Rindu Serumah
Hujan turun pelan malam itu.
Tidak deras, tidak pula rintik hanya cukup untuk membuat jendela berembun dan hati terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ali duduk di tepi ranjang, menatap punggung istrinya yang membelakangi.
Alya sedang melipat pakaian, gerakannya rapi, tenang… seperti seseorang yang sudah terlalu sering menyembunyikan sesuatu.
“Capek?” tanya Ali, pelan.
Alya mengangguk tanpa menoleh.
“Iya.”
Hanya itu.
Tak ada lanjutan. Tak ada cerita.
Padahal dulu…
kata “capek” selalu diikuti keluhan manja, pelukan tiba-tiba, atau sekadar kepala yang jatuh ke bahunya.
Sekarang, kata itu hanya berhenti sebagai kata.
Ali menelan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokan.
Ada banyak yang ingin ia tanyakan—
tentang jarak yang tiba-tiba hadir,
tentang tatapan yang tak lagi tinggal,
tentang rumah yang kini terasa seperti tempat singgah.
Namun ia diam.
Karena entah sejak kapan,
diam menjadi bahasa yang paling sering mereka gunakan.
Malam semakin larut.
Lampu kamar dimatikan, hanya menyisakan cahaya remang dari luar jendela.
Alya sudah berbaring, memunggunginya.
Seperti malam-malam sebelumnya.
Ali ikut berbaring, menjaga jarak yang tak pernah benar-benar disepakati.
Tangannya ingin meraih, tapi hatinya ragu.
“Ly…” panggilnya lirih.
“Hm?”
Kali ini Alya menjawab.
Tapi tetap tidak berbalik.
“Apa kamu bahagia… sama aku?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, seperti hujan yang tak kunjung jatuh ke tanah.
Alya terdiam lama.
Begitu lama sampai Ali hampir berharap ia tidak akan menjawab.
“Aku… masih di sini,” katanya akhirnya.
Bukan “iya.”
Bukan “bahagia.”
Hanya… masih di sini.
Dan entah kenapa, jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada kejujuran.
Ali memejamkan mata.
Ia teringat banyak hal—
tawa mereka di dapur kecil dulu,
perdebatan receh yang berujung pelukan,
janji-janji yang diucapkan dengan keyakinan penuh,
seolah dunia tidak akan pernah mengubah apa pun.
Tapi dunia memang tidak berubah.
Mereka yang berubah.
Atau mungkin…
mereka hanya lupa bagaimana caranya tetap sama.
Hujan di luar semakin lirih.
Ali menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat.
Perlahan.
Hati-hati, seolah jarak di antara mereka bisa pecah jika disentuh terlalu cepat.
Tangannya akhirnya memberanikan diri
menyentuh ujung jari Alya.
Dingin.
Namun Alya tidak menariknya.
Itu cukup.
Ali menggenggamnya pelan,
seperti menggenggam sesuatu yang hampir hilang.
“Aku kangen kamu,” bisiknya.
Kali ini…
Alya gemetar.
Sangat kecil, hampir tak terasa.
Tapi Ali tahu itu bukan karena dingin.
“Padahal aku di sini…” suara Alya pecah, nyaris tak terdengar.
“Iya…” jawab Ali lirih,
“itu yang bikin aku makin kangen.”
Tangis Alya jatuh tanpa suara.
Ia membalikkan tubuhnya perlahan,
menatap wajah Ali yang kini terlihat asing dan akrab sekaligus.
“Sejak kapan kita jadi begini?” tanyanya.
Ali menggeleng pelan.
“Sejak kita berhenti saling cerita… mungkin.”
Atau sejak mereka mulai mengira
bahwa cinta tidak perlu lagi dirawat.
Alya mendekat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia memeluk Ali tanpa ragu.
Pelukan itu… tidak sempurna.
Masih ada canggung.
Masih ada luka yang belum selesai.
Tapi hangat.
Dan di dalam hangat itu,
Ali menemukan sesuatu yang hampir ia lupakan
harapan.
Malam itu, mereka tidak menyelesaikan semuanya.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata dramatis.
Hanya dua orang
yang akhirnya mengakui
bahwa mereka saling merindukan…
meski tak pernah benar-benar pergi.
Dan mungkin,
cinta tidak selalu tentang tidak berubah.
Kadang,
cinta adalah keberanian untuk kembali
meski harus memulai dari asing lagi.
Hujan berhenti.
Namun di dalam rumah itu,
dua hati yang sempat tersesat
akhirnya mulai
menemukan jalan pulang.








0 comments:
Posting Komentar