DEEP LEARNING
Pendahuluan
Pendidikan modern menghadapi tantangan untuk mencetak
generasi yang tidak hanya mampu memahami materi pembelajaran tetapi juga
memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif. Salah satu pendekatan
yang kini populer adalah deep learning. Berakar dari penelitian
kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin yang berkembang pada 1980-an, deep
learning memungkinkan analisis data secara mendalam dan berlapis, mirip
cara otak manusia memproses informasi.
Dalam pendidikan, deep learning diadaptasi sebagai
pendekatan untuk membantu siswa memahami konsep lebih dalam, bukan hanya
sekadar menghafal fakta. Pendekatan ini mengutamakan pemikiran kritis,
pemecahan masalah, dan aplikasi praktis. Di Indonesia, pendekatan ini sejalan
dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang mendorong pembelajaran berbasis proyek
dan eksplorasi diri. Melalui penerapan deep learning, diharapkan siswa
dapat mengembangkan pemahaman yang komprehensif dan relevan dengan kebutuhan
dunia kerja modern.
Pembahasan
Pendekatan deep learning dalam pendidikan menekankan
pada pemahaman mendalam dan keterampilan berpikir kritis di luar sekadar
hafalan. Metode ini berfokus pada bagaimana siswa memproses informasi hingga
mampu menganalisis, menghubungkan konsep, dan memecahkan masalah secara
mandiri. Pendekatan ini mendukung pembelajaran aktif di mana siswa terlibat
secara penuh, mengeksplorasi konsep lebih dalam, dan mengaplikasikan
pengetahuan ke situasi nyata. Dengan deep learning, siswa dilatih
untuk berpikir kritis dan kreatif, meningkatkan keterampilan yang relevan untuk
tantangan dunia yang terus berubah.
Untuk menerapkan deep learning, guru perlu
beradaptasi dengan metode pengajaran yang kolaboratif, interaktif, dan berbasis
masalah. Pembelajaran berbasis proyek, diskusi kelompok, dan studi kasus adalah
beberapa metode yang sejalan dengan pendekatan ini.
Asal Mula Deep Learning
Deep
learning berakar dari riset dalam bidang kecerdasan buatan (AI) dan
pembelajaran mesin (machine learning), yang dimulai sekitar tahun
1940-an dan berkembang pesat pada 1980-an. Geoffrey Hinton, Yann LeCun, dan
Yoshua Bengio, sering disebut sebagai pionir, mengembangkan model-model
berbasis jaringan saraf (neural networks) yang memungkinkan komputer
"belajar" dari data, seperti yang dilakukan otak manusia.
Siapa Pencetusnya?
Geoffrey
Hinton adalah tokoh kunci dalam pengembangan konsep jaringan saraf dalam, yang
mendasari deep learning. Penemuan-penemuan dari Hinton, LeCun, dan
Bengio memungkinkan jaringan saraf multi-lapisan yang lebih dalam untuk diimplementasikan
dalam komputasi modern.
Penerapan dalam Pembelajaran
Dalam
konteks pendidikan, deep learning sebagai pendekatan mengutamakan
pemahaman mendalam dan keterampilan berpikir kritis. Penerapannya melibatkan
metode berbasis proyek, diskusi terbuka, dan studi kasus di mana siswa tidak
hanya mempelajari teori, tetapi juga menerapkan konsep ke situasi nyata. Ini
bertujuan melatih siswa untuk berpikir analitis, kreatif, dan mampu memecahkan
masalah kompleks, sehingga siap menghadapi dinamika dunia nyata.
Penerapan pendekatan deep
learning dalam pendidikan Indonesia memiliki potensi besar, namun
efektivitasnya bergantung pada beberapa faktor penting. Di satu sisi, deep
learning mendorong siswa untuk berpikir kritis, menganalisis informasi
mendalam, dan mengembangkan keterampilan problem-solving—semua elemen yang
sesuai dengan Kurikulum Merdeka, yang mengutamakan pembelajaran aktif dan
berbasis proyek. Namun, tantangan seperti kesiapan guru, fasilitas teknologi,
serta adaptasi metode belajar mengajar masih menjadi kendala. Dengan pelatihan
yang memadai dan dukungan infrastruktur, pendekatan ini dapat lebih efektif
diterapkan di Indonesia.
Daftar Pustaka
Hinton,
G. E., Osindero, S., & Teh, Y. W. (2006). "A fast learning algorithm
for deep belief nets." Neural Computation, 18(7), 1527–1554.
LeCun,
Y., Bengio, Y., & Hinton, G. (2015). "Deep learning." Nature,
521(7553), 436-444.
Wibisono,
H. (2023). "Pengembangan Model Pembelajaran Deep Learning dalam
Pendidikan." Jurnal Teknologi Pendidikan Indonesia, 9(3), 221–230.
Kemendikbudristek.
(2024). "Penerapan Kurikulum Merdeka dan Pendekatan Pembelajaran Mendalam
di Indonesia." Laporan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi, Jakarta: Kemendikbudristek.
Mu’ti, A. (2024). "Deep
Learning bukan Kurikulum Baru, Tapi Pendekatan Pembelajaran Mendalam."
Suara.com. Diakses dari https://www.suara.com
.png)







Bagus sekali Tulisannya Pak👍
BalasHapusTERIMA KASIH
BalasHapus