penanaman kesopanan. Pada awal masuk sekolah Nampak siswa
keberatan jika harus membersikan kelas, dating tepat waktu, dan juga ada yang
menggunakan bahasa yang didak cocok digunakan dilingkungan pendidikan. Hal ini
dipengaruhi habit siswa di rumah yang kurang melaksanakan habit positif. Selain
itu dipengaruhi dengan kemajuan teknologi yang cepat tanpa adanya control dari
orang tua dan guru. Hal ini sangatlah memperihatinkan bagi kita selaku orang
yang berkecipung di dunia pendidikan. Mengingat siswa adalah subjek dan objek
penyelesaian dalam permasalah ini.
Siswa
sebagai subjek dan objek pembelajaran harus ditanamkan nilai-nilai habit yang
dapat membentuk kepribadian mereka. Habit hidup bersih bagi siswa harus
tertanam sejak di sekolah yang menjadi kesadaran hidup sehari-hari sampai di rumah.
Menekankan habit hidup bersih sangatlah penting, karena hal ini akan membentuk
keteraturan diri yang peduli terhadap lingkungan. Disiplin diri juga tidak
kalah pentingnya menjadi tanggung jawab sekolah. Hal ini harus diperkuat oleh
gerakan sistem yang membentuk keteladanan kolektif di lingkungan sekolah. Tidak
ada ruang toleransi untuk mengabaikan ruang disiplin di sekolah.
Guru,
siswa dan semua warga sekolah secara kolektif ikut proaktif membentuk habit
siswa yang positif. Dalam proses pembelajaran siswa harus ditanamkan
nilai-nilai (core value) untuk
membangun komitmen belajar. Sebelum mengikuti belajar formal di sekolah, ada
proses penanaman nilai-nilai habit yang diinternalisasi oleh warga sekolah,
seperti habit hidup bersih, pembiasaan literasi membaca, disiplin, praktek
keagamaan (nilai-nilai religiusitas), praktek penanaman kesopanan, dan komitmen
norma untuk menjaga kesadaran keberlangsungan belajar.
Habit menjaga kebersihan di sekolah kadang menjadi hal yang disepelehkan, namun sebenarnya habit ini sangatlah penting. Sebenarnya setiap guru sudah sering mengajarkan atau sering juga mengingatkan kepada siswanya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Namunbiasanya hal ini kurang sempurna jika tidak di iringi dengan aksinyata seorang guru dalam mendampingi kegiatan siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan. hal ini bisa dikatakan belum bisa maksimal jika dihadapkan disekolah dasar, mengingan figur guru sangatlah penting sebagai teladan bagi siswanya. Selain itu kondisi siswa disekolah dasar sangatlah butuh pendampingan dan pengarahan secara baik. Guru harus selalu mengontrol dan mengingatkan siswa bahkan harus memberikan contoh riil. Kadang ada yang terlupakan seperti mengecek sampah saat pulang sekolah atau istirahat. Biasanya hanya menyapu lantai padahal banyak sudut yang perlu disentuh kebersihannya sepertijendela rak buku dan lain sebagainya. Mungkin kita sering menjumpai meja kursi di kelas yang penuh dengan motif yang tidak asli (penuh coretan). Hal ini menjadikan pemandangan kelas semakin tidak mengenakkan. Oleh karena itu betapa pentingnya seorang guru selalu mengingatkan menjaga kebersihan diseluruh lini kelas.
Habit disiplin merupakan yang paling banyak dilanggar di sekolah-sekolah. Padahal habil disiplin ini merupakan hal terpenting untuk penanaman karakter siswa yang nantinya terbawa kerumah dan masa hidupnya. Jika siswa sudah tidak terbiasa disiplin akan terasa berat jika dihadapkan dalam kehidupan dimasa mendatang saat sudah berkecipung didunia kerja. Habit disiplin ini akan sulit diterapkan disekolah terhadap siswa jika figur seorang guru dan warga sekolah yang dijadikan figur tidak melaksanakannya. Dalam kata lain jika ingin siswa disiplin, guru harus juga disiplin. Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak memberi ruang warga sekolah untuk tidak disiplin.
Habit
literasi sangatlah penting diterapkan di sekolah, karena hal ini dapat
digunakan untuk menjaga atmosfir akademik di sekolah. Minat baca yang lesu
dalam kehidupan sehari-hari atau dilingkungan masyarakat diakibatkan oleh
kegagalan lembaga pendidikan untuk membentuk budaya literasi baca tulis dengan
baik. Indonesia menjadi salah satu Negara yang sulit bersaing dikanca
internasional, hal ini disebabkan oleh sumber daya manusia yang kualitasnya
kurang baik. Hal ini disebabkan karena minat baca masyarakat yang kurang. Oleh
karena itu institusi pendidikan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab
dalam hal peningkatan minat baca masyarakat, yang dimulai dari pembentukan
admosfir akademik di sekolah. Sekolah menjadi garda terdepan dalam menciptakan
admosfir minat baca siswanya.
Habit penanaman kesopan merupakan suatu habit yang sangat penting kita terapkan sejak dini. Karena kesopanan ini sangatlah mudah dinilai oleh setiap orang. Maka, sekolah sangat perlu menanamkan habit ini sejak dini. Dimasa sekarang ini habil kesopanan sangat mengalami degradasi. Hal ini dasebabkan karena pengaruh kemajuan zaman dan juga karena kurangnya pendampingan guru dan orang tua terhadap siswa. Penanaman habit ini sepertinya mudah, namun realitanya sangat sulit. Bagaimana cara penanaman habit ini supaya optimal? Jawabannya sederhana, kita kaji lebih jauh penyebabnya terlebih dahulu. Setelah kita tahu kita akan lebih mudah mengatasi permasalahan ini.
Habit positif bagi siswa dan guru sebenarnya sudah diketahui semua pihak, namun kebanyakan enggan melaksanakannya, karena merasa berat. Atau mungkin merasa acuh dengan kondisi ini, sebagai orang yang berperan aktif didunia pendidikan tidak boleh acuh terhadap degradasi habit positif pada siswa dan guru. Untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini kita perlu lakukan bersama-sama untuk menanamkan habit positif di sekolah dengan sepenuh hati.








0 comments:
Posting Komentar