Oleh : Mustafa Kamal Ali, S.Pd.
Membaca dewasa ini menjadi suatuhal yang
tersisihkan. Banyak peserta didik sekarang yang enggan membaca. Terutama
membaca buku. Seolah-olah buku sekarang adalah momok atau hal yang menakutkan.
Perpustakaan sekolah seolah-olah seperti musium tua yang tidak pernah terjamah.
Buku semakin tebal tertumpuk oleh debu-debu. Buku pelajaran hanya bersemayam di
meja dan di dalam tas saja. Ketika pagi pindah tempat. Dirumah tak pernah
dibaca atau dipahami. Selalu sibuk dengan hal lainnya. Hal ini terjadi dikarenakan
tidak ada dorongan dan motivasi untuk membaca pada peserta didik. Selain itu
kegemaran membaca pada siswa terkalahkan dengan game pada geget yang sudah
sebagian besar peserta didik menggunakannya.
Geget memeng sangat berpengaruh besar terhadap
peserta didik. Tidak hanya di perkotaan, di desa yang pelosokpun sekarang
banyak peserta didik yang bermain geget hingga lupa waktu. Jika dibandingkan
dengan beberapa tahun yang lalu kondisi peserta didik di pedesaan sangat
berbedah jauh. Terutama pada anak usia sekolah dasar. Sekarang ini banyak anak
pada waktu pulng sekolah berkumpul dengan teman bermainnya, tetapi seperti jauh
dengan orang didekatnya. Mereka asik memainkan gegetnya masing-masih. Sehingga
kegiatan fisik seperti berolahraga jarang mereka lakukan. Sering kita jumpai
anak-anak usia sekolah dasar nongkrong diwarung dan ditempat-tempat tertentu
untuk bermain geget. Biasanya mereka mencari jaringan internet yang bagus atau
mencari free wifi. Mereka biasanya tidak sibuk untuk menambah ilmu pengetahuan,
atau melakukan kegiatan yang menambah wawasan. Melainkan mereka sibuk memainkan
game onlin yang berada dalam geget mereka masing-masing.
Hal ini sangan eronis dan dapat menurunkan
kualitas generasi penerus bangsa. Apalagi untuk menghadapi tantangan diabad 21
ini. revolisi industri 4.0 ini sangat pesat. Peserta didik perlu dipersiapkan
dengan matang agar siap menghadapi segala tantangan diabad 21 ini. Perlunya
menanamkan karakter dan ilmu pengetahuan untuk membentengi peserta didik kita
dari pengaruh negatif perkembangan industri 4.0. Salah satu cara yang dapat
kita lakukan adalah dengan menanamkan minat baca yang tinggi terhadap peserta
didik kita. Menanamkan minat baca tersebut dapat kita lakukan dengan kegiatan
Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah sering kita kenal dengan membaca 15
menit sebelum pelajaran, banyak juga yang mengenal dengan membaca buku non
fiksi. Sebagaimana tertuang di dalam peraturan mentri pendidikan dan kebudayaan
Nomor 23 tahun 2015. Melakukan gerakan membaca buku non pelajaran selama 15
menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan gerakan literasi sekolah ini
mempunyai selogam, “Baca, Bisa, Luarbiasa”. Seloga ini bermakna dengan membaca
kita akan bisa. Ketika bisa kita akan menjadi orang yang luarbiasa yaitu orang
yang kaya pengetahuan. Sudah digembar gemborkan gerakan literasi sekolah ini
oleh pemerintah untuk menanamkan minat baca pada peserta didik, tetap saja
masih banyak sekolah-sekolah yang belum menjalankan kegiatan ini. hal ini
terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor dan alasan para tenaga pendidik. Ada
yang beralasan tidak ada buku dan lain sebagainya. Alasam ini merupakan alasan
yang sangat familiar dikalangan pendidik. Selain masalah terbatasnya buku
bacaan ada masalah yang tidak kalah familiarnya yaitu tidak fahamnya para
pendidik terhadap apa yang dimaksud dengan literasi.
Literasi merupakan kemampuan seseorang dalam
mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis.
Dalam perkembangannya pengertihan literasi selalu berevolusi sesuai dengan
kondisi zaman. Pada zaman dahulu literasi diartikan kemampuan membaca dan
menulis saja. Pada saat ini istilah literasi digunakan dalam arti luas dan
mermbah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan lain
sebagainya. Kini ungkapan literasi memiliki banyak versi seperti literasi
media, literasi komputer, literasi sains, serta literasi sekolah. Namun pada
hakekatnya berliterasi dirangkum dalam lima verbal yaitu memahami, melibati,
menggunakan, menganalisis, dan mentranformasikan.
Dalam EDC (Education Development Center) literasi
diartikan kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang
dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan
membaca dunia. Diperkuat dengan pengertian literasi menurut UNESCO bahwa literasi
merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Dapat
disimpulkan bahwa kegiatan literasi merupakan kegiatan individu untuk memahami
dengan cara terlibat secara langsung serta menggunakan menganalisis serta
mentransformasikan dari apa yang diketahuainya dengan menggunakan potensi dan
skill yang dimiliki.
Istilah literasi bisa dikaitkan dengan proses
sepanjang hayat. Dalam pandangan agama Islam kegiatan literasi sesuai dengan
sebuah hadits Nabi Muhammaad S.A.W. yang
diriwayatkan oleh Muslim yaitu “ Carilah ilmu mulai dari buaian sampai masuk
keliang lahat”. Dari hadis tersebut jelas kegiatan literasi atau menambah
wawasan itu sepanjang hayat. Selain itu masih dalam perspektif islam kata
membaca sudah diperkenalkan sejak masa Nabi Muhammad SAW. Mendapat wahyu
pertama. Dengan seruan “Bacalah”. Karena dengan membaca kita akan tahu
apa yang sebelumnya kita belum ketahui, dengan membaca kita akan bisa dan pahan
apa yang sebelumnya kita tidak bisa dan pahami.
Dengan kegiatan literasi sekolah minat baca
peserta didik akan terbagun kembali. Dengan pembiasaan kegiatan membaca yang
menyenangkan akan memupuk rasa gemar membaca pada peserta didik. Jangan buat
kegiatan literasi sekolah menjadi sebuah momok, atau sebuah kekangan pada
peserta didik, hal ini akan membuat peserta didik tertekan dan bosan sehingga
akan membuat peserta didik menjadi malas membaca. Untuk meningkatkan rasa
keinginan peserta didik dalam membaca kita perlu membuat suasana yang nyaman
menyenangkan dan bebas dari tekanan. Kita bisa mengajak peserta didik kita
membaca di taman sekolah, di gazebo sekolah, diteras, dan ditempat khusus di
dalam kelas yang di desain nyaman. Dengan kondisi ini peserta didik akan
leluasa dan nyaman dalam membaca. Selain itu sediakan buku-buku yang menarik
sesuai dengan peserta didik kita. Ajak peserta didik dengan kalimat persuasif
yang menarik. Dalam mengajak peserta didik membaca tidak perlu dengan kekerasan
fisik atau verbal, karena akan berdampak buruk bagi peserta didik kita.
Melakukan vareasi dalam kegiatan literasi sekolah, karena literasi tidak hanya
membaca. Dengan menontonkan vidio yang mendidik, ajak mendengarkan cerita, atau
membuat suatu karya. Hal ini akan membuat peserta didik kita menjadi senang dan
tidak bosan.
Mari bangun karakter anak bangsa dengan budaya
literasi sekolah. Salam literasi.









