Oleh: Mustafa Kamal Ali
Pendidikan merupakan pondasi dasar suatu Bangsa.
Dimana suatu bangsa akan bisa menjadi bangsa yang selalu berkembang jika
memiliki generasi penerus yang cerdas dan berkarakter. Dengan demikian maka
kita perlu menyiapkan pendidik yang mampu mewujudkan generasi yang memiliki
pola pikir berkemajuan. Sekarang ini pola pikir primitif merupakan pola pikir
yang ketinggalan, karena zaman sudah moderen maka kita harus menyesuaikan diri
dengan keadaan yang ada. Banyak yang menganggap sistem lama yang terbaik, namu
itu terbaik di zamannya, belum tentu relevan dengan keadaan sekarang. Maka dari
itu kita perlu menyesuaikan dengan kondisi riil yang ada. Namun kebingungan
seringkali menyelimuti pemikiran kita. Karena pengaruh global, sekarang ini
banyak pendidik yang mengutamakan rasa egois masing-masing. Tanpa memandang
rekan kerja ataupun anak didiknya. Rasa menang sendiri dan tidak mau kalah
antar pihak mengakibatkan adanya kompetisi yang memanas dan tidak sesuai dengan
norma yang ada. Rasa saling menghormati serasa luntur. Dan juga rasa saling
menghargai satu sama lain meng- hilang. Merasa paling menang sendiri saat
bertahtah. Bawahan selalu salah jika tak sesuai dengan pikiran penguasa. Sosial
diabaikan demi kesuksesan individu. Kerjasama tertinggalkan, melangkah
sendiri-sendiri yang berjalan. Generasi lama menganggap paling senior dan tidak
mau kalah, generasi baru merasa lebih pandai dan berkemajuan. Disinilah masalah
yang besar dalam lingkup pendidikan. Rasa ing ngarso sungtulodo, ing madyo
mangun karso dan tutwuri handayaninya sudah terlibas oleh zaman. Kaki melangkah
kearah yang berbeda-beda tanpa memperhatikan tujuan bersama. Yang penting aku
yang berhasil, itu tujuan dari mereka masing-masing. Padahal pendidikan yang
berkemajuan perlu kerjasama untuk mencapainya.
Bagaimana bisa berhasil jika kita tidak saling
bekerja sama? Maka dari itu dari semua pihak harus bisa saling mengedukasi,
jangan saling menyalahkan. Introspeksi diri itu jalan yang terbaik untuk
menjadi guru yang profesional. Untuk menuju pendidikan yang berkemajuan kita
bisa saling mengedukasi atau saling berbagi ilmu. Seperti halnya yang tua
mengajarkan ilmu dan pengalam kepada yang muda, dan yang muda sebaliknya
memberikan ilmunya ke yang tua. Seperti contoh pemberian pengalaman tentang
karakter oleh yang senior kepada yang junior. Sebaliknya junior mengajarkan
tekhnologi kepada seniornya agar tidak ketinggalan. Karena tantangan
globalisasi ini atau sering kita kenal dengan revolusi industri 4.0 sangat
berat. Jika kita pendidik tidak saling bahu membau dan bekerja sama yang solid
akan terasa berat untuk menghadapinya. Yang kita emban adalah amanah besar
untuk nasib bangsa dan negara kita kedepan. Generasi melenial butuh bekal mental,
spiritual, ilmu pengetahuan, dan tekhnologi untuk mampu bersaing dengan
bangsa-bangsa diseluruh dunia.
Untuk menciptakan generasi yang hebat, tentu
kita harus menyiapkan pendidik yang hebat terlebih dahulu. Diibaratkan sebelum
membangun jembatan yang berkualitas dan kokoh perlu adanya arsitek, dan pekerja
yang hebat dan solid serta berkarakter. Dengan demikian akan menghasilkan
sebuah jembatan yang kokoh. Sama halnya dengan mencetak generasi penerus dan
menjadikan pendidikan yang berkemajuan perlu adanya pengajar yang hebat dan
mempunyai pandangan kedepan. Untuk mewujudkannya kita harus bersama-sama dan
saling mengedukasi. Tanamkan inggarso sungtulodo ingmadyo mangun karso tutwuru
handayani didalam jiwa pendidik. Kita yakin dari pendidik yang hebat akan
menghasilkan generasi bangsa yang hebat.








Betul sekali, pendidikan merupakan sarana untuk memanusiakan manusia. Bergerak maju untuk lebih berkemajuan mendidik anak bangsa.
BalasHapus