Senin, 03 Juni 2024

Peran Orang Tua di Era Digital dalam Kesuksesan Anak dalam Belajar

Peran Orang Tua di Era Digital dalam Kesuksesan Anak dalam Belajar

Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.

Di era digital ini, teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Anak-anak saat ini dikelilingi oleh berbagai perangkat digital, seperti smartphone, tablet, dan komputer. Hal ini membawa dampak positif dan negatif bagi proses belajar mereka.

Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak-anak memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan optimal untuk mendukung kesuksesan mereka dalam belajar. Berikut adalah beberapa peran penting orang tua di era digital:

1. Menjadi teladan yang baik: Orang tua adalah contoh bagi anak-anak. Jika orang tua sendiri sering menggunakan perangkat digital secara berlebihan, maka anak-anak pun akan terbiasa dengan hal tersebut. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menunjukkan bagaimana menggunakan teknologi digital dengan bijak dan bertanggung jawab.

2. Membangun komunikasi yang terbuka: Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak-anak tentang penggunaan teknologi digital. Bicarakan tentang manfaat dan risiko penggunaan internet, media sosial, dan aplikasi lainnya. Dorong anak-anak untuk berbagi pengalaman mereka di dunia digital dan dengarkan dengan penuh perhatian.

3. Menetapkan batasan yang jelas: Orang tua perlu menetapkan batasan yang jelas tentang penggunaan teknologi digital, seperti waktu penggunaan, konten yang boleh diakses, dan aplikasi yang boleh digunakan. Pastikan anak-anak memahami batasan tersebut dan konsekuensinya jika mereka melanggarnya.

4. Memanfaatkan teknologi digital untuk pembelajaran: Ada banyak aplikasi dan platform edukasi online yang dapat membantu anak-anak dalam belajar. Orang tua dapat membantu anak-anak menemukan aplikasi dan platform edukasi yang sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka.

5. Mendukung aktivitas belajar offline: Meskipun teknologi digital dapat membantu dalam belajar, penting bagi anak-anak untuk tetap melakukan aktivitas belajar offline, seperti membaca buku, mengerjakan soal, dan mengikuti kelas tambahan. Orang tua perlu mendorong anak-anak untuk melakukan aktivitas belajar offline tersebut.

6. Mengajarkan literasi digital: Orang tua perlu mengajarkan kepada anak-anak tentang literasi digital, seperti cara mencari informasi yang benar, cara menghindari cyberbullying, dan cara menjaga privasi di dunia digital.

7. Menemani anak-anak saat menggunakan teknologi digital: Orang tua perlu menemani anak-anak saat mereka menggunakan teknologi digital, terutama di usia dini. Hal ini untuk memastikan bahwa anak-anak menggunakan teknologi digital dengan aman dan bertanggung jawab.

Dengan menjalankan peran-peran tersebut, orang tua dapat membantu anak-anak memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan optimal untuk mendukung kesuksesan mereka dalam belajar.

Penting untuk diingat bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan gaya belajar yang berbeda. Orang tua perlu memahami kebutuhan dan gaya belajar anak mereka masing-masing dan menyesuaikan cara mereka dalam mendampingi anak-anak dalam belajar di era digital.

Melek Teknologi Kebutuhan Guru di Era Digital

Melek Teknologi Kebutuhan Guru di Era Digital

Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.

Di era digital ini, teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Hal ini pun berlaku dalam dunia pendidikan. Guru sebagai ujung tombak pendidikan dituntut untuk melek teknologi agar dapat mengikuti perkembangan zaman dan memberikan pembelajaran yang optimal bagi para siswanya.

Kemampuan guru dalam menggunakan teknologi dapat membuka berbagai peluang baru dalam proses belajar mengajar. Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk membuat materi pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, seperti video edukasi, presentasi multimedia, dan simulasi. Selain itu, teknologi juga dapat membantu guru dalam berkomunikasi dengan siswa dan orang tua secara lebih mudah dan efisien.

Manfaat lain dari guru yang melek teknologi adalah kemampuannya dalam mengakses dan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Dengan internet, guru dapat mencari informasi terbaru terkait materi pelajaran, mengikuti pelatihan online, dan bahkan berkolaborasi dengan guru lain dari seluruh dunia.

Menjadi guru melek teknologi bukan berarti harus menguasai semua jenis teknologi. Guru cukup memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Yang terpenting adalah guru memiliki kemauan untuk belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Pemerintah dan pihak terkait lainnya juga perlu memberikan dukungan kepada para guru dalam meningkatkan kemampuan teknologinya. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, workshop, dan penyediaan infrastruktur yang memadai.

teknologi sekarang ini sudah menjadi sebuah keharusan untuk dikuasai oleh guru. Mengingat persaingan dunia pendidikan sekarang ini sangat pesat dan informasi sangat mendominasi era sekarang ini. Jika kita masih mempertahankan sikap primitif dan tidak mau berkembang pendidikan kita akan semakin tertinggal. 

Dengan guru yang melek teknologi, diharapkan kualitas pendidikan di Indonesia dapat terus meningkat dan mampu menghasilkan generasi penerus bangsa yang siap menghadapi tantangan di era digital.

Kamis, 30 Mei 2024

Peran Guru di Era Globalisasi Merawat Kearifan Lokal, Membangun Generasi Unggul

Peran Guru di Era Globalisasi Merawat Kearifan Lokal, Membangun Generasi Unggul

Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd. 


Era globalisasi membawa perubahan besar di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Di tengah arus informasi yang deras dan pergeseran nilai-nilai budaya, peran guru semakin krusial dalam mengantarkan generasi penerus bangsa menuju masa depan yang gemilang.

pemikiran Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, menjadi pedoman yang relevan dalam memahami peran guru di era globalisasi. Beliau menekankan pentingnya pendidikan yang berpusat pada peserta didik, berlandaskan nilai-nilai budaya bangsa, dan mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan zaman.

Berikut beberapa peran penting guru di era globalisasi berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara:

1. Penjaga dan Pewaris Budaya Lokal

Di tengah gempuran budaya global, guru memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mewariskan budaya lokal kepada peserta didik. Kearifan lokal sebagai warisan budaya bangsa perlu dilestarikan dan ditanamkan dalam diri generasi muda agar mereka memiliki identitas dan jati diri yang kuat.

2. Pendidik yang Berpusat pada Peserta Didik

Guru haruslah menjadi pendidik yang berpusat pada peserta didik, bukan hanya penyampai ilmu pengetahuan. Guru harus memahami kodrat dan bakat setiap peserta didik, serta membantu mereka mengembangkan potensi diri secara optimal.

3. Pembangun Karakter Bangsa

Selain ilmu pengetahuan, guru juga berperan penting dalam membangun karakter bangsa. Guru harus menjadi teladan bagi peserta didik dan menanamkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan gotong royong.

4. Fasilitator Pembelajaran yang Kreatif

Guru harus mampu menjadi fasilitator pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Guru harus memanfaatkan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan agar peserta didik termotivasi untuk belajar.

5. Penghubung Generasi

Guru menjadi penghubung antara generasi masa lampau, masa kini, dan masa depan. Guru harus mampu mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai-nilai budaya dari generasi sebelumnya kepada generasi penerus bangsa.

6. Pembelajar Sepanjang Hayat

Di era globalisasi yang penuh dengan perubahan, guru juga harus terus belajar dan mengembangkan diri. Guru harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat memberikan pendidikan yang berkualitas kepada peserta didik.

7. Pencipta Lingkungan Belajar yang Kondusif

Guru harus menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan aman bagi peserta didik. Lingkungan belajar yang positif dan nyaman akan mendorong peserta didik untuk belajar dengan lebih optimal.

8. Pendorong Keberagaman dan Inklusivitas

Guru harus menghargai keberagaman dan inklusivitas di dalam kelas. Guru harus memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk belajar dan berkembang tanpa diskriminasi.

9. Pemanfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi

Guru perlu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam proses pembelajaran. TIK dapat membantu guru untuk menyampaikan materi pelajaran dengan lebih menarik dan interaktif, serta membantu peserta didik untuk belajar secara mandiri.

10. Kolaborator dengan Orang Tua dan Masyarakat

Guru harus menjalin kerjasama yang erat dengan orang tua dan masyarakat. Kerjasama ini penting untuk mendukung kemajuan belajar peserta didik dan menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif.

Sebagai penutup, peran guru di era globalisasi sangatlah penting dan kompleks. Dengan berlandaskan pemikiran Ki Hajar Dewantara, guru dapat menjadi pelita yang menerangi jalan generasi penerus bangsa menuju masa depan yang gemilang.

Membangun Sekolah Unggul Menuju Masa Depan Pendidikan yang Cerah

Membangun Sekolah Unggul Menuju Masa Depan Pendidikan yang Cerah

Oleh: Mustafa Kamal Ali, S.Pd.

Membangun sekolah unggul bukan hanya dambaan, tetapi juga kebutuhan di era modern ini. Sekolah yang unggul tidak hanya mencetak prestasi akademik, tetapi juga melahirkan generasi penerus bangsa yang berkarakter mulia, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global.

Lalu, bagaimana cara membangun sekolah menjadi sekolah unggul? Berikut beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh:

1. Visi dan Misi yang Jelas dan Terukur

Langkah awal yang esensial adalah merumuskan visi dan misi sekolah yang jelas, terukur, dan sejalan dengan tujuan pendidikan nasional. Visi dan misi ini menjadi kompas yang mengarahkan seluruh gerak langkah sekolah dalam mencapai tujuannya.

2. Kepemimpinan yang Kuat dan Visioner

Kepemimpinan yang kuat dan visioner dari kepala sekolah menjadi kunci utama dalam mewujudkan sekolah unggul. Pemimpin harus mampu menginspirasi, memotivasi, dan mengarahkan seluruh pemangku kepentingan sekolah untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan.

3. Guru yang Berkualitas dan Berkomitmen

Guru adalah ujung tombak dalam proses pembelajaran.expand_more Oleh karena itu, sekolah perlu merekrut dan mengembangkan guru-guru yang berkualitas, berdedikasi tinggi, dan berkomitmen untuk memajukan pendidikan.

4. Kurikulum yang Berpusat pada Peserta Didik

Kurikulum yang kaku dan monoton sudah tidak relevan dengan tuntutan zaman. Sekolah perlu merancang kurikulum yang berpusat pada peserta didik, yang menekankan pada pengembangan kompetensi, karakter, dan kreativitas.

5. Pembelajaran yang Inovatif dan Menyenangkan

Pembelajaran di sekolah unggul haruslah inovatif, menyenangkan, dan bermakna bagi peserta didik. Guru harus mampu menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang kreatif dan variatif sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar.

6. Penilaian yang Holistik dan Otentik

Penilaian di sekolah unggul tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotor. Sekolah perlu menerapkan sistem penilaian yang holistik dan otentik untuk mengukur perkembangan peserta didik secara menyeluruh.

7. Sarana dan Prasarana yang Memadai

Sarana dan prasarana yang memadai, seperti ruang kelas yang nyaman, laboratorium yang lengkap, dan akses internet yang lancar, sangat penting untuk mendukung proses pembelajaran yang efektif.

8. Budaya Sekolah yang Positif dan Kondusif

Sekolah perlu membangun budaya sekolah yang positif dan kondusif, di mana peserta didik merasa aman, dihargai, dan dihormati. Budaya ini dapat ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler, program pengembangan karakter, dan penanaman nilai-nilai moral.

9. Kemitraan yang Kuat dengan Orang Tua dan Masyarakat

Kemitraan yang kuat dengan orang tua dan masyarakat sangat penting untuk mendukung kemajuan sekolah. Sekolah perlu menjalin komunikasi yang terbuka dan transparan dengan orang tua dan masyarakat, serta melibatkan mereka dalam berbagai program dan kegiatan sekolah.

10. Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan

Sekolah unggul harus selalu melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan untuk memastikan bahwa semua komponen sekolah berjalan dengan optimal dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Membangun sekolah unggul membutuhkan komitmen, kerja keras, dan kolaborasi dari semua pemangku kepentingan. Dengan menerapkan langkah-langkah strategis di atas, sekolah dapat menjadi wadah yang ideal untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang unggul dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Membangun sekolah unggul adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan dedikasi dan keuletan. Namun, dengan semangat juang yang tinggi dan kerjasama yang solid, semua sekolah dapat mencapai tujuannya untuk menjadi sekolah yang unggul dan berprestasi.


Selasa, 29 Agustus 2023

RINGKASAN MATERI TEMA 2 KELAS 6


















KD 3.4 Menelaah persatuan dan kesatuan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara beserta dampaknya.

1.    Proklamasi

Proklamasi berarti pemberitahuan resmi kepada seluruh rakyat; permakluman; pengumuman. Indonesia mendapatkan kemerdekaannya bukanlah tanpa perjuangan. Para pahlawan berjuang tanpa lelah untuk memperoleh kemerdekaan. Berkorban jiwa raga dan harta benda.

Berikut ini adalah gambaran mengenai perjuangan para pahlawan mencapai kemerdekaan.

2.    Peran Soekarno-Hatta dalam Proklamasi

Ø Peran Soekarno

ü Menyusun konsep teks proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda bersama Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo.

ü Menandatangani teks proklamasi atas nama bangsa Indonesia bersama Bung Hatta.

ü Membacakan teks proklamasi di kediamannya.

Ø Peran Moh. Hatta

ü Menyusun konsep teks proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda bersama Bung Karno dan Ahmad Soebardjo.

ü Menandatangani teks proklamasi atas nama bangsa Indonesia bersama Bung Karno.

3.    Makna Proklamasi bagi Bangsa Indonesia

a.    Sebagai puncak perjuangan Indonesia.

b.    Pengakuan kepada dunia luar.

c.    Menaikkan martabat bangsa.

d.    Perjuangan sebagai negara baru.

e.    Tonggak sejarah negara Indonesia.


Untuk Materi lengkapnya Silahkan klik link Materi Tema 2 Kelas 6

RINGKASAN MATERI TEMA 1 KELAS 6

 
















 Bahasa Indonesia

3.1  Menyimpulkan informasi berdasarkan teks laporan hasil pengamatan yang didengar dan dibaca.

A.     Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas

       Ciri kalimat utama, yaitu;

  1. Kalimat paling umum
  2. Dijelaskan oleh kalimat yang lain
  3. Kata kuncinya selalu diulang-ulang secara langsung atau dengan kata ganti .
  4. Kalimat penjelas adalah kalimat yang menjelaskan kalimat utama.

 B. Ide Pokok

       Ide pokok adalah kalimat inti atau pokok paragraf. Ide pokok disebut juga gagasan pokok atau kalimat utama.         Ide pokok didukung oleh ide-ide penjelas dalam paragraf.

Langkah-langkah menentukan ide pokok :

  1. Bacalah setiap paragraf dalam bacaan dengan cermat!
  2. Cermati kalimat pertama hingga terakhir.
  3. Ide pokok sebagai inti paragraf terletak dalam kalimat utama.
  4. Kalimat utama dapat terletak di awal, akhir, awal dan akhir, atau seluruh paragraf.
  5. Jika berupa kalimat majemuk, berada dalam induk kalimat.

       Untuk mendapatkan materi lengkapnya silahkan klik link berikut Materi Kelas 6 Tema 1


Kamis, 03 Agustus 2023

JAWABAN PAMEO MASYARAKAT TENTANG PERUBAHAN KURIKULUM

 

Melangsir dari siaran wabinar yang disiarkan Sinar Sapa pendidikan tentang kurikulum merdeka bersama narasumber Bapak Zulkifli Annas selaku PLT. Kepala pusat kurikulum dan pembelajaran. Dalam podcasnya Indri Habsari selaku moderator acara menanyakan tentang pameo masyarakat kaitan ganti mentri ganti kurikulum. Dalam hal ini bapak Zulkifli memaparkan kaitan pameo masyarakat yang berkembang tentang hal tersebut. Dalam tanggapannya bapak Zulkifli menyampaikan yang penting masyarakat yang tidak anti perubahan. Dalam hal ini harapannya mendapatkan perubahan yang esensial dari perubahan kurikulum ini. Tentunya semua orang akan senang jika nantinya perubahan akan menjadi lebih baik. Sebenarnya konsep perubahan kurikulum ini tidak dipengaruhi oleh perubahan mentri. Selama ini Bangsa Indonesia sudah berganti mentri sebanyak 40-an, namun kurikulum baru berganti sebanyak 14 kali. Berarti kaitan ganti mentri ganti kurikulum tidak begitu berhubungan. Dalam hal ini ada ungkapan yang disampaikan filusuf Yunani Kuno Heralkleitos yang menyatakan kita tidak akan menjumpai air yang sama pada sungai yang telah kita jumpai. Hal ini selaras dengan penerapan kurikulum pendidikan. Kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Karena peserta didik yang sekarang tantangannya akan berbeda dengan peserta didik dahulu, makan perlu disiapkan kurikulum yang sesuai dengan kondisi sekarang. Jangan sampai peserta didik terkekang dengan apa yang kita rumuskan dahulu. Karena peserta didik sekarang lebih dinamis dan terus berkembang kedepan. Apa lagi diera globalisasi dan digital ini perkembangan sangat pesat. Dalam hal ini diharuskan kurikulum pendidikan yang fleksibel sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Yang harus diluruskan kemasyarakat adalah apa yang berganti dan apa yang tepat. Dalam hal ini yang perlu digaris bawahi adalah sebenarnya kurikulum itu sama atau bisa dikatakan tetap, tapi perubahannya berada dalam kegunaan dan kesesuaiannya dengan kebutuhan yang saat ini dan masa mendatang. Perlu kita tekankan dalam penerapan kurikulum itu bukan seberapa banyak materi yang kita berikan tetapi seberapa jauh kurikulum itu beradaptasi beradaptasi kepada kebutuhan sekarang dan kebutuhan di masa depan.

Selanjutnya pembahasan tentang krisis pembelajaran yang telah lama terjadi di Indonesia, dan bagaimana kurikulum merdeka berperan dalam mengatasi hal itu. Kaitan krisis pembelajaran sudah terjadi sangat lama dikarenakan kita sering mengejar materi pembelajaran. Guru dalam mengejar biasanya berfokus pada penyelesaian materi sesuai target untuk mengatasi masalahnya. Akhirnya anak ada yang ketinggalan kaitan pengetahuan, dan anak terus tertinggal gara-gara persoalan awal belum teratasi. Hal ini mengakibatkan anak yang tertinggal. Contohnya, anak saat kelas 1 ketinggalan materi, terus diharuskan naik kelas, terus akan ketinggal karena pemahaman anak tidak matang, sampai suatu saat di pendidikan yang lebih tinggi dia memiliki pengetahuan setara dengan pengetahuan saat disekolah dasar. Hal inilah yang disebut krisis pembelajaran atau learning loss. Learning loss ini sebenarnya tidak disebabkan oleh pandemi covid-19, tapi disebabkan penerapan sistem yang salah dalam kurikulum. Padahal pandemi covid-19 ini menyadarkan bahwa kita bahwasannya ternyata peserta didik itu selama ini datang kesekolah tapi tidak sesungguhnya belajar. Semua menjadi terkuak ketika masa pandemi covid-19. Dalam hal ini kurikulum merdeka didesain untuk mengutamakan kemampuan anak. Dalam hal ini guru harus mengetahui kemampuan anak untuk belajar materi selanjutnya. Materi harus tuntas dahulu baru pindah ke materi berikutnya. Kurikulum merdeka mengacu pada pembelajaran sesuai level untuk menyesuaikan kemampuan anak. Anak akan diberikan ruang untuk memberikan layanan kepada anak untuk tumbuh dan berkembang dengan kemampuan yang dimiliki. Dalam kurikulum merdekan sangan menyarankan kegiatan yang berdeverensiasi. Dalam kegiatan belajar peserta didik dapat berkolaborasi dan saling melengkapi. Dalam kegiatan belajar dibuat saling menguatkan bukan bersaing untuk mengalahkan.

Dalam penerapan kurikulum merdekan ini dibuat sesimpel mungkin untuk materi dan memberikan ruang yang luas bagi guru untuk memahami anak dan dapat menyelesaikan permasalahan krisis belajar yang sudah kita jalani ini.

Dalam kegiatan pembelajaran setiap sekolah diberikan keleluasaan untuk memilih dan menerapkan kurikulum di sekolah.

Apakah semua sekolah harus menerapkan kurikulum merdeka? Jawabannya tidak, tapi setiap sekolah memilih menerapkan kurikulum yang akan sesuai, tidak ada paksaan, nanti malah tidak merdeka. Intinya disarankan untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan menjalankan dengan ikhlas tanpa paksaan.

Perubahan kurikulum sekarang lebih menekankan bukan perubahan administrasi, melainkan tentang perubahan polapikir dan meningkatkan hubungan batin, dan trasformasi belajar.