Tantangan Guru di Tengah Functional Illiteracy
Literasi merupakan keterampilan
dasar yang sangat penting dalam kehidupan, karena menjadi fondasi bagi anak
untuk memahami informasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan. Meski
banyak anak di Indonesia sudah mampu membaca secara teknis, tantangan terbesar
yang dihadapi adalah rendahnya kemampuan memahami isi bacaan atau literasi
fungsional. Anak-anak dapat membaca kata-kata dengan lancar, tetapi kesulitan
menangkap makna, menganalisis informasi, dan menghubungkannya dengan konteks
kehidupan sehari-hari.
Rendahnya kemampuan literasi
pemahaman ini disebabkan oleh berbagai faktor. Kurikulum yang lebih menekankan
pada aspek kognitif dan hafalan menjadi salah satu penyebabnya. Siswa didorong
untuk menguasai bacaan secara mekanis tanpa pendalaman terhadap isi dan pesan
yang ingin disampaikan. Selain itu, minimnya akses terhadap bahan bacaan
berkualitas yang menarik dan sesuai dengan usia anak turut memperburuk situasi.
Banyak anak hanya terpaku pada buku pelajaran, sehingga kurang memiliki
kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai jenis bacaan yang dapat melatih
kemampuan berpikir kritis. Kondisi ini ditambah dengan kondisi anak sekarang
yang merasa anti dengan buku, mereka lebih memilih bermain game daripada
membaca.
Peran keluarga dan lingkungan
juga sangat menentukan. Di beberapa keluarga, budaya membaca belum menjadi
kebiasaan sehari-hari. Anak-anak kurang mendapatkan dorongan untuk berdiskusi
atau menggali lebih dalam isi bacaan yang mereka temui. Hal ini membuat proses
pembelajaran literasi menjadi terbatas pada ruang kelas saja, tanpa dukungan
dari lingkungan rumah.
Rendahnya literasi pemahaman
berdampak signifikan pada prestasi akademik dan kemampuan anak dalam menghadapi
tantangan kehidupan. Anak-anak yang tidak mampu memahami bacaan akan kesulitan
mengikuti pelajaran di sekolah dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis.
Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari guru, orang tua, dan pemerintah
untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan literasi
secara holistik, baik dari segi keterampilan membaca maupun kemampuan memahami
dan menggunakan informasi secara efektif.
Functional illiteracy merupakan
kondisi di mana seseorang dapat membaca dan menulis secara dasar, namun
kesulitan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi dalam kehidupan
sehari-hari. Tantangan ini menjadi perhatian serius di dunia pendidikan,
terutama bagi guru yang berperan sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan
bangsa. Guru tidak hanya dituntut mengajarkan keterampilan membaca dan menulis,
tetapi juga memastikan siswa mampu memahami dan memanfaatkan informasi untuk
menyelesaikan masalah.
Salah satu tantangan utama yang
dihadapi guru adalah keterbatasan metode pembelajaran yang efektif dalam
meningkatkan literasi fungsional. Kurikulum yang padat sering kali membuat
pembelajaran terfokus pada hafalan dan teori, sehingga aspek pemahaman dan
aplikatif kurang terasah. Selain itu, kesenjangan akses terhadap sumber
belajar, terutama di daerah terpencil, memperburuk kondisi ini. Guru harus
berinovasi dan memanfaatkan teknologi serta sumber daya lokal untuk memperkaya
pengalaman belajar siswa. Ditambah dengan kondisi anak sekarang yang elergi
dengan buku bacaan. Mereka lebih memilih game online untuk menghabiskan waktu
sampai lupa segalanya.
Tantangan lainnya adalah kemampuan
literasi digital siswa yang masih rendah. Di era digital, literasi tidak hanya
terbatas pada membaca teks, tetapi juga memahami informasi dari berbagai media,
termasuk internet. Guru harus mampu membimbing siswa memilah informasi yang
kredibel dan relevan. Hal ini membutuhkan pengembangan kompetensi guru, baik
dalam literasi digital maupun strategi pengajaran yang adaptif.
Selain itu, faktor
sosial-ekonomi siswa juga menjadi tantangan. Anak-anak dari keluarga kurang
mampu cenderung memiliki keterbatasan akses terhadap buku dan perangkat
pembelajaran. Guru harus memiliki sensitivitas sosial dan berperan sebagai
motivator agar siswa tetap semangat belajar meski menghadapi keterbatasan.
Mengatasi tantangan functional
illiteracy membutuhkan kolaborasi antara guru, orang tua, dan pemerintah. Guru
perlu diberdayakan melalui pelatihan yang berkelanjutan, sementara pemerintah
harus memastikan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.
Dengan sinergi yang baik, diharapkan generasi muda tidak hanya mampu membaca
dan menulis, tetapi juga memiliki keterampilan literasi yang dapat menunjang
kehidupan mereka di masa depan.
.png)
.png)
.png)







