Minggu, 22 Januari 2023

MEMBANGUN SEKOLAH DENGAN MEMBACA PEREKONOMIAN MASYARAKAT PASAR PENDIDIKAN

 Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.


Persaingan di dunia Pendidikan sangat ketat. Tidak hanya sekolah swasta, sekolah negeri akhir-akhir ini sudah mulai nampak menunjukkan kelebihannya supaya bisa dikenal masyarakat luas. Tidak heran, majunya teknologi informasi sangat mempengaruhi perkembangan sekolah. Ada yang mengatakan, jika sekolah tidak memiliki media sosial maka sekolah tersebut akan ketinggalan. Setiap sekolah pasti memiliki keunggulan namun kadang warga sekolahnya tidak mau menunjukkan atau malah merasa senang sekolahanya terlihat biasa saja.

Setelah pandemi covid-19 mereda rasanya terasa lega, namun banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan untuk memulihkan dunia Pendidikan menjadi normal kembali. Banyak sekolah yang terdampak dengan adanya pandemi beberapa tahun lalu, ada sekolah yang menjadi terbelakang, ada sekolah yang kehilangan banyak murid, dan juga ada sekolah yang malah memiliki jumlah murid yang meningkat secara signifikan. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor diantaranya perokonomian masyarakat. Saat pandemi banyak wali siswa memindah anaknya gara-gara masalah ekonomi. Kondisi ini dimanfaatkan beberapa sekolah untuk menambah jumlah siswanya. Namun sebenarnya bukan ini saja, ada juga wali murid memindah anaknya karena sudah tidak cocok dengan sistem sekolah yang dulu dipercayainya.

Perekonomian masyarakat tidak dapat dilepaskan dari ruang lingkup Pendidikan yang ada dalam lingkup masyarakat tersebut. Perekonomian yang dibangun pasti beriring dengan tingkat Pendidikan. Termasuk juga ketahanan hidup (survival) Pendidikan tidak boleh mengabaikan pembacaan secara cermat terhadap perekonomian masyakat sekitar. Pendidikan disuatu tempat adalah cermin kondisi ekonomi masyarakat setempat. Kegagalan Pendidikan dalam membaca perkembangan perekonomian masyarakat, berarti juga kegagalan membentuk peradaban dan membentuk kualitas Pendidikan. Biasanya sekolah-sekolah takut mengukur kemampuan perekonomian masyarakat untuk menentukan biaya sekolah. Biasanya sekolah-sekolah menekan biaya Pendidikan bahkan sampai menggratiskan biaya Pendidikan tanpa memperhatikan perekonomian masyarakat sekitar. Untuk memajukan Pendidikan kita juga harus mempertimbangkan BEP (Break Even Point). Break even poin harus bisa berkorelasi dengan kemampuan masyarakat sekitar sekolah atau masyarakat sasaran pasar sekolah supaya sekolah bisa mengukur penentuan biaya Pendidikan yang akan ditetapkan oleh sekolah tersebut.

Persoalan biaya sekolah seringkali menjadi permasalah yang pelik, dan hal ini membutuhkan ilmu khusus untuk proses penyelesaiannya. Hal ini biasanya berhubungan langsung dengan biaya yang akan ditentukan sekolah kepada pasar Pendidikan. Jika kita salah menentukan biaya Pendidikan maka akan berdampak pada sekolah kita. Seperti contoh, ketika kita terlalu tinggi menentukan biaya Pendidikan dan tidak berimbang dengan perekonomian masyarakat yang ada atau masyarakat pasar Pendidikan kita makan konsekuensinya yang mendaftar akan sedikit. Namun jika kita terlalu rendah menentukan biaya Pendidikan maka bisa jadi sekolah kita menjadi korban atau mengalami kebangkrutan. Hal ini biasanya tejadi pada sekolah-sekolah swasta. Mengingat sekolah swasta merupakan sekolah yang mandiri dalam kegiatan pembangunan sekolah. Namun hal ini juga bisa diterapkan di sekolah-sekolah negeri. Pada dasarnya untuk membangun sebuah sekolah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika kita berpusat pada sekolah gratis tentunya kita akan sulit untuk membangun sekolah tersebut. Namun, hal ini tentunya sangat sulit diterapkan pada sekolah negeri karena akan berbenturan dengan peraturan dan kebijakan pemerintah.

Perdebatan mahal murahnya sumbangan Pendidikan dari masyarakat sasaran pasar Pendidikan, seringkali dinilai dari masyarat pasar Pendidikan semata. Padahal, sekolah memiliki kebutuhan yang tidak sedikit untuk mengembangkan diri menjadi sekolah yang unggul. Di dalam sekolah unggul, tuntutan atau ekspektasi dari pelanggan (customer) sering begitu tinggi. Masyarakat sasaran pasar Pendidikan selalu menginginkan hal yang sempurna. Namun saat diajak untuk berpartisipasi membangun sekolah melalui biaya Pendidikan seringkali merasa keberatan.

Dalam hal ini ada sektor khusus yang sangat berpengaruh, yaitu manajemen keuangan sekolah. Manajemen keuangan sekolah merupakan sektor penting dalam pengembangan sekolah, karena berhubungan dengan pembiayaan sekolah. Namun selain itu ada aspek penting lain yaitu aspek komunikasi. Sering sekolah sudah terlanjur besar lalu menganggap mudah aspek komunikasi ini. Di beberapa tempat komunikasi dianggap sebagai kendala, biasanya sekolah takut dikorek informasi kaitan keterbukaan keuangan sekolah atau hal lainnya yang berkaitan keuangan. Banyak sekolah tidak mau ribet dan mengambil titik aman. Bahkan ada yang takut di kritisi wali murid kaitan keuangan sekolah. Sebanyak apapun kekhawatiran sekolah untuk melakukan komunikasi kepada wali murid kaitan dengan keuangan, tidak akan menyelesaikan masalah yang dibiarkan atau yang disimpan. Langkah terbaik adalah sekolah mengambil keberanian untuk melakukan keterbukaan terhadap wali murid.  Seringkali sekolah menganggap murid dan wali murid adalah pengguna jasa sementara. Padahal mereka adalah bagian dari keluarga sekolah. Hal ini sesuai dengan konsep yang dibangun oleh tokoh Pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Dalam hal ini kaitan hal yang berkaitan sekolah adalah tanggungjawab bersama keluarga sekolah, dan wali murid merupakan bagian dari keluarga sekolah. Maka sekolah harus melibatkan wali murid dalam menentukan kebijakan sekolah, salah satunya kebijakan tentang keuangan atau penentuan pembiayaan sekolah. Dengan demikian kebijakan sekolah akan lebih optimal dan dapat meminimalisir protes atau ketidak puasan dari wali murid. Dengan demikian kemajuan sekolah akan bisa difikirkan bersama antara manajemen sekolah dengan wali murid sebagai keluarga sekolah.

Dalam hal ini kita tidak boleh mengesampingkan kondisi dan latar belakang wali murid yang dalam hal ini kita bisa menyebutnya masyakat sasaran pasar sekolah. Kita mengetahui bersama setiap sekolah pasti memiliki wali murid yang memiliki latang belakang dan tingkat perekonomian yang beragam. Dengan demikian manajeman sekolah harus memahami betul kondisi perekonomian masyarakat pasar Pendidikan. Dengan demikian manajemen sekolah dituntut untuk sekreatif mungkin dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan keuangan sekolah supaya tidak mengganggu kesetabilan keuangan sekolah ataupun juga tidak terganggu dengan kondisi perekonomian masyarakat sasaran Pendidikan. Salah satu ide kreatif sekolah adalah membentuk komunitas keluarga sekolah. Komunitas ini memiliki nama yang berbeda-beda. Ada yang menyebut paguyuban, ada yang menamai dengan parent teacher association, ada juga yang membuat nama keluarga sekolahku. Semua tergantung kreatif sekolah masing-masing untuk mewadahi wali murid dalam keikut sertaan membangun sekolah.

Ada hal yang harus digaris bawahi. Kadang sekolah sudah membentuk komunitas tersebut. Namun, banyak sekolah yang belum bisa mengoptimalkan adanya komunitas keluarga sekolah, sehingga terjadi kevakuman setelah dibentuk. Jalinan komunikasi terputus dan beberapa hal lainnya sehingga roda kerjasama tidak berjalan dengan mulus.

Membuat Komunitas keluarga sekolah adalah salah satu cara sekolah untuk perekonomian masyarakat sasaran pendidikan. Selain itu sekolah bisa malakukan metode lain untuk mencari tahu dan memahami kondisi perekonomian dari masyarakat sasaran pendidikan tersebut. Sekolah bisa terjun langsung dan menggali informasi secara detail dari masyarakat sasaran pendidikan tersebut. Dengan sekolah mengetahui secara detail kondisi perekonomian masyarakan sasaran pendidikan, sekolah akan lebih mudah membuat kebijakan yang berkaitan biaya pendidikan. Kuncinya jika sekolah mampu memiliki dana segar yang mencukupi, sekolah akan mudah membangun infrastuktur dan juga membangun sumber daya manusia yang ada. Semakin banyak dana tersedia, sekolah akan lebih sukses.

0 comments:

Posting Komentar