Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.
Persaingan di dunia Pendidikan
sangat ketat. Tidak hanya sekolah swasta, sekolah negeri akhir-akhir ini sudah
mulai nampak menunjukkan kelebihannya supaya bisa dikenal masyarakat luas. Tidak
heran, majunya teknologi informasi sangat mempengaruhi perkembangan sekolah.
Ada yang mengatakan, jika sekolah tidak memiliki media sosial maka sekolah
tersebut akan ketinggalan. Setiap sekolah pasti memiliki keunggulan namun kadang
warga sekolahnya tidak mau menunjukkan atau malah merasa senang sekolahanya
terlihat biasa saja.
Setelah pandemi covid-19
mereda rasanya terasa lega, namun banyak sekali pekerjaan yang harus
diselesaikan untuk memulihkan dunia Pendidikan menjadi normal kembali. Banyak
sekolah yang terdampak dengan adanya pandemi beberapa tahun lalu, ada sekolah
yang menjadi terbelakang, ada sekolah yang kehilangan banyak murid, dan juga ada
sekolah yang malah memiliki jumlah murid yang meningkat secara signifikan. Hal
ini dipengaruhi beberapa faktor diantaranya perokonomian masyarakat. Saat pandemi
banyak wali siswa memindah anaknya gara-gara masalah ekonomi. Kondisi ini
dimanfaatkan beberapa sekolah untuk menambah jumlah siswanya. Namun sebenarnya
bukan ini saja, ada juga wali murid memindah anaknya karena sudah tidak cocok
dengan sistem sekolah yang dulu dipercayainya.
Perekonomian masyarakat
tidak dapat dilepaskan dari ruang lingkup Pendidikan yang ada dalam lingkup
masyarakat tersebut. Perekonomian yang dibangun pasti beriring dengan tingkat Pendidikan.
Termasuk juga ketahanan hidup (survival) Pendidikan tidak boleh
mengabaikan pembacaan secara cermat terhadap perekonomian masyakat sekitar.
Pendidikan disuatu tempat adalah cermin kondisi ekonomi masyarakat setempat.
Kegagalan Pendidikan dalam membaca perkembangan perekonomian masyarakat,
berarti juga kegagalan membentuk peradaban dan membentuk kualitas Pendidikan. Biasanya
sekolah-sekolah takut mengukur kemampuan perekonomian masyarakat untuk
menentukan biaya sekolah. Biasanya sekolah-sekolah menekan biaya Pendidikan bahkan
sampai menggratiskan biaya Pendidikan tanpa memperhatikan perekonomian
masyarakat sekitar. Untuk memajukan Pendidikan kita juga harus mempertimbangkan
BEP (Break Even Point). Break even poin harus bisa berkorelasi dengan kemampuan
masyarakat sekitar sekolah atau masyarakat sasaran pasar sekolah supaya sekolah
bisa mengukur penentuan biaya Pendidikan yang akan ditetapkan oleh sekolah
tersebut.
Persoalan biaya sekolah
seringkali menjadi permasalah yang pelik, dan hal ini membutuhkan ilmu khusus
untuk proses penyelesaiannya. Hal ini biasanya berhubungan langsung dengan
biaya yang akan ditentukan sekolah kepada pasar Pendidikan. Jika kita salah
menentukan biaya Pendidikan maka akan berdampak pada sekolah kita. Seperti
contoh, ketika kita terlalu tinggi menentukan biaya Pendidikan dan tidak
berimbang dengan perekonomian masyarakat yang ada atau masyarakat pasar Pendidikan
kita makan konsekuensinya yang mendaftar akan sedikit. Namun jika kita terlalu
rendah menentukan biaya Pendidikan maka bisa jadi sekolah kita menjadi korban
atau mengalami kebangkrutan. Hal ini biasanya tejadi pada sekolah-sekolah
swasta. Mengingat sekolah swasta merupakan sekolah yang mandiri dalam kegiatan
pembangunan sekolah. Namun hal ini juga bisa diterapkan di sekolah-sekolah
negeri. Pada dasarnya untuk membangun sebuah sekolah membutuhkan biaya yang
tidak sedikit. Jika kita berpusat pada sekolah gratis tentunya kita akan sulit
untuk membangun sekolah tersebut. Namun, hal ini tentunya sangat sulit
diterapkan pada sekolah negeri karena akan berbenturan dengan peraturan dan
kebijakan pemerintah.
Perdebatan mahal murahnya
sumbangan Pendidikan dari masyarakat sasaran pasar Pendidikan, seringkali
dinilai dari masyarat pasar Pendidikan semata. Padahal, sekolah memiliki
kebutuhan yang tidak sedikit untuk mengembangkan diri menjadi sekolah yang
unggul. Di dalam sekolah unggul, tuntutan atau ekspektasi dari pelanggan (customer)
sering begitu tinggi. Masyarakat sasaran pasar Pendidikan selalu menginginkan
hal yang sempurna. Namun saat diajak untuk berpartisipasi membangun sekolah
melalui biaya Pendidikan seringkali merasa keberatan.
Dalam hal ini ada sektor khusus
yang sangat berpengaruh, yaitu manajemen keuangan sekolah. Manajemen keuangan
sekolah merupakan sektor penting dalam pengembangan sekolah, karena berhubungan
dengan pembiayaan sekolah. Namun selain itu ada aspek penting lain yaitu aspek komunikasi.
Sering sekolah sudah terlanjur besar lalu menganggap mudah aspek komunikasi
ini. Di beberapa tempat komunikasi dianggap sebagai kendala, biasanya sekolah
takut dikorek informasi kaitan keterbukaan keuangan sekolah atau hal lainnya
yang berkaitan keuangan. Banyak sekolah tidak mau ribet dan mengambil titik
aman. Bahkan ada yang takut di kritisi wali murid kaitan keuangan sekolah. Sebanyak
apapun kekhawatiran sekolah untuk melakukan komunikasi kepada wali murid kaitan
dengan keuangan, tidak akan menyelesaikan masalah yang dibiarkan atau yang
disimpan. Langkah terbaik adalah sekolah mengambil keberanian untuk melakukan
keterbukaan terhadap wali murid.
Seringkali sekolah menganggap murid dan wali murid adalah pengguna jasa
sementara. Padahal mereka adalah bagian dari keluarga sekolah. Hal ini sesuai
dengan konsep yang dibangun oleh tokoh Pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara.
Dalam hal ini kaitan hal yang berkaitan sekolah adalah tanggungjawab bersama
keluarga sekolah, dan wali murid merupakan bagian dari keluarga sekolah. Maka sekolah
harus melibatkan wali murid dalam menentukan kebijakan sekolah, salah satunya
kebijakan tentang keuangan atau penentuan pembiayaan sekolah. Dengan demikian
kebijakan sekolah akan lebih optimal dan dapat meminimalisir protes atau
ketidak puasan dari wali murid. Dengan demikian kemajuan sekolah akan bisa
difikirkan bersama antara manajemen sekolah dengan wali murid sebagai keluarga
sekolah.
Dalam hal ini kita tidak
boleh mengesampingkan kondisi dan latar belakang wali murid yang dalam hal ini
kita bisa menyebutnya masyakat sasaran pasar sekolah. Kita mengetahui bersama
setiap sekolah pasti memiliki wali murid yang memiliki latang belakang dan
tingkat perekonomian yang beragam. Dengan demikian manajeman sekolah harus
memahami betul kondisi perekonomian masyarakat pasar Pendidikan. Dengan demikian
manajemen sekolah dituntut untuk sekreatif mungkin dalam membuat kebijakan yang
berkaitan dengan keuangan sekolah supaya tidak mengganggu kesetabilan keuangan
sekolah ataupun juga tidak terganggu dengan kondisi perekonomian masyarakat
sasaran Pendidikan. Salah satu ide kreatif sekolah adalah membentuk komunitas
keluarga sekolah. Komunitas ini memiliki nama yang berbeda-beda. Ada yang
menyebut paguyuban, ada yang menamai dengan parent teacher association, ada
juga yang membuat nama keluarga sekolahku. Semua tergantung kreatif sekolah
masing-masing untuk mewadahi wali murid dalam keikut sertaan membangun sekolah.
Ada hal yang harus
digaris bawahi. Kadang sekolah sudah membentuk komunitas tersebut. Namun,
banyak sekolah yang belum bisa mengoptimalkan adanya komunitas keluarga
sekolah, sehingga terjadi kevakuman setelah dibentuk. Jalinan komunikasi terputus
dan beberapa hal lainnya sehingga roda kerjasama tidak berjalan dengan mulus.
Membuat Komunitas keluarga sekolah adalah salah satu cara sekolah untuk perekonomian masyarakat sasaran pendidikan. Selain itu sekolah bisa malakukan metode lain untuk mencari tahu dan memahami kondisi perekonomian dari masyarakat sasaran pendidikan tersebut. Sekolah bisa terjun langsung dan menggali informasi secara detail dari masyarakat sasaran pendidikan tersebut. Dengan sekolah mengetahui secara detail kondisi perekonomian masyarakan sasaran pendidikan, sekolah akan lebih mudah membuat kebijakan yang berkaitan biaya pendidikan. Kuncinya jika sekolah mampu memiliki dana segar yang mencukupi, sekolah akan mudah membangun infrastuktur dan juga membangun sumber daya manusia yang ada. Semakin banyak dana tersedia, sekolah akan lebih sukses.








0 comments:
Posting Komentar