Kamis, 19 Maret 2026

“Rindu yang Berumah di Antara Kita”


Sayang…

Kita adalah dua senja yang duduk bersebelahan,

Namun warna kita tak lagi saling menyentuh.

Aku menatapmu

Seperti laut menatap langitnya,

Dekat…

Namun tak pernah benar-benar memiliki.

Di pelukmu,

Aku seperti hujan yang jatuh ke tanah asing,

Diterima…

Namun tak lagi disambut sebagai pulang.

Ada rindu yang tumbuh liar di dadaku,

Seperti akar-akar sunyi

Yang menembus waktu,

Mencari sisa-sisa hangat

Yang pernah kau tinggalkan.

Kita masih berbagi pagi,

Namun mentari kita berbeda arah,

Dan kopi yang kita teguk

Tak lagi mampu menghangatkan kata-kata

Yang membeku di bibir.

Tatapanmu kini

Hanya singgah seperti angin lewat,

Tak lagi menetap

Seperti dulu

Ketika matamu adalah rumah

Dan aku penghuninya yang paling utuh.

Aku merindukanmu…

Seperti bulan merindukan lautnya

Yang diam-diam ditarik

Namun tak pernah benar-benar sampai.

Dan aku…

Adalah malam yang belajar diam

Menyimpan bintang-bintang patah

Di balik dada

Agar kau tak melihat

Betapa gelapnya aku tanpa cahaya kita.


Sayang…

Barangkali cinta kita belum mati

Ia hanya tertidur

Di antara kata-kata yang tak diucapkan

Di antara jarak yang tak kasat mata

Di antara dua hati

Yang lupa cara saling pulang.

Namun jika suatu hari

Kau kembali menjadi cahaya itu

Aku akan tetap di sini

Menjadi langit yang sama,

Yang sejak dulu

Tak pernah berhenti

Menunggumu terang.

0 comments:

Posting Komentar