Sabtu, 08 April 2023

Belajar dengan Waktu

 Belajar dengan Waktu

Cukup singkat aku memahamimu

Belum cukup rasanya aku menggali dari waktu

Sungguh singkat rasanya

Belum sempat aku membuka catatan muskhaf di hatimu

Cukup singkat aku memahamimu

Sehingga aku perlu belajar dengan waktu

Yang terus bergulir tanpa lelah

Tanpa lelah mengajari aku untuk memahami hidup

Yang sudah sekian lama aku sulit memahami

Namun aku sebenarnya ingin memahamimu dengan sepenuhnya

Namun waktu mengijinkan aku hanya memahamimu dengan sederhana

Karena mungkin aku pernah kecewa

Mungki juga aku harus belaja banyak dari waktu

Minggu, 02 April 2023

MEMPERSIAPKAN PPDB SEKOLAH LEBIH AWAL

Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.

PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) Merupakan sebuah kegiatan tahunan setiap sekolah. Mulai dari sekolah tingkat PAUD sampai Perguruan Tinggi. Setiap sekolah berlomba-lomba untuk mendapatkan peserta didik yang banyak. Bahkan ada sebuah sekolah yang baru buka PPDB dua hari sudah tutup. Hal ini kembali kesekolah masing-masing. Sekolah yang sudah memiliki nama besar akan cepat tutup PPDBnya. Namun ada juga sekolah yang sampai waktu PPDB sudah usai namun masih mendapatkan siswa jauh di bawah target yang sudah ditentukan. Yang paling eronis ada juga sekolah yang tidak mau tahu tentang PPDBnya, asal berjalan sehingga sekolahnya semakin mengalami kemunduran.

Berdasarkan jumlah siswa yang dimiliki, sekolah dapat kita kelompokkan menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah sekolah sehat. Sekolah sehat adalah sekolah yang memiliki siswa di atas 100. Sedangkan bagian ke dua adalah sekolah kurang sehat. Sekolah kurang sehat adalah sebuah sekolah yang memiliki siswa di bawah 100. Analisis ini kita tujukan pada sekolah tingkat dasar dan sekolah lanjutan awal. Menjadi sekolah sehat dan kurang sehat biasanya dipengaruhi banyak faktor, diantara faktor dari dalam sekolah dan kondisi masyarakat sekitar. Sekolah yang sehat biasanya menjadi sekolah yang sukses dalam PPDBnya. Sedangkan Sekolah yang kurang sehat akan mendapatkan hasil PPDB di bawah target yang sudah ditentukan.

Sukses dalam kegiatan PPDB tidak serta merta bisa diraih pada saat dibukanya PPDB sekolah tersebut. Namun sekolah tersebut harus mempersiapkan sejak awal dengan berbagai setrategi dan jurus jitu setiap sekolah. Sekolah yang tidak mempersiapkan PPDBnya dari awal akan mendapatkan hasil PPDB dibawah target.

Untuk sukses PPDB ada beberapa setrategi yang harus dilaksanakan setiap sekolah untuk mendapatkan PPDB yang ditargetkan. Adapun strategi yang bisa digunakan diantaranya sebagai berikut;

Setrategi pertama; Membangun Sistem Sekolah yang Baik. Sistem sekolah adalah kunci pertama untuk sukses PPDB setiap sekolah. Ketika sekolah sudah terstruktur dan tertata dengan baik maka kegiatan sekolah akan berjalan dengan baik dan menghasilkan out put yang baik. Sistem yang perlu diperbaiki dari berbagai sektor, diataranya; sekotor manajemen sekolah, sektor kurikulum sekolah, dan Pelayanan kepada peserta didik dan wali peserta didik.

Strategi ke dua; Menentukan target. Setiap sekolah harus memiliki target yang harus dicapai. Target harus direncanakan di atas target normalnya. Strategi ini digunakan untuk meningkatkan kinerja tim yang ada di dalam sekolah tersebut untuk mencapai target lebih dari yang direncanakan.

Strategi ke tiga; Membuka PPDB lebih awal atau secara berkelanjutan. Kegiatan PPDB lazimnya diadakan pada waktu tertentu. Biasanya sekolah membuka PPDBnya dibulan-bulan mendekati tahun ajaran baru. Namun sekolah yang berani membuat trobosan atau keluar dari zona nyaman dengan membuka PPDB lebih awal.

Setrategi ke empat; Bersolek (Membuat penampilan yang menarik). Sekolah harus memiliki penampilan yang menarik, baik pada Gedung dan fasilitas, maupun tenaga pendidik yang ada di dalamnya. Penampilan sangatlah penting, karena penampilan akan penjadi sorotan pasar pendidikan kita. Maka kita sebagai tim sekolah harus menjaga penampilan atau berpenampilan yang menarik.

Setrategi ke lima; Menjalin silaturahmi dengan pasar pendidikan. Menjalin silaturahmi adalah hal yang penting, karena dengan menjalin silaturahmi sekolah akan dikenal lebih dalam. Disini kesempatan sekolah untuk menunjukkan sistem pendidikan yang menarik untuk menarik calon peserta didik mendaftar secepatnya.

Setrategi ke enam: Membuat gebrakan yang berbeda. Membuat sebuah gebrakan yang berbeda atau sering dikenal dengan berinovasi adalah kunci kita akan dikagumi pasar pendidikan. Semakin kita membuat trobosan dan inovasi-inovasi baru kita akan menjadi dikenal dan dikagumi. Hal ini akan menarik pasar pendidikan untuk segera mendaftarkan anaknya pada sekolah tersebut.

Sukses PPDB sekolah bukan hanya bertumpu pada system dan setrategi yang dibuatnya. Namun pada kerja keras tim sekolah dan kesolitan tim menjadi sarana pendukung suksesnya PPDB sebuah sekolah. Tidak kalah pentingnya adalah komitmen sekolah dan pendidik di dalam sekolah tersebut untuk memberikan pelayanan terbaik.

Cintai dengan Sederhana

Cintai dengan Sederhana 


Mencintai itu tidak perlu lebih

Cukup dengan sederhana saja

Kita tak pelu seperti lilin

Yang dimenit ini seolah berharga

Namun nanti akan lebur bersama apinya

Kita tak perlu menjadi Pelangi

Yang elok dalam sekejap

Dan larut bersama hujan

Cukuplah mencintai dengan sederhana

Memberikan rasa sederhana akan terasa nyaman

Tak aka nada rasa sakit setelah cerita berlalu

Cukuplah mencintai dengan sederhan

Memberikan apa yang kamu punya

Cintailah dengan sederhana

Seperti embun pagi yang jernih

Tetesannya akan terasa pada dedaunan

Yang layu menanti hujan


Senin, 27 Maret 2023

JENIS-JENIS PENILAIAN YANG WAJIB DIKETAHUI GURU

JENIS-JENIS PENILAIAN YANG WAJIB DIKETAHUI GURU


Di dunia Pendidikan seorang guru memiliki kewajiban memberikan assesmen atau penilaian kepada peserta didik. Namun di lapangan tidak sedikit guru mengenal jenis-jenis penilaian yang bisa digunakan guru untuk mengukur pencapaian belajar peserta didik. Mari kita ulas secara singkat tentang jenis-jenis assesmen atau penilaian yang wajib diketahui guru untuk mengukur pencapaian belajar peserta didik.

1. Asesmen Diagnostik

Yang pertama yaitu Penilaian dengan pendekatan asesmen diagnostik merupakan bentuk pra-penilaian yang dilakukan sebelum melaksanakan sebuah proses pembelajaran di kelas, yang bertujuan agar seorang guru melakukan upaya memahami kelebihan dan kekurangan peserta didik sebelum melakukan proses pembelajaran. 

Dengan asesmen diagnostik ini guru dapat mengetahui tingkat kognitif peserta didik sehingga dapat memutuskan tindak lanjut dalam mendesain pembelajaran. Sehingga guru dapat memilih langkah yang tepat sesuai dengan hasil asesmen diagnostik yang dilakukan sebelum pembelajaran dilaksanakan.

2. Formatif dan Sumatif

Yang ke dua adalah Penilaian formatif dan sumatif, penilaian formatif adalah evaluai yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian formatif biasa disebut dengan Assesment for Learning (AFL). Misalnya, setiap selesai pembelajaran siswa diberikan kuis atau bisa saja berupa ulangan harian.

Sedangkan penilaian sumatif merupakan penilaian yang dilakukan di akhir proses pembelajaran. Penilaian sumatif biasanya digunakan untuk menentukan kinerja akhir peserta didik seperti ulangan akhir semester atau ujian kelulusan. Penilaian sumatif biasa disebut Assesment Of Learning (AOF).

3. Penilaian Informal dan Formal

Yang ke tiga adalah penilaian informal dan formal. Mungkin diantara kita ada yang asing dengan macam penilaian ini. Sebenarnya hampir sama saja hanya membedakan sifatnya. Penilaian informal biasanya dilakukan dalam bentuk umpan balik dengan peserta didik seperti memberikan pertanyaan-pertanyaan awal sebelum memulai pembelajaran.

 Sedangkan penilaian formal merupakan evaluasi terhadap kinerja peserta didik selama proses pembelajaran, baik berupa tes tertulis maupun lainnya dengan menggunakan standar yang telah ditetapkan.

4. Continuous Assesment dan Final Assesment

Yang ke empat adalah continuous assessment dan final assessment. Continuous merupakan penilaian sepanjang pengalaman belajar atau terus-menerus. Sementara Final Assement merupakan penilaian di akhir kegiatan belajar. Penilaian akhir biasanya digunakan untuk pengambilan keputusan sumatif.

5. Penilaian Proses dan Penilaian Produk

Penilaian proses adalah penilaian yang terfokus pada langkah-langkah atau prosedur yang mendasari kemampuan tertentu, seperti mengerjakan tugas dengan proses penyelesaian yang sesuai prosedur yang sistematis. Sedangkan penilaian produk merupakan penilaian pada karya atau hasil akhir dari tugas yang telah dikerjakan oleh peserta didik.

 

Demikian jenis-jenis penilain yang dapat digunakan guru untuk mengukur pencapaian belajar peserta didik. Semoga bermanfaat.

 

Kamis, 16 Maret 2023

HABIT POSITIF SISWA DAN GURU

 HABIT POSITIF SISWA DAN GURU

Oleh: Mustafa Kamal Ali

Di tahun ini kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah sudah mulai aktif seperti biasanya. Kegiatan pembelajaran sudah mulai dengan kegiatan tatap muka, atau belajar di kelas. Kegiatan belajar daring atau melalui media virtual hanya menjadi kegiatan pendamping. Setelah kegiatan daring selama masa pandemi covid-19 memiliki banyak dampak pada siswa dan guru. Banyak beberapa nilai dan habit sekolah yang luntur.  Sering kita jumpai di sekolah-sekolah serasa ada yang berbeda dari masa sebelum pandemi dan masa setelah pandemi ini. Selain siswa guru-gurupun mulai harus membiasakan habit positif yang dulu sudah berjalan baik. Sebenarnya tanpa adanya masa pandemi di tahun 2019 s/d 2022 masih banyak sekolah yang belum sempurna dalam menanamkan nilai dan habit positif  terhadap guru dan siswa. Hal ini mengakibatkan hasil output dari sekolah dirasa kurang memuaskan dimata pasar pendidikan. 

Banyak sekali habit positif yang mengalami degradasi setelah masa pandemi dan juga beberapa sekolah memang belum sepenuhnya menanamkan habit positif. Seperti habit menjaga kebersihan sekolah, habit kedisiplinan, habit budaya literasi, dan juga habit penanaman kesopanan. Pada awal masuk sekolah Nampak siswa keberatan jika harus membersikan kelas, dating tepat waktu, dan juga ada yang menggunakan bahasa yang didak cocok digunakan dilingkungan pendidikan. Hal ini dipengaruhi habit siswa di rumah yang kurang melaksanakan habit positif. Selain itu dipengaruhi dengan kemajuan teknologi yang cepat tanpa adanya control dari orang tua dan guru. Hal ini sangatlah memperihatinkan bagi kita selaku orang yang berkecipung di dunia pendidikan. Mengingat siswa adalah subjek dan objek penyelesaian dalam permasalah ini.

Siswa sebagai subjek dan objek pembelajaran harus ditanamkan nilai-nilai habit yang dapat membentuk kepribadian mereka. Habit hidup bersih bagi siswa harus tertanam sejak di sekolah yang menjadi kesadaran hidup sehari-hari sampai di rumah. Menekankan habit hidup bersih sangatlah penting, karena hal ini akan membentuk keteraturan diri yang peduli terhadap lingkungan. Disiplin diri juga tidak kalah pentingnya menjadi tanggung jawab sekolah. Hal ini harus diperkuat oleh gerakan sistem yang membentuk keteladanan kolektif di lingkungan sekolah. Tidak ada ruang toleransi untuk mengabaikan ruang disiplin di sekolah.

Guru, siswa dan semua warga sekolah secara kolektif ikut proaktif membentuk habit siswa yang positif. Dalam proses pembelajaran siswa harus ditanamkan nilai-nilai (core value) untuk membangun komitmen belajar. Sebelum mengikuti belajar formal di sekolah, ada proses penanaman nilai-nilai habit yang diinternalisasi oleh warga sekolah, seperti habit hidup bersih, pembiasaan literasi membaca, disiplin, praktek keagamaan (nilai-nilai religiusitas), praktek penanaman kesopanan, dan komitmen norma untuk menjaga kesadaran keberlangsungan belajar.

Habit menjaga kebersihan di sekolah kadang menjadi hal yang disepelehkan, namun sebenarnya habit ini sangatlah penting. Sebenarnya setiap guru sudah sering mengajarkan atau sering juga mengingatkan kepada siswanya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Namunbiasanya hal ini kurang sempurna jika tidak di iringi dengan aksinyata seorang guru dalam mendampingi kegiatan siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan. hal ini bisa dikatakan belum bisa maksimal jika dihadapkan disekolah dasar, mengingan figur guru sangatlah penting sebagai teladan bagi siswanya. Selain itu kondisi siswa disekolah dasar sangatlah butuh pendampingan dan pengarahan secara baik. Guru harus selalu mengontrol dan mengingatkan siswa bahkan harus memberikan contoh riil. Kadang ada yang terlupakan seperti mengecek sampah saat pulang sekolah atau istirahat. Biasanya hanya menyapu lantai padahal banyak sudut yang perlu disentuh kebersihannya sepertijendela rak buku dan lain sebagainya. Mungkin kita sering menjumpai meja kursi di kelas yang penuh dengan motif yang tidak asli (penuh coretan).  Hal ini menjadikan pemandangan kelas semakin tidak mengenakkan. Oleh karena itu betapa pentingnya seorang guru selalu mengingatkan menjaga kebersihan diseluruh lini kelas.

Habit disiplin merupakan yang paling banyak dilanggar di sekolah-sekolah. Padahal habil disiplin ini merupakan hal terpenting untuk penanaman karakter siswa yang nantinya terbawa kerumah dan masa hidupnya. Jika siswa sudah tidak terbiasa disiplin akan terasa berat jika dihadapkan dalam kehidupan dimasa mendatang saat sudah berkecipung didunia kerja. Habit disiplin ini akan sulit diterapkan disekolah terhadap siswa jika figur seorang guru dan warga sekolah yang dijadikan figur tidak melaksanakannya. Dalam kata lain jika ingin siswa disiplin, guru harus juga disiplin. Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak memberi ruang warga sekolah untuk tidak disiplin.

Habit literasi sangatlah penting diterapkan di sekolah, karena hal ini dapat digunakan untuk menjaga atmosfir akademik di sekolah. Minat baca yang lesu dalam kehidupan sehari-hari atau dilingkungan masyarakat diakibatkan oleh kegagalan lembaga pendidikan untuk membentuk budaya literasi baca tulis dengan baik. Indonesia menjadi salah satu Negara yang sulit bersaing dikanca internasional, hal ini disebabkan oleh sumber daya manusia yang kualitasnya kurang baik. Hal ini disebabkan karena minat baca masyarakat yang kurang. Oleh karena itu institusi pendidikan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam hal peningkatan minat baca masyarakat, yang dimulai dari pembentukan admosfir akademik di sekolah. Sekolah menjadi garda terdepan dalam menciptakan admosfir minat baca siswanya.

Habit penanaman kesopan merupakan suatu habit yang sangat penting kita terapkan sejak dini. Karena kesopanan ini sangatlah mudah dinilai oleh setiap orang. Maka, sekolah sangat perlu menanamkan habit ini sejak dini. Dimasa sekarang ini habil kesopanan sangat mengalami degradasi. Hal ini dasebabkan karena pengaruh kemajuan zaman dan juga karena kurangnya pendampingan guru dan orang tua terhadap siswa. Penanaman habit ini sepertinya mudah, namun realitanya sangat sulit. Bagaimana cara penanaman habit ini supaya optimal? Jawabannya sederhana, kita kaji lebih jauh penyebabnya terlebih dahulu. Setelah kita tahu kita akan lebih mudah mengatasi permasalahan ini. 

Habit positif bagi siswa dan guru sebenarnya sudah diketahui semua pihak, namun kebanyakan enggan melaksanakannya, karena merasa berat. Atau mungkin merasa acuh dengan kondisi ini, sebagai orang yang berperan aktif didunia pendidikan tidak boleh acuh terhadap degradasi habit positif pada siswa dan guru. Untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini kita perlu lakukan bersama-sama untuk menanamkan habit positif di sekolah dengan sepenuh hati.

Rabu, 15 Maret 2023

Pesan Pena Kepada Kertas

Pesan Pena Kepada Kertas

 Oleh: Mustafa Kamal Ali


Aku hanya pena yang tiada makna

Tinta-tinta ini tak punya makna jika tak tergores di jiwa

jiwamu cukup luas untuk kugeskan tinta

Kucoba gores larik-larik sajak biasa

Tuk hiasi kekosongan dalam lembar kertasnya

Tak lain hanyalah pesan pena pada kertasnya

Yang tersusun rapi bait-baitnya

Berisi pesan guru pada muridnya

Dihembuskan do’a suci dari bibir manisnya

Untuk mirid yang telah jauh dari mata

Ditengah masa kita tak jumpa

Namun hati kita selalu bersama

Walau berbeda ruang dan waktunya

Teringan jelas cerita indah kita

Yang terukir dibalut canda dan tawa

Namun, kini hanya cerita senja

Yang akan hilang ditelan gelap tanpa cahaya

Hanya do’a yang menyertainya

Yang terpancar bagai lilin ditengah gelap gulita

Yang berayun-ayun sinarnya

Dihembus angin malam yang menembus dadanya

Hati ini lirih berkata

Jika raga kita harus terpisah

Biarlah hati ini selalu bersama yang beiring dengan do’a

Aku hanya pena yang tiada arti tanpa kertasnya

Engkau muskhaf-muskhaf yang beraneka warna

Yang kucoba gores tinta mutiara

Mutiara ini tiada arti jika kalian tak menyimpannya

Karena ini pesan pena pada kertasnya

Sekusut apa kertasnya akan indah

Jika tersusun rapi bait sajak disana

Biarlah melekat bagai permata diliontinnya

Jangan kau buang sia-sia

Karena itu cukup mahal belinya

Biarlah bersemayam di dada

Tergantung di rantai emasnya

Karena akan menawan dipandang bola mata

Selamat berjuang melawan masa

Jumat, 10 Februari 2023

MENJADI GURU YANG DIRINDUKAN

 Oleh : Mustafa Kamal Ali, S.Pd.

Di dunia pendidikan, guru merupakan ujung tombak dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Hal ini dikarenakan gurulah yang berhubungan langsung dengan siswa. Dikatakan pendidikan itu berhasil ketika siswanya berhasil mencapai target yang sudah ditentukan. Untuk mewujudkan tujuan yang sudah ditetapkan itu, tentu guru memiliki cara dan peran sendiri-sendiri. Kadang ada yang memilih menjadi guru yang ditakuti, ada juga yang menjadi guru yang dirindukan.

Memilih mana, guru yang dirindukan atau guru yang ditakuti?

Dulu kita memandang guru adalah sosok yang ditakuti. Selain itu juga guru merupakan sosok yang galak suka marah, suka menghukum, dan lain sebagainya. Terlintas di pikiran bahwa guru adalah orang yang paling kita takuti di sekolah. Hal ini kita jumpai saat kita menemui guru galak atau guru kiler. Apakah harus demikian seorang guru? “Jawabannya tentu tidak”. Guru galak atau kiler mungkin itu saat kita memandang dari sudut pandang tertentu. Sebenarnya guru galak itu kembali kepada siswanya. Namun juga ada karena kebiasaan yang dilakukan seorang guru, membuat siswa malah takut. Ketika tidak ada guru tersebut siswa merasa legah tenang dan tidak was-was. Namun dulu juga kita dapati guru yang humoris, guru yang penyabar, guru yang berwibawah. Namun kita akan rindu dengan semuanya saat kita sudah tidak berjumpa lagi. Sekarang kita coba menggali tentang guru, Sebenarnya siapa guru itu?

Guru merupakan pendidik, pembimbing, pelatih, dan pengajar atau orang menyalurkan ilmunya kepada siswa. Banyak orang menganggap guru adalah orang yang hanya mengajar dan menyampaikan materi di sekolah. Sehingga banyak orang yang salah penafsiran tentang guru. Selain selain itu dari guru pun ada yang berpandangan bahwa guru adalah hanya sebagai penyampai materi di kelas. Hal ini terbukti bahwasannya banyak guru yang beranggapan yang penting materi di buku diajarkan dan memberikan nilai kepada siswa. Selain itu banyak juga pada saat menyampaikan materi ajar di dalam kelas menganggap siswa itu anak yang tidak tahu apa-apa, kemudian hanya dibacakan materi di buku dan siswa hanya mendengarkan ocehan guru di depan kelas. Ketika ada siswa bicara langsung ditegur, siswa disuruh duduk rapi diam tidak boleh tengak-tengok harus menghadap ke depan. Sehingga suasana kelas tidak membuat siswa nyaman serasa berada di sebuah penjara.

Hal ini akan membuat siswa sangat bosan dan tidak memperhatikan guru saat menjelaskan. Hal tersebut mengakibatkan adanya gep antara guru dan siswa. Keadaan yang demikian ini membuat siswa menjadi jauh dengan guru dan menjadi tidak terbuka saat ada suatu permasalahan yang dihadapi oleh siswa terutama dalam hal pembelajaran. Selain itu siswa menjadi tidak berani menyampaikan apa yang mereka pendam sehingga mengakibatkan masalah-masalah yang dimiliki siswa baik dalam bidang kognitif dan afektif. Hal tersebut mengakibatkan kemampuan yang dimiliki siswa tidak tereksplor. Dampak dari semua itu dapat mempengaruhi kemampuan siswa baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Perlunya menjadi guru yang aktif, kreatif, dan bersahabat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan saat ini, dimasa perkembangan industri digital yang semakit memuncak ini mengharuskan kita lebih ekstra berjuang untuk bersaing dengan negara lain dalam bidang pendidikan. Selain itu, tantangan menghadapi siswa pun semakin beragam. Tentunya kita harus lebih profesional dalam menghadapi segala tantangan di masa ini.

Perlunya guru yang mampu mendalami dunia siswa atau bisa disebut guru kekinian serta dalam istilah kerennya adalah guru jaman now. Label guru jaman now ini tentu dituntut untuk menguasai IT dengan baik supaya tidak ketinggalan jaman. Selain itu banyak siswa sekarang yang menggunakan media IT untuk bersosialisasi, tentu kita harus bisa mengimbangi perkembangan siswa. Dengan media yang berbasis IT, kita bisa lebih dekat dengan siswa kita. Serasa tak ada penghalang untuk berkomunikasi yang positif ketika di luar proses pembelajaran. Dengan kita memahami dunia siswa, kita akan mudah memantau dan mengarahkan serta memudahkan para siswa untuk berkomunikasi kepada kita. Bagaimanapun guru merupakan orang tua bagi siswa. Sikap keterbukaan pada guru akan membuat siswa semakin nyaman dan menganggap guru sebagai sahabat, sebagai teman berbagi, sebagai contoh dan teladan, serta menjadi pembimbing yang baik. Kalau istilah sekarang sering disebut dengansistem among. Kondisi nyaman ini akan menghasilkan komunikasi yang positif antara guru dan siswa. Dengan demikian masalah siswa akan bisa terselesaikan sedikit demi sedikit.

Selain itu, dimasa sekarang guru itu anti kekerasan. Say no to bullying. Pembelajaran akan lebih nyaman dan bermakna tanpa ada kekerasan fisik maupun psikis. Siswa akan lebih nyaman dan ceria saat menerima pembelajran yang kita sampaikan. Banyak orang yang mengeluh karena siswa susah diatur dan suka mondar-mandir sendiri. Kita dapat mengatasinya dengan menciptakan iklim belajar yang lebih menarik dan menyenangkan. Ketika siswa antusias maka siswa akan berekspresi yang positif dan lebi bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Mereka akan melakukan kegiatan yang baik sesuai arahan kita. Jika suasana membosankan maka cenderung siswa akan bertindak seenaknya sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita bersama menjadi guru yang aktif, kreatif, dan bersahabat dengan siswa (atau menjadi guru among). Jadi guru kekinian yang tidak ketinggalan jaman. Jadi guru jaman now yang positif. Mari bersama-sama melawan kekerasan terhadap anak. Ajarkan pada siswa-siswi kita perdamaian dan rasa saling menghargai. Sesuai dengan selogan pendidikan yang di cetuskan oleh Ki Hajar Dewantara “ Ing ngarso sung tuladha, Ing madyo mangun karso, Tutwuri handayani”.

Saat kita mampu menjadi seorang guru yang bias menjadi teladan baik bagi siswa, selalu memberikan semangat dan penguatan positif kepada siswa akan membuat kita terkenang didalam disi siswa kita. Kita akan selalu dirindukan ketika kita tidak ada. Menjadi guru yang dirindukan bukanlah hal yang mudah. Namun jika kita bias memahami siswa pasti kita akan bias mendapatkan hatinya. Disitulah guru akan menjadi guru yang dirindukan. Saat menjadi guru yang dirindukan siswanya, seorang guru tidak boleh lengah, namun harus terus berkarya, belajar, dan selalu berinovasi. Hal ini perlu melakukan kolaborasi dengan teman guru atau dengan pihak lain yang sifatnya mendukung. Perlu dingat oleh seorang guru, jadikan siswa kita sesuai kodratnya, mereka berhak bahagia dan berhak mendapatkan kemerdekaan saat belajar.