Jumat, 10 Februari 2023

MENJADI GURU YANG DIRINDUKAN

 Oleh : Mustafa Kamal Ali, S.Pd.

Di dunia pendidikan, guru merupakan ujung tombak dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Hal ini dikarenakan gurulah yang berhubungan langsung dengan siswa. Dikatakan pendidikan itu berhasil ketika siswanya berhasil mencapai target yang sudah ditentukan. Untuk mewujudkan tujuan yang sudah ditetapkan itu, tentu guru memiliki cara dan peran sendiri-sendiri. Kadang ada yang memilih menjadi guru yang ditakuti, ada juga yang menjadi guru yang dirindukan.

Memilih mana, guru yang dirindukan atau guru yang ditakuti?

Dulu kita memandang guru adalah sosok yang ditakuti. Selain itu juga guru merupakan sosok yang galak suka marah, suka menghukum, dan lain sebagainya. Terlintas di pikiran bahwa guru adalah orang yang paling kita takuti di sekolah. Hal ini kita jumpai saat kita menemui guru galak atau guru kiler. Apakah harus demikian seorang guru? “Jawabannya tentu tidak”. Guru galak atau kiler mungkin itu saat kita memandang dari sudut pandang tertentu. Sebenarnya guru galak itu kembali kepada siswanya. Namun juga ada karena kebiasaan yang dilakukan seorang guru, membuat siswa malah takut. Ketika tidak ada guru tersebut siswa merasa legah tenang dan tidak was-was. Namun dulu juga kita dapati guru yang humoris, guru yang penyabar, guru yang berwibawah. Namun kita akan rindu dengan semuanya saat kita sudah tidak berjumpa lagi. Sekarang kita coba menggali tentang guru, Sebenarnya siapa guru itu?

Guru merupakan pendidik, pembimbing, pelatih, dan pengajar atau orang menyalurkan ilmunya kepada siswa. Banyak orang menganggap guru adalah orang yang hanya mengajar dan menyampaikan materi di sekolah. Sehingga banyak orang yang salah penafsiran tentang guru. Selain selain itu dari guru pun ada yang berpandangan bahwa guru adalah hanya sebagai penyampai materi di kelas. Hal ini terbukti bahwasannya banyak guru yang beranggapan yang penting materi di buku diajarkan dan memberikan nilai kepada siswa. Selain itu banyak juga pada saat menyampaikan materi ajar di dalam kelas menganggap siswa itu anak yang tidak tahu apa-apa, kemudian hanya dibacakan materi di buku dan siswa hanya mendengarkan ocehan guru di depan kelas. Ketika ada siswa bicara langsung ditegur, siswa disuruh duduk rapi diam tidak boleh tengak-tengok harus menghadap ke depan. Sehingga suasana kelas tidak membuat siswa nyaman serasa berada di sebuah penjara.

Hal ini akan membuat siswa sangat bosan dan tidak memperhatikan guru saat menjelaskan. Hal tersebut mengakibatkan adanya gep antara guru dan siswa. Keadaan yang demikian ini membuat siswa menjadi jauh dengan guru dan menjadi tidak terbuka saat ada suatu permasalahan yang dihadapi oleh siswa terutama dalam hal pembelajaran. Selain itu siswa menjadi tidak berani menyampaikan apa yang mereka pendam sehingga mengakibatkan masalah-masalah yang dimiliki siswa baik dalam bidang kognitif dan afektif. Hal tersebut mengakibatkan kemampuan yang dimiliki siswa tidak tereksplor. Dampak dari semua itu dapat mempengaruhi kemampuan siswa baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Perlunya menjadi guru yang aktif, kreatif, dan bersahabat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan saat ini, dimasa perkembangan industri digital yang semakit memuncak ini mengharuskan kita lebih ekstra berjuang untuk bersaing dengan negara lain dalam bidang pendidikan. Selain itu, tantangan menghadapi siswa pun semakin beragam. Tentunya kita harus lebih profesional dalam menghadapi segala tantangan di masa ini.

Perlunya guru yang mampu mendalami dunia siswa atau bisa disebut guru kekinian serta dalam istilah kerennya adalah guru jaman now. Label guru jaman now ini tentu dituntut untuk menguasai IT dengan baik supaya tidak ketinggalan jaman. Selain itu banyak siswa sekarang yang menggunakan media IT untuk bersosialisasi, tentu kita harus bisa mengimbangi perkembangan siswa. Dengan media yang berbasis IT, kita bisa lebih dekat dengan siswa kita. Serasa tak ada penghalang untuk berkomunikasi yang positif ketika di luar proses pembelajaran. Dengan kita memahami dunia siswa, kita akan mudah memantau dan mengarahkan serta memudahkan para siswa untuk berkomunikasi kepada kita. Bagaimanapun guru merupakan orang tua bagi siswa. Sikap keterbukaan pada guru akan membuat siswa semakin nyaman dan menganggap guru sebagai sahabat, sebagai teman berbagi, sebagai contoh dan teladan, serta menjadi pembimbing yang baik. Kalau istilah sekarang sering disebut dengansistem among. Kondisi nyaman ini akan menghasilkan komunikasi yang positif antara guru dan siswa. Dengan demikian masalah siswa akan bisa terselesaikan sedikit demi sedikit.

Selain itu, dimasa sekarang guru itu anti kekerasan. Say no to bullying. Pembelajaran akan lebih nyaman dan bermakna tanpa ada kekerasan fisik maupun psikis. Siswa akan lebih nyaman dan ceria saat menerima pembelajran yang kita sampaikan. Banyak orang yang mengeluh karena siswa susah diatur dan suka mondar-mandir sendiri. Kita dapat mengatasinya dengan menciptakan iklim belajar yang lebih menarik dan menyenangkan. Ketika siswa antusias maka siswa akan berekspresi yang positif dan lebi bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Mereka akan melakukan kegiatan yang baik sesuai arahan kita. Jika suasana membosankan maka cenderung siswa akan bertindak seenaknya sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita bersama menjadi guru yang aktif, kreatif, dan bersahabat dengan siswa (atau menjadi guru among). Jadi guru kekinian yang tidak ketinggalan jaman. Jadi guru jaman now yang positif. Mari bersama-sama melawan kekerasan terhadap anak. Ajarkan pada siswa-siswi kita perdamaian dan rasa saling menghargai. Sesuai dengan selogan pendidikan yang di cetuskan oleh Ki Hajar Dewantara “ Ing ngarso sung tuladha, Ing madyo mangun karso, Tutwuri handayani”.

Saat kita mampu menjadi seorang guru yang bias menjadi teladan baik bagi siswa, selalu memberikan semangat dan penguatan positif kepada siswa akan membuat kita terkenang didalam disi siswa kita. Kita akan selalu dirindukan ketika kita tidak ada. Menjadi guru yang dirindukan bukanlah hal yang mudah. Namun jika kita bias memahami siswa pasti kita akan bias mendapatkan hatinya. Disitulah guru akan menjadi guru yang dirindukan. Saat menjadi guru yang dirindukan siswanya, seorang guru tidak boleh lengah, namun harus terus berkarya, belajar, dan selalu berinovasi. Hal ini perlu melakukan kolaborasi dengan teman guru atau dengan pihak lain yang sifatnya mendukung. Perlu dingat oleh seorang guru, jadikan siswa kita sesuai kodratnya, mereka berhak bahagia dan berhak mendapatkan kemerdekaan saat belajar.

Kamis, 02 Februari 2023

MENCIPTAKAN KENYAMANAN BELAJAR SISWA DENGAN KELAS MINIMALIS

 Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.


Siapa yang tidak suka kalau kelasnya rapi, bersih, dan terlihat menarik? Memiliki kelas yang bagus dan menarik sangatlah menjadi idaman setiap siswa dan guru. Namun kita sering menjumpai kelas yang berantakan, hiasan kelas miring, tak beraturan, kusam dantidak enak dipandang mata. Banyak faktor yang membuat kelas menjadi tidak sedap dipandang mata. Apalagi banyak barang yang tidak terpakai menumpuk dibelakang atau samping kelas, Bahkan di lemari kelas sangat berantakan, buku-buku berdebu dan tertumpuk tidak beraturan. Menambah ketidak nyamanan siswa dan guru saat melakukan pembelajaran. Apalagi kelas merupakan tempat belajar dan juga banyak yang menyebutnya sebagai lingkungan belajar fisik. Ketika lingkungan belajar tidak nyaman maka akan berpengaruh terhadap hasil belajar dan semangat saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Tempat dan lingkungan belajar yang nyaman memudahkan peserta didik untuk berkonsentrasi. Dengan mempersiapkan lingkungan yang tepat, peserta didik akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan dapat menikmati proses belajar yang siswa lakukan. Berbicara tentang lingkungan belajar berikut beberapa pengertian lingkungan belajar menurut para ahli. Menurut Hutabarat (1986) lingkungan belajar ialah segala sesuatu yang terdapat di tempat belajar. Sedang Nasution (1993), lingkungan belajar yaitu lingkungan alami dan lingkungan sosial. Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembaban udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud manusia dan representatifnya maupun berwujud hal-hal lain. Prestasi belajar itu salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan belajar. Menurut Dunn dan Dunn (dalam Mudhofir, 1999) kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, pencerapan, dan penerimaan informasi. Senada dengan hal di atas Rachman (1998/1999) menyatakan lingkungan fisik tembat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa lingkungan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar.

Menata lingkungan belajar (Kelas) pada hakekatnya melakukan pengelolaan lingkungan belajar. Aktivitas pembelajar dalam menata lingkungan belajar lebih terkonsentrasi pada pengelolaan lingkungan belajar di dalam kelas. Oleh karena itu pembelajar/guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar di kelas tiada lain melakukan aktivitas pengelolaan kelas atau manajemen kelas (classroom management). Menurut Rianto (2007:1), pengelolaan kelas merupakan upaya pendidik untuk menciptakan dan mengendalikan kondisi belajar serta memulihkannya apabila terjadi gangguan dan/atau penyimpangan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. Optimalisasi proses pembelajaran menunjukan bahwa keterlaksanaan serangkaian kegiatan pembelajaran (instructional activities) yang sengaja direkayasa oleh pendidik dapat berlangsung secara efektif dan efisien dalam memfasilitasi peserta didik sampai dapat meraih hasil belajar sesuai harapan. Hal ini dimungkinkan, karena berbagai macam bentuk interaksi yang terbangun memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar (learning experiences) dalam rangka menumbuh-kembangkan kemampuannya (kompetensi), yaitu spiritual, mental: intelektual, emosional, sosial, dan fisik (indera) atau kognitif, afektif, dan psikomotorik. Indra Djati Sidi (2005:148–150), menegaskan dalam menata lingkungan belajar di kelas yang menarik minat dan menunjang peserta didik dalam pembelajaran erat kaitannya dengan keadaan lingkungan fisik kelas, pengaturan ruangan, pengelolaan peserta didik dan pemanfaatan sumber belajar, pajangan kelas, dan lain sebagainya.” Oleh karena itu dapat ditegaskan lebih lanjut bahwa secara fisik lingkungan belajar harus menarik dan mampu membangkitkan gairah belajar serta menghadirkan suasana yang nyaman untuk belajar. Kelas belajar harus bersih, tempat duduk ditata sedemikian rupa agar anak bisa melakukan aktivitas belajar dengan bebas. Dinding kelas dicat berwarna sejuk, terpampang gambar-gambar atau foto yang mendukung kegiatan belajar seperti gambar pahlawan, lambang negara, presiden dan wakil presiden, kebersihan lingkungan, famlet narkoba, ajakan berliterasi dan sebagainya.

Salah satu aspek penting keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh pembelajar/guru menurut Muhammad Saroni (2006:81-82), adalah penciptaan kondisi pembelajaran yang efektif. Kondisi pembelajaran efektif adalah kondisi yang benar-benar kondusif, kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta kelangsungan proses pembelajaran. Indra Djati Sidi (1996) dalam Cope (No. 02 tahun VI Desember 2002 : 36), menegaskan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, setiap pembelajar harus dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, suasana interaksi pembelajaran yang hidup, mengembangkan media yang sesuai, memanfaatkan sumber belajar yang sesuai, memotivasi siswa  untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dan lingkungan belajar di kelas yang kondusif. Agar pembelajaran benar-benar kondusif maka pembelajar mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan kondisi pembelajaran tersebut. Di antara yang dapat diciptakan pembelajar untuk kondisi tersebut adalah penciptaan lingkungan belajar. Lingkungan belajar menurut Muhammad Saroni (2006:82-84), adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Lingkungan ini mencakup dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial, kedua aspek lingkungan tersebut dalam proses pembelajaran haruslah saling mendukung, sehingga peserta didik merasa kerasan di sekolah dan mau mengikuti proses pembelajaran secara sadar dan bukan karena tekanan ataupun keterpaksaan.

Berbagai penelitian lingkungan belajar di atas dapat bahwa lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Dengan demikian lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar. Selanjutanya lingkungan belajar dapat dilihat dari interaksi pembelajaran yang merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar, dan dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Menurut I Made Alit Mariana (2005:13), lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi untuk kesuksesan seluruh peserta didik. Lingkungan tersebut mengacu pada ruang secara fisik tempat belajar, lingkungan sosial dan psikologi peserta didik yang mendorong belajar, perlakuan dan etika dalam menggunakan makhluk hidup, dan keamanan (dalam area belajar yang berhubungan dengan pembelajaran sains). Berdasarkan uraian pendapat tentang lingkungan belajar tersebut di atas maka dapat disarikan bahwa lingkungan belajar yang dikelola adalah terutama bagaimana mengemas suasana kelas belajar, kelas belajarnya, dan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah ataupun yang dapat diadakan dari dibuat/alam lingkungan sekolah. Lingkungan belajar dalam hal terutama di kelas adalah sesuatu yang diupayakan atau diciptakan oleh guru agar proses pembelajaran kondusif dapat mencapai tujuan pembelajaran yang semestinya. Lingkungan belajar di kelas sebagai situasi buatan yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau konteks terjadinya pengalaman belajar, dapat diklasifikasikan yang menyangkut : 1) lingkungan (keadaan) fisik, dan 2) lingkungan sosial.

Dengan demikian lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar. Selanjutanya lingkungan belajar dapat dilihat dari interaksi dalam proses pembelajaran yang merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar, dan dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik. Menurut Muhammad Saroni (2006:82-83), yang intinya bahwa lingkungan fisik adalah lingkungan yang memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan. Lingkungan fisik ini meliputi saran prasarana pembelajaran yang dimiliki sekolah seperti lampu, ventilasi, bangku, dan tempat duduk yang sesuai untuk peserta didik, dan lain sebagainya. Hal yang senada Suprayekti (2003:18), juga menegaskan bahwa “lingkungan fisik yaitu lingkungan yang ada di sekitar peserta didik baik itu di kelas, sekolah, atau di luar sekolah yang perlu di optimalkan pegelolaannya agar interaksi belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Artinya lingkungan fisik dapat difungsikan sebagai sumber atau tempat belajar yang direncanakan atau dimanfaatkan. Yang termasuk lingkungan fisik tersebut di antanya adalah kelas, laboratorium, tata ruang, situasi fisik yang ada di sekitar kelas, dan sebagainya.”

Dengan demikian lingkungan kelas harus disusun secara minimalis. Mengapa kita harus menciptakan lingkungan kelas yang minimalis? Jawabanya singkat, yaitu untuk memciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan tidak membosankan. Seorang pendidik harus bisa menentukan mana benda yang penting dan harus ada di dalam kelas dan benda yang harus disimpan digudang sekolah. Ingat kelas bukan gudang sekolah, tapi kelas adalah tempat belajar siswa untuk mendapatkan kegiatan pembelajaran yang nyaman dan maksimal. Membuat kelas yang minimalis disini bukan diartikan kelas yang kecil dan sempit. Kelas minimalis adalah kelas yang menjadikelas yang sebenarnya, bukan kelas merangkap dengan gudang sekolah. Untuk menciptakan kelas minimalis pembelajar/guru menempatkan pajangan kelas yang sesuai kebutuhan, menata administrasi kelas ditempat yang tepat, serta buku-buku kelas ditata dengan rapi. Jika kelas tertata rapid an mempunyai pajangan yang menarik akan membuat kelas nyaman dan terlihat elegan. Dengan kelas minimalis ini akan tercipta kegiatan pembelajaran yang nyaman dan dapat membuat siswa semakin kerasan dalam kegiatan pembelajran. Ketika siswa nyaman, imbasnya konsentrasi belajar meningkat dan hasil belajar juga meningkat. Ayo bapak ibu guru pendidik hebat, kita buat kelas yang minimalis.

Rabu, 01 Februari 2023

KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA SEBAGAI DASAR MERDEKA BELAJAR

 

Siapa yang tidak kenal dengan  Ki Hajar Dewantara?

Ki Hajar Dewantara kita kenal sebagai pahlawan pendidikan Indonesia, bahkan ia mendapat julukan sebagai Bapak Pendidikan. Melalui buah pemikirannya, Ki Hajar Dewantara berpendapat jika pendidikan adalah serangkaian proses untuk memanusiakan manusia. 

Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara didasarkan pada asas kemerdekaan, memiliki arti bahwa manusia diberi kebebasan dari Tuhan yang Maha Esa untuk mengatur kehidupannya dengan tetap sejalan dengan aturan yang ada di masyarakat. Maka dari hal itu, diharapkan seorang peserta didik harus memiliki jiwa merdeka dalam artian merdeka secara lahir dan batin serta tenaganya. 

Jiwa yang merdeka sangat diperlukan sepanjang zaman agar bangsa Indonesia tidak didikte oleh negara lain. Ki Hadjar Dewantara memiliki istilah sistem among, Adapun sistem among yang sering kita kenal dengan “Ing ngarso sungtulodho, Ing madyo mangun karso, dan tutwuri handayani”. Dengan konsep sistemamong ini melarang adanya hukuman dan paksaan kepada anak didik karena akan mematikan jiwa merdeka serta mematikan kreativitasnya. Dalam konsem sistem among pendidik dituntut dapat memberikan contoh atau sebagai teladan, menjadi penguat atau selalumemberikan penguatan dan yang terakhir memberikan dorongan, atau memberikan motivasi.

Melihat berbagai hal tersebut tentunya sesuai dengan program pendidikan yang diusung Indonesia saat ini, yakni sebuah program kebijakan Merdeka Belajar. Merdeka Belajar adalah program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan teknologi Nadiem Anwar Makarim. 

Esensi kemerdekaan berpikir harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Merdeka Belajar diharapkan dapat memperbaiki proses belajar mengajar agar dapat berdampak baik dalam aspek kehidupan. Mulai dari aspek fisik, mental, jasmani dan rohani dalam dunia pendidikan. 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara perihal merdeka belajar selaras pula dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 terkait mencerdaskan bangsa. Mencerdaskan bangsa bukan berarti mencerdaskan individu, namun menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan hidup dan penghidupan rakyat Indonesia. 

Kemerdekaan merupakan salah satu yang bisa menggambarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Terdapat satu hal dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara yang harus digaris bawahi, yaitu tentang trisentris pendidikan. Trikonsentris pendidikan, yakni keluarga, perguruan, dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh dalam pendidikan.

 

“pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk kehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai manusia seutuhnya)”

Selasa, 24 Januari 2023

ORANG TUA DAN GURU HARUS BALANCE DALAM MENDIDIK

 Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.


Sering kita dengar di masyarakat tentang curhatan atau mungkin obrolan orang tua siswa dan guru tentang perkembangan siswa. Banyak orang tua atau gurunya junga mengeluh siswa yang belum bisa sesuai dengan keinginan yang diharapkan. Fenomena Ini kita jumpai di beberapa tempat atau disekitar kita sendiri. Bahkan ada juga orang tua siswa yang tidak mau tahu tentang anaknya, yang penting sekolah hasil belakangan. Ada juga yang ingin anaknya sekolah harus pinter dan orang tua tidak mau tahu dan tidak mau ikut partisipasi dalam mendidiknya. Fenomena di lapangan sanagat beragam dan permasalahan-permasalahan seolah-olah merupakan kesalahan sekolah yang gagal menerapkan kurikulum atau mungkin ada permasalahan yang lainnya. Hal ini tidak bias kita pungkiri, karena setiap wali siswa memiliki keinginan dan harapan yang berbeda-beda.

Dari permasalah tersebut, kita tidak boleh saling menyalahkan atau mungkin mengambil titik aman untuk melindungi diri atau mencari kebenaran diri. Permasalah kurang maksimalnya Pendidikan kita ini perlu kita carikan solusi bersama. Pertanyaannya “siapa sih yang memiliki kewajiban mendidik?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada sebuah cerita untuk kita jadikan ilustrasi dan juga kita jadikan pandangan untuk memahami tugas mendidik. Ada seorang kepala sekolah yang sedang diajak seorang profesor ke Jepang. Disana, kepala sekolah tersebut diajak berkunjung ke Johoku Shougakku (nama sebuah daerah di Jepang). Disana kepala sekolah tersebut dipertemukan dengan seorang wali siswa. Wali siswa tersebut menjelaskan secara detail kepada kepala sekolah tersebut tentang peran orang tua dalam mendidik anaknya. Untuk menunjang kesuksesan anaknya Ketika belajar di sekolah dari mulai SD sampai SMA. Anaknya di rumah mendapat tugas membersihkan prabot, membersihkan tempat tidur, dan bahkan di sekolah, selain membersihkan kelas juga membersihkan toilet. Hal ini sama juga dilakukan anaknya ketika di rumah. Kegiatan yang hampir sama dilakukan seorang anak. Kegiatan ini merupakan penanaman karakter yang balance antara di sekolah dan di rumah. Beberapa orang menyebutnya penanaman karakter yang bergayung sambut antara kegiatan di rumah dan di sekolah.

Tugas mendidik paling tidak dapat kita gunakan untuk memeratakan empat ruang lingkup, yaitu orang tua, lingkungan, sekolah, dan masyarakat yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan dan saling terkait erat. Orang tua berperan utama yang dapat meneladani, mendidik, membentuk prilaku, dan menciptakan pembiasaan. Sekolah adalah sarana proses penanaman belajar yang dapat membentuk kepribadian yang berkarakter. Sedangkan lingkungan dan masyarakat berkontribusi mewarnai tatanan nila, maka dengan mudah mereka menyerapnya untuk terpancar dalam prilaku kehidupan mereka sehari-hari.

Secara makro orang tua harus berperan untuk memberi sumbangsih terhadap pertumbuhan peradaban sekolah. Orang tua adalah mitra sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang ideal. Sekolah tidak dapat berpikir sendiri untuk menumbuhkan peradaban yang terdidik, dan orang tua berperan untuk menguatkan program sekolah, sehingga terwujud kerjasama yang baik dan berimbang (Balance). Sekolah maju dimanapun itu pasti melibatkan orang tua sebagai mitra. Tidak ada kemajuan sekola tanpa keterlibatan partisipasi aktif dari orang tua. Dengan hal ini, sistem komunikasi aktif antara orang tua dan sekolah harus dibangun sedemikian rupa. Melalui wali kelas atau melalui paguyuban sekolah. Dengan begini, komunikasi antara sekolah dengan orang tua akan bisa tersambung secara terus menerus.

Begitu juga dalam mendidik siswa, saat kebiasaan baik sudah diterapkan di dalam kelas, seorang guru harus mengkomunikasikan juga dengan orang tua siswa, supaya kebiasaan baik itu juga dilaksanakan siswa di rumah dengan pantauan orang tua. Dengan kata lain, dalam kaitan mendidik karakter memang tidak bias sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Karena karakter terbangun dengan kebiasaan yang terus menerus, hal ini bisa kita lakukan secara seimbang (Balance) antara pendidikan karakter di sekolah dan di rumah.

Minggu, 22 Januari 2023

MEMBANGUN SEKOLAH DENGAN MEMBACA PEREKONOMIAN MASYARAKAT PASAR PENDIDIKAN

 Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.


Persaingan di dunia Pendidikan sangat ketat. Tidak hanya sekolah swasta, sekolah negeri akhir-akhir ini sudah mulai nampak menunjukkan kelebihannya supaya bisa dikenal masyarakat luas. Tidak heran, majunya teknologi informasi sangat mempengaruhi perkembangan sekolah. Ada yang mengatakan, jika sekolah tidak memiliki media sosial maka sekolah tersebut akan ketinggalan. Setiap sekolah pasti memiliki keunggulan namun kadang warga sekolahnya tidak mau menunjukkan atau malah merasa senang sekolahanya terlihat biasa saja.

Setelah pandemi covid-19 mereda rasanya terasa lega, namun banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan untuk memulihkan dunia Pendidikan menjadi normal kembali. Banyak sekolah yang terdampak dengan adanya pandemi beberapa tahun lalu, ada sekolah yang menjadi terbelakang, ada sekolah yang kehilangan banyak murid, dan juga ada sekolah yang malah memiliki jumlah murid yang meningkat secara signifikan. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor diantaranya perokonomian masyarakat. Saat pandemi banyak wali siswa memindah anaknya gara-gara masalah ekonomi. Kondisi ini dimanfaatkan beberapa sekolah untuk menambah jumlah siswanya. Namun sebenarnya bukan ini saja, ada juga wali murid memindah anaknya karena sudah tidak cocok dengan sistem sekolah yang dulu dipercayainya.

Perekonomian masyarakat tidak dapat dilepaskan dari ruang lingkup Pendidikan yang ada dalam lingkup masyarakat tersebut. Perekonomian yang dibangun pasti beriring dengan tingkat Pendidikan. Termasuk juga ketahanan hidup (survival) Pendidikan tidak boleh mengabaikan pembacaan secara cermat terhadap perekonomian masyakat sekitar. Pendidikan disuatu tempat adalah cermin kondisi ekonomi masyarakat setempat. Kegagalan Pendidikan dalam membaca perkembangan perekonomian masyarakat, berarti juga kegagalan membentuk peradaban dan membentuk kualitas Pendidikan. Biasanya sekolah-sekolah takut mengukur kemampuan perekonomian masyarakat untuk menentukan biaya sekolah. Biasanya sekolah-sekolah menekan biaya Pendidikan bahkan sampai menggratiskan biaya Pendidikan tanpa memperhatikan perekonomian masyarakat sekitar. Untuk memajukan Pendidikan kita juga harus mempertimbangkan BEP (Break Even Point). Break even poin harus bisa berkorelasi dengan kemampuan masyarakat sekitar sekolah atau masyarakat sasaran pasar sekolah supaya sekolah bisa mengukur penentuan biaya Pendidikan yang akan ditetapkan oleh sekolah tersebut.

Persoalan biaya sekolah seringkali menjadi permasalah yang pelik, dan hal ini membutuhkan ilmu khusus untuk proses penyelesaiannya. Hal ini biasanya berhubungan langsung dengan biaya yang akan ditentukan sekolah kepada pasar Pendidikan. Jika kita salah menentukan biaya Pendidikan maka akan berdampak pada sekolah kita. Seperti contoh, ketika kita terlalu tinggi menentukan biaya Pendidikan dan tidak berimbang dengan perekonomian masyarakat yang ada atau masyarakat pasar Pendidikan kita makan konsekuensinya yang mendaftar akan sedikit. Namun jika kita terlalu rendah menentukan biaya Pendidikan maka bisa jadi sekolah kita menjadi korban atau mengalami kebangkrutan. Hal ini biasanya tejadi pada sekolah-sekolah swasta. Mengingat sekolah swasta merupakan sekolah yang mandiri dalam kegiatan pembangunan sekolah. Namun hal ini juga bisa diterapkan di sekolah-sekolah negeri. Pada dasarnya untuk membangun sebuah sekolah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika kita berpusat pada sekolah gratis tentunya kita akan sulit untuk membangun sekolah tersebut. Namun, hal ini tentunya sangat sulit diterapkan pada sekolah negeri karena akan berbenturan dengan peraturan dan kebijakan pemerintah.

Perdebatan mahal murahnya sumbangan Pendidikan dari masyarakat sasaran pasar Pendidikan, seringkali dinilai dari masyarat pasar Pendidikan semata. Padahal, sekolah memiliki kebutuhan yang tidak sedikit untuk mengembangkan diri menjadi sekolah yang unggul. Di dalam sekolah unggul, tuntutan atau ekspektasi dari pelanggan (customer) sering begitu tinggi. Masyarakat sasaran pasar Pendidikan selalu menginginkan hal yang sempurna. Namun saat diajak untuk berpartisipasi membangun sekolah melalui biaya Pendidikan seringkali merasa keberatan.

Dalam hal ini ada sektor khusus yang sangat berpengaruh, yaitu manajemen keuangan sekolah. Manajemen keuangan sekolah merupakan sektor penting dalam pengembangan sekolah, karena berhubungan dengan pembiayaan sekolah. Namun selain itu ada aspek penting lain yaitu aspek komunikasi. Sering sekolah sudah terlanjur besar lalu menganggap mudah aspek komunikasi ini. Di beberapa tempat komunikasi dianggap sebagai kendala, biasanya sekolah takut dikorek informasi kaitan keterbukaan keuangan sekolah atau hal lainnya yang berkaitan keuangan. Banyak sekolah tidak mau ribet dan mengambil titik aman. Bahkan ada yang takut di kritisi wali murid kaitan keuangan sekolah. Sebanyak apapun kekhawatiran sekolah untuk melakukan komunikasi kepada wali murid kaitan dengan keuangan, tidak akan menyelesaikan masalah yang dibiarkan atau yang disimpan. Langkah terbaik adalah sekolah mengambil keberanian untuk melakukan keterbukaan terhadap wali murid.  Seringkali sekolah menganggap murid dan wali murid adalah pengguna jasa sementara. Padahal mereka adalah bagian dari keluarga sekolah. Hal ini sesuai dengan konsep yang dibangun oleh tokoh Pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Dalam hal ini kaitan hal yang berkaitan sekolah adalah tanggungjawab bersama keluarga sekolah, dan wali murid merupakan bagian dari keluarga sekolah. Maka sekolah harus melibatkan wali murid dalam menentukan kebijakan sekolah, salah satunya kebijakan tentang keuangan atau penentuan pembiayaan sekolah. Dengan demikian kebijakan sekolah akan lebih optimal dan dapat meminimalisir protes atau ketidak puasan dari wali murid. Dengan demikian kemajuan sekolah akan bisa difikirkan bersama antara manajemen sekolah dengan wali murid sebagai keluarga sekolah.

Dalam hal ini kita tidak boleh mengesampingkan kondisi dan latar belakang wali murid yang dalam hal ini kita bisa menyebutnya masyakat sasaran pasar sekolah. Kita mengetahui bersama setiap sekolah pasti memiliki wali murid yang memiliki latang belakang dan tingkat perekonomian yang beragam. Dengan demikian manajeman sekolah harus memahami betul kondisi perekonomian masyarakat pasar Pendidikan. Dengan demikian manajemen sekolah dituntut untuk sekreatif mungkin dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan keuangan sekolah supaya tidak mengganggu kesetabilan keuangan sekolah ataupun juga tidak terganggu dengan kondisi perekonomian masyarakat sasaran Pendidikan. Salah satu ide kreatif sekolah adalah membentuk komunitas keluarga sekolah. Komunitas ini memiliki nama yang berbeda-beda. Ada yang menyebut paguyuban, ada yang menamai dengan parent teacher association, ada juga yang membuat nama keluarga sekolahku. Semua tergantung kreatif sekolah masing-masing untuk mewadahi wali murid dalam keikut sertaan membangun sekolah.

Ada hal yang harus digaris bawahi. Kadang sekolah sudah membentuk komunitas tersebut. Namun, banyak sekolah yang belum bisa mengoptimalkan adanya komunitas keluarga sekolah, sehingga terjadi kevakuman setelah dibentuk. Jalinan komunikasi terputus dan beberapa hal lainnya sehingga roda kerjasama tidak berjalan dengan mulus.

Membuat Komunitas keluarga sekolah adalah salah satu cara sekolah untuk perekonomian masyarakat sasaran pendidikan. Selain itu sekolah bisa malakukan metode lain untuk mencari tahu dan memahami kondisi perekonomian dari masyarakat sasaran pendidikan tersebut. Sekolah bisa terjun langsung dan menggali informasi secara detail dari masyarakat sasaran pendidikan tersebut. Dengan sekolah mengetahui secara detail kondisi perekonomian masyarakan sasaran pendidikan, sekolah akan lebih mudah membuat kebijakan yang berkaitan biaya pendidikan. Kuncinya jika sekolah mampu memiliki dana segar yang mencukupi, sekolah akan mudah membangun infrastuktur dan juga membangun sumber daya manusia yang ada. Semakin banyak dana tersedia, sekolah akan lebih sukses.

Jumat, 20 Januari 2023

KUMPULAN PUISI SAAT COVID-19

 KUMPULAN PUISI SAAT COVID-19

OLEH : Mustafa Kamal Ali


Jangan Lihat Kami Menangis

 

Jika kau sayang kami biarkan kami tersenyum

Jika kau sayang kami biarkan kami bisa bersama orang yang kami sayangi

Jika kau sayang kami biarkan kami sehat

Jika kau sayang kami tetaplah di rumah tuk kebaikan bersama

Demi mereka yang sudah yang sudah berjuang

Berjuang melawan musuh yang tak nampak

Demi mereka yang sudah mati-matian berjuang untuk kita

Demi mereka yang rela meninggalkan anak istrinya demi kita

Tolong sahabatku bantulah mereka

Mereka tulus berjuang untuk kita

Jangan biarkan airmata makin bertambah

Ini semua demi kita

Demi kehidupan kita semua

Aku sangat berharap kita hapus ego kita

Aku sangat berharap negeriku tersenyum kembali

Aku sangat berharap bisa melihat senyum wajah negeriku kembali

Jangan Lihat Kami menangis wahai sobat

Jika kau lihat tangisan kami

Mungkin kau baru sadar kami butuh sadarmu

Sungguh kami tak butuh egomu

Lihatlah dengan mata hatimu yang terdalam

Rasakan dengan hatimu yang terdalam

Betapa sedihnya kami dengan ujian Tuhan ini

Apa kau tetap egois dengan segala egomu

Kalau boleh aku minta

Tolong hapus egomu

Jangan lihat tangisan kami

Jika kau bahagia lihat tangis kami

Sungguh engkau orang yang tak berhati

 

                                                Pati, Maret 2020

 

 

Demi Mereka Yang Berjuang

 

Jika ini waktu yang paling berharga

Ulurkan tanganmu untuk mereka

Ini waktu yang tepat tuk mengulurkan tangan kita untuk mereka

Mereka yang sedih ditinggalkan keluarga mereka

Mereka yang punya keluarga yang tak boleh bersanding dan bercengkrama

Demi mereka yang di ruang hampa

Demi mereka yang rela berkorban dan berjuang disana

Jangan tutup mata dan telinga

Hati dan jiwamu dengar jerit tangis mereka

Tangis si anak yang terseduh-seduh karena ditinggal bapak ibunya

Demi mereka yang berikan uluran tangan yang tulus

Tak harus dengan harta kau bantu mereka

Cukup kau ringankan beban mereka yang berjuang

Perjuangan mereka sangat berat

Bukan senapan yang didepan mereka

Buka meriam yang akan bunuh mereka

Namun makhluk kecil yang tak mereka lihat

Yang akan membunuh mereka, aku, dan kamu

 

                                                            Pati, Maret 2020

 

Tanggalkan Ego Demi Raga Yang Lain

 

Demi mereka yang masih berpijak di bumi ini

Demi mereka yang terbaring

Demi mereka yang mulai melangkahkan kaki

Demi mereka yang mungil belum tahu apa-apa

Demi mereka yang berjuang

Demi raga yang lain

Demi jiwa-jiwa yang ada

Ku mohon Tuan

Biarkan mereka tersenyum

Kuburlah egomu dalam-dalam

Ini bukan untuk aku

Ini untuk mereka yang berpija di bumi pertiwi

Ku mohon tuan tetap di rumah

Lihat mereka yang tak dapat lagi lihat keluarganya

Lihat mereka yang hanya bisa menatap foto orang terkasih mereka

Ku mohon tuan

Seribu kali ku mohon

Tanggalkan egomu

Demi raga yang lain

 

                                                Pati, Maret 2020

 

Senyuman Dibalik Jendela

 

Biarlah raga kita tak jumpa

Tapi hati kita bertemu

Biarlah mata ini tak lihat wajahmu

Tapi bayangmu cukup jelas disanubariku

Kita berada dalam ruang dan watu

Demi kita bisa bersatu

Biarlah aku tersenyum dibalik jendela ini

Demi ragamu tetap abadi

Senyum manis itu masih teringat jelas

Aku tak akan menghapusnya

Aku akan menyimpannya

Demi kita bisa jumpa

Biarlah airmata ini menjadi penghibu wajah merindu

Hanya do’a yang menjadi selimut hidup ini

Menemani senyuman dibalik jendela

 

                                    Pati, Maret 2020

Kamis, 19 Januari 2023

KUMPULAN SOAL UJIAN BAHASA INDONESIA SD

 KUMPULAN SOAL UJIAN BAHASA INDONESIA PAKET  A DAN B

 

A.    PILIHAN GANDA

 

1.     Setiap hari Minggu saya senang bermain di taman. Di sana saya melihat berbagai macam tumbuhan  semak . Seperti halnya tumbuhan beluntas, tumbuhan ini merupakan tumbuhan perdu yang unik dan banyak manfaatnya.

Makna kata semak pada paragraf diatas adalah …

A.    kelompok pohon yangliar dan berkayu.

B.    tumbuhan liar yang pendek dan banyak jenisnya.

C.    tumbuhan yang hidup sendiri tanpa bantuan manusia.

D.    tumbuhan kecil hanya cabang utamanya yang berkayu.

 

Kunci jawaban : D

Pembahasan     : menurut KBBI semak artinya tumbuhan seperti perdu tetapi lebih kecil dan rendahhanya cabang utamanya yang berkayu

 

2.     Tumbuhan beluntas termasuk tumbuhan liar yang banyak manfaatnya.

Antonim dari kata liar pada kalimat di atas adalah…

A.    beracun

B.    bahaya

C.    jinak

D.    buas

 

Kunci jawaban : C

Pembahasan      : dalam KBBI kata liar berarti tidak ada yang memelihara

Jadi jawaban yang tepat terdapat pada pilihan  C

 

3.     Kelelawar merupakan hewan yang mampu mengeluarkan dan menangkap gelombang ultrasonic. Hal ini digunakan kelelawar untuk berburu mencari makan di malam hari. Selain itu kelelawar juga memiliki ciri tidur pada sang hari.

Bagaimana cara kelelawar mencari makanan?

A.    Dengan menggunakan kemampuan ultrasonic

B.    Kelelawar  tidur di siang hari

C.    Dengan berburu di kegelapan

D.    Kelelawar menangkap serangga

 

Kunci jawaban : A

Pembahasan      ; kelelawar memiliki kemampuan mengeluarkan dan menangkap gelombang ultrasonic untuk mendeteksi makanannya

 

4.      Sudah dua hari Udin mengikuti latihan futsal. Karena kurang istirahat, Udin demam dan harus minum obat. Menurut informasi dari dokter, agar Udin segera sembuh selain istirahat Udin harus minum obat deman sesuai resep dari dokter, yaitu minum sirup pereda deman 3 kali sehari satu sendok.

 Kalimat yang mengandung informasi pada paragraf di atas adalah….

A.    Sudah dua hari Udin mengikuti latihan futsal

B.    Udin demam dan harus minum obat

C.    Udin harus minum obat sesuai resep dokter

D.    Minum sirup pereda demam 3 kali sehari satu sendok

 

Kunci jawaban  ; D

Pembahasan      ; kalimat yang mengandung informasi yang diinginkan pada paragraph adalah terletak pada kalimat terakhir yaitu minum sirup pereda demam 3 kali sehari satu sendok

 

5.     Buaya termasuk hewan buas yang berkembang biak dengan cara bertelur. Buaya akan membuat sarang bagi telur hewan lainnya. Buaya-buaya itu ingin membuat liang untuk menyimpan dan mencegah predator yang ingin memakan telur mereka. Jumlah telur yang akan buaya simpan bergantung pada spesiesnya, lokasi mereka dan ukuran mereka.

 

Kalimat yang tidak padu pada paragraf di atas adalah….

A.    Buaya termasuk hewan buas yang berkembang biak dengan cara bertelur

B.    Buaya akan membuat sarang bagi telur hewan lainnya

C.    Buaya- buaya itu ingin membuat liang untuk menyimpan dan mencegah predator

D.    Jumlah telur yang akan buaya simpan tergantung pada spesiesnya

 

Kunci jawaban : B

Pembahasan : kalimat buaya akan membuat sarang bagi telur hewan lainnya, tidak padu dengan kalimat sebelum dan sesudahnya.


Untuk mendapatkan soal lengkapnya klik link berikut: