Sayang…
Kita adalah dua senja yang duduk bersebelahan,
Namun warna kita tak lagi saling menyentuh.
Aku menatapmu
Seperti laut menatap langitnya,
Dekat…
Namun tak pernah benar-benar memiliki.
Di pelukmu,
Aku seperti hujan yang jatuh ke tanah asing,
Diterima…
Namun tak lagi disambut sebagai pulang.
Ada rindu yang tumbuh liar di dadaku,
Seperti akar-akar sunyi
Yang menembus waktu,
Mencari sisa-sisa hangat
Yang pernah kau tinggalkan.
Kita masih berbagi pagi,
Namun mentari kita berbeda arah,
Dan kopi yang kita teguk
Tak lagi mampu menghangatkan kata-kata
Yang membeku di bibir.
Tatapanmu kini
Hanya singgah seperti angin lewat,
Tak lagi menetap
Seperti dulu
Ketika matamu adalah rumah
Dan aku penghuninya yang paling utuh.
Aku merindukanmu…
Seperti bulan merindukan lautnya
Yang diam-diam ditarik
Namun tak pernah benar-benar sampai.
Dan aku…
Adalah malam yang belajar diam
Menyimpan bintang-bintang patah
Di balik dada
Agar kau tak melihat
Betapa gelapnya aku tanpa cahaya kita.
Sayang…
Barangkali cinta kita belum mati
Ia hanya tertidur
Di antara kata-kata yang tak diucapkan
Di antara jarak yang tak kasat mata
Di antara dua hati
Yang lupa cara saling pulang.
Namun jika suatu hari
Kau kembali menjadi cahaya itu
Aku akan tetap di sini
Menjadi langit yang sama,
Yang sejak dulu
Tak pernah berhenti
Menunggumu terang.








0 comments:
Posting Komentar