Jumat, 04 November 2022

BANGUN MINAT BACA MELALUI LITERASI

 Oleh : Mustafa Kamal Ali, S.Pd.



Membaca dewasa ini menjadi suatuhal yang tersisihkan. Banyak peserta didik sekarang yang enggan membaca. Terutama membaca buku. Seolah-olah buku sekarang adalah momok atau hal yang menakutkan. Perpustakaan sekolah seolah-olah seperti musium tua yang tidak pernah terjamah. Buku semakin tebal tertumpuk oleh debu-debu. Buku pelajaran hanya bersemayam di meja dan di dalam tas saja. Ketika pagi pindah tempat. Dirumah tak pernah dibaca atau dipahami. Selalu sibuk dengan hal lainnya. Hal ini terjadi dikarenakan tidak ada dorongan dan motivasi untuk membaca pada peserta didik. Selain itu kegemaran membaca pada siswa terkalahkan dengan game pada geget yang sudah sebagian besar peserta didik menggunakannya.

Geget memeng sangat berpengaruh besar terhadap peserta didik. Tidak hanya di perkotaan, di desa yang pelosokpun sekarang banyak peserta didik yang bermain geget hingga lupa waktu. Jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu kondisi peserta didik di pedesaan sangat berbedah jauh. Terutama pada anak usia sekolah dasar. Sekarang ini banyak anak pada waktu pulng sekolah berkumpul dengan teman bermainnya, tetapi seperti jauh dengan orang didekatnya. Mereka asik memainkan gegetnya masing-masih. Sehingga kegiatan fisik seperti berolahraga jarang mereka lakukan. Sering kita jumpai anak-anak usia sekolah dasar nongkrong diwarung dan ditempat-tempat tertentu untuk bermain geget. Biasanya mereka mencari jaringan internet yang bagus atau mencari free wifi. Mereka biasanya tidak sibuk untuk menambah ilmu pengetahuan, atau melakukan kegiatan yang menambah wawasan. Melainkan mereka sibuk memainkan game onlin yang berada dalam geget mereka masing-masing.

Hal ini sangan eronis dan dapat menurunkan kualitas generasi penerus bangsa. Apalagi untuk menghadapi tantangan diabad 21 ini. revolisi industri 4.0 ini sangat pesat. Peserta didik perlu dipersiapkan dengan matang agar siap menghadapi segala tantangan diabad 21 ini. Perlunya menanamkan karakter dan ilmu pengetahuan untuk membentengi peserta didik kita dari pengaruh negatif perkembangan industri 4.0. Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan menanamkan minat baca yang tinggi terhadap peserta didik kita. Menanamkan minat baca tersebut dapat kita lakukan dengan kegiatan Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah sering kita kenal dengan membaca 15 menit sebelum pelajaran, banyak juga yang mengenal dengan membaca buku non fiksi. Sebagaimana tertuang di dalam peraturan mentri pendidikan dan kebudayaan Nomor 23 tahun 2015. Melakukan gerakan membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan gerakan literasi sekolah ini mempunyai selogam, “Baca, Bisa, Luarbiasa”. Seloga ini bermakna dengan membaca kita akan bisa. Ketika bisa kita akan menjadi orang yang luarbiasa yaitu orang yang kaya pengetahuan. Sudah digembar gemborkan gerakan literasi sekolah ini oleh pemerintah untuk menanamkan minat baca pada peserta didik, tetap saja masih banyak sekolah-sekolah yang belum menjalankan kegiatan ini. hal ini terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor dan alasan para tenaga pendidik. Ada yang beralasan tidak ada buku dan lain sebagainya. Alasam ini merupakan alasan yang sangat familiar dikalangan pendidik. Selain masalah terbatasnya buku bacaan ada masalah yang tidak kalah familiarnya yaitu tidak fahamnya para pendidik terhadap apa yang dimaksud dengan literasi.

Literasi merupakan kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya pengertihan literasi selalu berevolusi sesuai dengan kondisi zaman. Pada zaman dahulu literasi diartikan kemampuan membaca dan menulis saja. Pada saat ini istilah literasi digunakan dalam arti luas dan mermbah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan lain sebagainya. Kini ungkapan literasi memiliki banyak versi seperti literasi media, literasi komputer, literasi sains, serta literasi sekolah. Namun pada hakekatnya berliterasi dirangkum dalam lima verbal yaitu memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentranformasikan.

Dalam EDC (Education Development Center) literasi diartikan kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca dunia. Diperkuat dengan pengertian literasi menurut UNESCO bahwa literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan literasi merupakan kegiatan individu untuk memahami dengan cara terlibat secara langsung serta menggunakan menganalisis serta mentransformasikan dari apa yang diketahuainya dengan menggunakan potensi dan skill yang dimiliki.

Istilah literasi bisa dikaitkan dengan proses sepanjang hayat. Dalam pandangan agama Islam kegiatan literasi sesuai dengan sebuah hadits Nabi Muhammaad S.A.W.  yang diriwayatkan oleh Muslim yaitu “ Carilah ilmu mulai dari buaian sampai masuk keliang lahat”. Dari hadis tersebut jelas kegiatan literasi atau menambah wawasan itu sepanjang hayat. Selain itu masih dalam perspektif islam kata membaca sudah diperkenalkan sejak masa Nabi Muhammad SAW. Mendapat wahyu pertama. Dengan seruan “Bacalah”. Karena dengan membaca kita akan tahu apa yang sebelumnya kita belum ketahui, dengan membaca kita akan bisa dan pahan apa yang sebelumnya kita tidak bisa dan pahami.

Dengan kegiatan literasi sekolah minat baca peserta didik akan terbagun kembali. Dengan pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan akan memupuk rasa gemar membaca pada peserta didik. Jangan buat kegiatan literasi sekolah menjadi sebuah momok, atau sebuah kekangan pada peserta didik, hal ini akan membuat peserta didik tertekan dan bosan sehingga akan membuat peserta didik menjadi malas membaca. Untuk meningkatkan rasa keinginan peserta didik dalam membaca kita perlu membuat suasana yang nyaman menyenangkan dan bebas dari tekanan. Kita bisa mengajak peserta didik kita membaca di taman sekolah, di gazebo sekolah, diteras, dan ditempat khusus di dalam kelas yang di desain nyaman. Dengan kondisi ini peserta didik akan leluasa dan nyaman dalam membaca. Selain itu sediakan buku-buku yang menarik sesuai dengan peserta didik kita. Ajak peserta didik dengan kalimat persuasif yang menarik. Dalam mengajak peserta didik membaca tidak perlu dengan kekerasan fisik atau verbal, karena akan berdampak buruk bagi peserta didik kita. Melakukan vareasi dalam kegiatan literasi sekolah, karena literasi tidak hanya membaca. Dengan menontonkan vidio yang mendidik, ajak mendengarkan cerita, atau membuat suatu karya. Hal ini akan membuat peserta didik kita menjadi senang dan tidak bosan.

Mari bangun karakter anak bangsa dengan budaya literasi sekolah. Salam literasi.

Saling Mengedukasi Untuk Mewujudkan Pendidikan Berkemajuan

 Oleh: Mustafa Kamal Ali

Pendidikan merupakan pondasi dasar suatu Bangsa. Dimana suatu bangsa akan bisa menjadi bangsa yang selalu berkembang jika memiliki generasi penerus yang cerdas dan berkarakter. Dengan demikian maka kita perlu menyiapkan pendidik yang mampu mewujudkan generasi yang memiliki pola pikir berkemajuan. Sekarang ini pola pikir primitif merupakan pola pikir yang ketinggalan, karena zaman sudah moderen maka kita harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Banyak yang menganggap sistem lama yang terbaik, namu itu terbaik di zamannya, belum tentu relevan dengan keadaan sekarang. Maka dari itu kita perlu menyesuaikan dengan kondisi riil yang ada. Namun kebingungan seringkali menyelimuti pemikiran kita. Karena pengaruh global, sekarang ini banyak pendidik yang mengutamakan rasa egois masing-masing. Tanpa memandang rekan kerja ataupun anak didiknya. Rasa menang sendiri dan tidak mau kalah antar pihak mengakibatkan adanya kompetisi yang memanas dan tidak sesuai dengan norma yang ada. Rasa saling menghormati serasa luntur. Dan juga rasa saling menghargai satu sama lain meng- hilang. Merasa paling menang sendiri saat bertahtah. Bawahan selalu salah jika tak sesuai dengan pikiran penguasa. Sosial diabaikan demi kesuksesan individu. Kerjasama tertinggalkan, melangkah sendiri-sendiri yang berjalan. Generasi lama menganggap paling senior dan tidak mau kalah, generasi baru merasa lebih pandai dan berkemajuan. Disinilah masalah yang besar dalam lingkup pendidikan. Rasa ing ngarso sungtulodo, ing madyo mangun karso dan tutwuri handayaninya sudah terlibas oleh zaman. Kaki melangkah kearah yang berbeda-beda tanpa memperhatikan tujuan bersama. Yang penting aku yang berhasil, itu tujuan dari mereka masing-masing. Padahal pendidikan yang berkemajuan perlu kerjasama untuk mencapainya.

Bagaimana bisa berhasil jika kita tidak saling bekerja sama? Maka dari itu dari semua pihak harus bisa saling mengedukasi, jangan saling menyalahkan. Introspeksi diri itu jalan yang terbaik untuk menjadi guru yang profesional. Untuk menuju pendidikan yang berkemajuan kita bisa saling mengedukasi atau saling berbagi ilmu. Seperti halnya yang tua mengajarkan ilmu dan pengalam kepada yang muda, dan yang muda sebaliknya memberikan ilmunya ke yang tua. Seperti contoh pemberian pengalaman tentang karakter oleh yang senior kepada yang junior. Sebaliknya junior mengajarkan tekhnologi kepada seniornya agar tidak ketinggalan. Karena tantangan globalisasi ini atau sering kita kenal dengan revolusi industri 4.0 sangat berat. Jika kita pendidik tidak saling bahu membau dan bekerja sama yang solid akan terasa berat untuk menghadapinya. Yang kita emban adalah amanah besar untuk nasib bangsa dan negara kita kedepan. Generasi melenial butuh bekal mental, spiritual, ilmu pengetahuan, dan tekhnologi untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa diseluruh dunia.

Untuk menciptakan generasi yang hebat, tentu kita harus menyiapkan pendidik yang hebat terlebih dahulu. Diibaratkan sebelum membangun jembatan yang berkualitas dan kokoh perlu adanya arsitek, dan pekerja yang hebat dan solid serta berkarakter. Dengan demikian akan menghasilkan sebuah jembatan yang kokoh. Sama halnya dengan mencetak generasi penerus dan menjadikan pendidikan yang berkemajuan perlu adanya pengajar yang hebat dan mempunyai pandangan kedepan. Untuk mewujudkannya kita harus bersama-sama dan saling mengedukasi. Tanamkan inggarso sungtulodo ingmadyo mangun karso tutwuru handayani didalam jiwa pendidik. Kita yakin dari pendidik yang hebat akan menghasilkan generasi bangsa yang hebat.

PENTINGNYA SEKOLAH SIAGA BENCANA

 Oleh : Mustafa Kamal Ali



Beberapa tahun terakhir ini banyak sekali bencana yang menyambangi negara kita ini, namun ditahun-tahun sebelumnya negara kita kerap kali diuji dengan beberapa bencana yang meninggalkan piluh dan tangis. Bencana tidak pandang waktu, tempat, atau siapapun yang akan direnggutnya. Indonesia merupakan negara yang rawan dengan bencana disebabkan oleh wilayang Indonesia di lalui tiga lempeng besar yaitu lempeng eurasia, lempeng pasifik, dan lempeng Indoaustralia. Selain itu Indonesia  juga menjadi jalur gunung api. Hal tersebut menjadi penyumbang potensi bencana di indonesia. Selain itu  kegiatan manusia yang tidak peduli dengan alam sekitar dan lingkungan yang mengakibatkan keseimbangan ekosistem di bumi terganggu. Kondisi musim dan cuaca ekstrim sehingga menyebabkan curah hujan dengan kapasitas yang tinggi juga sangat berdampak terjadinya bencana.

Mengingat bencana yang sering datang tiba-tiba, maka kita harus selalu siaga dalam menghadapinya. Perlunya penanaman siaga bencana sejak dini sangat membatu kita dalam mengurangi resiko dampak bencana tersebut. Salah satu hal yang paling efektif adalah pemberian edukasi tentang siaga bencana dilingkungan sekolah. Pemberian edukasi terhadap bencana dapat kita lakukan dengan membentuk sekolah siaga bencana. Sekolah siaga bencana merupakan sekolah yang sudah didesain khusus. Seperti dalam lingkungan sekolah setiap sudut terdapat jalur evakuasi yang jelas, serta terdapat area khusus untuk area berkumpul. Jalur evakuasi dan titik kumpul bertujuan untuk memudahkan warga sekolah untuk melakukan evakuasi pada saat terjadi bencana. Selain adanya jalur evakuasi dan area berkumpul, hal yang penting adalah memberikan edukasi tentang cara menghadapi bencana. Hal tersebut dapat dilakukan dengancara pihak sekolah bekerjasama dengan BASAR atau lembaga lain yang bergerak dibidang bencana. Seperti contoh dalam organisasi Muhammadiyah ada MDMC Muhammadiyah. Pemberian edukasi tentang siaga bencana tidak hanya diberikan pada siswa saja melainkan kepada semua warga sekolah. Selanjutnya kegiatan edukasi siaga bencana bisa disisipkan terintegrasi dengan mata pelajaran yang relevan, seperti pada mapel IPAS. Namu jika sudah menggunakan kurikulum 2013 dapat disisipkan pada tema-teman yang berhubungan dengan hal tersebut. Seperti teman menjaga lingkungan atau pada tema lain yang relevan.

Selanjutnya pentingnya menyimpan dokumen-dokumen penting sekolah ditempat yang aman dan strategis. Contohnya menyimpan dalam lemari khusus, membungkus dokumen penting dengan bahan yang tidak tembus air, meletakkan ditempat yang tinggi. Kemudian meletakkan barang elektronik seperti komputer, TV, printer, atau barang elektronik lainnya ditempat yang tinggi, seperti ditempatkan di atas meja. Hal ini bertujuan jika ada ada banjir yang mendadak barang-barang tersebut aman. Menyediakan obat-obatan dan alat kesehatan yang cukup. Hal ini bertujuan untuk melakukan pertolongan pertama pada korban bencana.

Untuk mengurangi resiko bencana yang terjadi ada langkah terpenting, diataranya mempelajari gejala dan menghindari bahayanya. Mempelajari gejala dan menghindari bahaya bencana sangatlah penting hal ini berkaitan dengan langkah selanjutnya yang akan kita lakukan, karena setiap bencana aka berbeda cara penyelamatannya. Seperti bencana gempa dan bencana banjir. Jika bajir kita harus ketempat yang lebih tinggi, namu jika bencananya gempa kita harus menjauh dari gedung yang bisa saja roboh sewaktu-waktu. Setelah mempelajari gejala langkah selanjutnya melakukan evakuasi. Dalam melakukan evakuasi haruslah yang tertib, tidak saling mendorong. Harus berjalan sesuai posisi dan menghindari saling mendahului, karena sangat berbahaya. Saat kita tidak tertib disa terjadi ada yang jatuh dan terianjak. Hal ini dapat menambah potensi korban. Bagaimana caranya? Caranya harus tenang dan tidak panik. Ketika kita tenang resiko bertambahnya korban akibat kesalahan sendiri akan bisa diminimalisir. Selain itu perlu adanya tanda khusus, seperti tanda sirine atau tanda lainnya. Supaya dapat memberitahukan secara cepat saat terjadi bencana yang datang tiba-tiba.