Oleh : Mustafa Kamal Ali, S.Pd.
Di dunia pendidikan, guru merupakan ujung tombak dalam mewujudkan
tujuan pendidikan. Hal ini dikarenakan gurulah yang berhubungan langsung dengan
siswa. Dikatakan pendidikan itu berhasil ketika siswanya berhasil mencapai
target yang sudah ditentukan. Untuk mewujudkan tujuan yang sudah ditetapkan
itu, tentu guru memiliki cara dan peran sendiri-sendiri. Kadang ada yang
memilih menjadi guru yang ditakuti, ada juga yang menjadi guru yang dirindukan.
Memilih mana, guru yang dirindukan atau guru yang ditakuti?
Dulu kita memandang guru adalah sosok yang ditakuti. Selain itu juga guru
merupakan sosok yang galak suka marah, suka menghukum, dan lain sebagainya.
Terlintas di pikiran bahwa guru adalah orang yang paling kita takuti di sekolah.
Hal ini kita jumpai saat kita menemui guru galak atau guru kiler.
Apakah harus demikian seorang guru? “Jawabannya tentu tidak”. Guru galak atau
kiler mungkin itu saat kita memandang dari sudut pandang tertentu. Sebenarnya
guru galak itu kembali kepada siswanya. Namun juga ada karena kebiasaan yang
dilakukan seorang guru, membuat siswa malah takut. Ketika tidak ada guru
tersebut siswa merasa legah tenang dan tidak was-was. Namun dulu juga kita
dapati guru yang humoris, guru yang penyabar, guru yang berwibawah. Namun kita
akan rindu dengan semuanya saat kita sudah tidak berjumpa lagi. Sekarang kita
coba menggali tentang guru, Sebenarnya siapa guru itu?
Guru merupakan pendidik, pembimbing, pelatih,
dan pengajar atau orang menyalurkan ilmunya kepada siswa. Banyak orang
menganggap guru adalah orang yang hanya mengajar dan menyampaikan materi di
sekolah. Sehingga banyak orang yang salah penafsiran tentang guru. Selain selain
itu dari guru pun ada yang berpandangan bahwa guru adalah hanya sebagai penyampai
materi di kelas. Hal ini terbukti bahwasannya banyak guru yang beranggapan yang
penting materi di buku diajarkan dan memberikan nilai kepada
siswa. Selain itu banyak juga pada saat menyampaikan materi ajar di dalam kelas
menganggap siswa itu anak yang tidak tahu apa-apa, kemudian hanya dibacakan
materi di buku dan siswa hanya mendengarkan ocehan guru di depan kelas. Ketika
ada siswa bicara langsung ditegur, siswa disuruh duduk rapi diam tidak boleh
tengak-tengok harus menghadap ke depan. Sehingga suasana kelas tidak membuat
siswa nyaman serasa berada di sebuah penjara.
Hal ini akan membuat siswa sangat bosan dan
tidak memperhatikan guru saat menjelaskan. Hal tersebut mengakibatkan adanya gep
antara guru dan siswa. Keadaan yang demikian ini membuat siswa menjadi jauh
dengan guru dan menjadi tidak terbuka saat ada suatu permasalahan yang dihadapi
oleh siswa terutama dalam hal pembelajaran. Selain itu siswa menjadi tidak
berani menyampaikan apa yang mereka pendam sehingga mengakibatkan
masalah-masalah yang dimiliki siswa baik dalam bidang kognitif dan afektif. Hal
tersebut mengakibatkan kemampuan yang dimiliki siswa tidak tereksplor. Dampak dari
semua itu dapat mempengaruhi kemampuan siswa baik dalam aspek kognitif,
afektif, maupun psikomotor.
Perlunya menjadi guru yang aktif, kreatif, dan
bersahabat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan saat ini, dimasa
perkembangan industri digital yang semakit memuncak ini mengharuskan kita lebih
ekstra berjuang untuk bersaing dengan negara lain dalam bidang pendidikan.
Selain itu, tantangan menghadapi siswa pun semakin beragam. Tentunya kita harus
lebih profesional dalam menghadapi segala tantangan di masa ini.
Perlunya guru yang mampu mendalami dunia siswa
atau bisa disebut guru kekinian serta dalam istilah kerennya adalah guru jaman
now. Label guru jaman now ini tentu dituntut untuk menguasai IT dengan baik
supaya tidak ketinggalan jaman. Selain itu banyak siswa sekarang yang menggunakan
media IT untuk bersosialisasi, tentu kita harus bisa mengimbangi perkembangan
siswa. Dengan media yang berbasis IT, kita bisa lebih dekat dengan siswa kita.
Serasa tak ada penghalang untuk berkomunikasi yang positif ketika di luar
proses pembelajaran. Dengan kita memahami dunia siswa, kita akan mudah memantau
dan mengarahkan serta memudahkan para siswa untuk berkomunikasi kepada kita.
Bagaimanapun guru merupakan orang tua bagi siswa. Sikap keterbukaan pada guru
akan membuat siswa semakin nyaman dan menganggap guru sebagai sahabat, sebagai teman berbagi, sebagai contoh dan teladan, serta menjadi
pembimbing yang baik. Kalau istilah sekarang sering disebut dengansistem among. Kondisi nyaman ini akan menghasilkan
komunikasi yang positif antara guru dan siswa. Dengan demikian masalah siswa
akan bisa terselesaikan sedikit demi sedikit.
Selain itu, dimasa sekarang
guru itu anti
kekerasan. Say no to bullying. Pembelajaran akan lebih nyaman dan bermakna
tanpa ada kekerasan fisik maupun psikis. Siswa akan lebih nyaman dan ceria saat
menerima pembelajran yang kita sampaikan. Banyak orang yang mengeluh karena
siswa susah diatur dan suka mondar-mandir sendiri. Kita dapat mengatasinya
dengan menciptakan iklim belajar yang lebih menarik dan menyenangkan. Ketika
siswa antusias maka siswa akan berekspresi yang positif dan lebi bersemangat
dalam mengikuti pembelajaran. Mereka akan melakukan kegiatan yang baik sesuai
arahan kita. Jika suasana membosankan maka cenderung siswa akan bertindak
seenaknya sendiri.
Oleh karena itu, marilah kita bersama menjadi
guru yang aktif, kreatif, dan bersahabat dengan siswa (atau menjadi guru among). Jadi guru kekinian yang tidak ketinggalan jaman. Jadi
guru jaman now yang positif. Mari bersama-sama melawan kekerasan terhadap anak.
Ajarkan pada siswa-siswi kita perdamaian dan rasa saling menghargai. Sesuai dengan selogan pendidikan yang di cetuskan oleh Ki Hajar
Dewantara “ Ing ngarso sung tuladha, Ing
madyo mangun karso, Tutwuri handayani”.
Saat kita mampu menjadi seorang guru yang bias menjadi teladan baik
bagi siswa, selalu memberikan semangat dan penguatan positif kepada siswa akan
membuat kita terkenang didalam disi siswa kita. Kita akan selalu dirindukan
ketika kita tidak ada. Menjadi guru yang dirindukan bukanlah hal yang mudah.
Namun jika kita bias memahami siswa pasti kita akan bias mendapatkan hatinya. Disitulah
guru akan menjadi guru yang dirindukan. Saat menjadi guru yang dirindukan
siswanya, seorang guru tidak boleh lengah, namun harus terus berkarya, belajar,
dan selalu berinovasi. Hal ini perlu melakukan kolaborasi dengan teman guru
atau dengan pihak lain yang sifatnya mendukung. Perlu dingat oleh seorang guru,
jadikan siswa kita sesuai kodratnya, mereka berhak bahagia dan berhak
mendapatkan kemerdekaan saat belajar.









