
Melangsir dari siaran wabinar yang disiarkan
Sinar Sapa pendidikan tentang kurikulum merdeka bersama narasumber Bapak
Zulkifli Annas selaku PLT. Kepala pusat kurikulum dan pembelajaran. Dalam
podcasnya Indri Habsari selaku moderator acara menanyakan tentang pameo
masyarakat kaitan ganti mentri ganti kurikulum. Dalam hal ini bapak Zulkifli
memaparkan kaitan pameo masyarakat yang berkembang tentang hal tersebut. Dalam
tanggapannya bapak Zulkifli menyampaikan yang penting masyarakat yang tidak
anti perubahan. Dalam hal ini harapannya mendapatkan perubahan yang esensial
dari perubahan kurikulum ini. Tentunya semua orang akan senang jika nantinya
perubahan akan menjadi lebih baik. Sebenarnya konsep perubahan kurikulum ini
tidak dipengaruhi oleh perubahan mentri. Selama ini Bangsa Indonesia sudah
berganti mentri sebanyak 40-an, namun kurikulum baru berganti sebanyak 14 kali.
Berarti kaitan ganti mentri ganti kurikulum tidak begitu berhubungan. Dalam hal
ini ada ungkapan yang disampaikan filusuf Yunani Kuno Heralkleitos yang
menyatakan kita tidak akan menjumpai air yang sama pada sungai yang telah kita
jumpai. Hal ini selaras dengan penerapan kurikulum pendidikan. Kurikulum
pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Karena peserta didik
yang sekarang tantangannya akan berbeda dengan peserta didik dahulu, makan
perlu disiapkan kurikulum yang sesuai dengan kondisi sekarang. Jangan sampai
peserta didik terkekang dengan apa yang kita rumuskan dahulu. Karena peserta
didik sekarang lebih dinamis dan terus berkembang kedepan. Apa lagi diera
globalisasi dan digital ini perkembangan sangat pesat. Dalam hal ini diharuskan
kurikulum pendidikan yang fleksibel sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh
masyarakat. Yang harus diluruskan kemasyarakat adalah apa yang berganti dan apa
yang tepat. Dalam hal ini yang perlu digaris bawahi adalah sebenarnya kurikulum
itu sama atau bisa dikatakan tetap, tapi perubahannya berada dalam kegunaan dan
kesesuaiannya dengan kebutuhan yang saat ini dan masa mendatang. Perlu kita
tekankan dalam penerapan kurikulum itu bukan seberapa banyak materi yang kita
berikan tetapi seberapa jauh kurikulum itu beradaptasi beradaptasi kepada
kebutuhan sekarang dan kebutuhan di masa depan.
Selanjutnya pembahasan tentang krisis
pembelajaran yang telah lama terjadi di Indonesia, dan bagaimana kurikulum
merdeka berperan dalam mengatasi hal itu. Kaitan krisis pembelajaran sudah
terjadi sangat lama dikarenakan kita sering mengejar materi pembelajaran. Guru
dalam mengejar biasanya berfokus pada penyelesaian materi sesuai target untuk
mengatasi masalahnya. Akhirnya anak ada yang ketinggalan kaitan pengetahuan,
dan anak terus tertinggal gara-gara persoalan awal belum teratasi. Hal ini
mengakibatkan anak yang tertinggal. Contohnya, anak saat kelas 1 ketinggalan
materi, terus diharuskan naik kelas, terus akan ketinggal karena pemahaman anak
tidak matang, sampai suatu saat di pendidikan yang lebih tinggi dia memiliki
pengetahuan setara dengan pengetahuan saat disekolah dasar. Hal inilah yang
disebut krisis pembelajaran atau learning loss. Learning loss ini sebenarnya
tidak disebabkan oleh pandemi covid-19, tapi disebabkan penerapan sistem yang
salah dalam kurikulum. Padahal pandemi covid-19 ini menyadarkan bahwa kita bahwasannya
ternyata peserta didik itu selama ini datang kesekolah tapi tidak sesungguhnya
belajar. Semua menjadi terkuak ketika masa pandemi covid-19. Dalam hal ini
kurikulum merdeka didesain untuk mengutamakan kemampuan anak. Dalam hal ini
guru harus mengetahui kemampuan anak untuk belajar materi selanjutnya. Materi
harus tuntas dahulu baru pindah ke materi berikutnya. Kurikulum merdeka mengacu
pada pembelajaran sesuai level untuk menyesuaikan kemampuan anak. Anak akan
diberikan ruang untuk memberikan layanan kepada anak untuk tumbuh dan
berkembang dengan kemampuan yang dimiliki. Dalam kurikulum merdekan sangan
menyarankan kegiatan yang berdeverensiasi. Dalam kegiatan belajar peserta didik
dapat berkolaborasi dan saling melengkapi. Dalam kegiatan belajar dibuat saling
menguatkan bukan bersaing untuk mengalahkan.
Dalam penerapan kurikulum merdekan ini dibuat
sesimpel mungkin untuk materi dan memberikan ruang yang luas bagi guru untuk
memahami anak dan dapat menyelesaikan permasalahan krisis belajar yang sudah
kita jalani ini.
Dalam kegiatan pembelajaran setiap sekolah
diberikan keleluasaan untuk memilih dan menerapkan kurikulum di sekolah.
Apakah semua sekolah harus menerapkan
kurikulum merdeka? Jawabannya tidak, tapi setiap sekolah memilih menerapkan
kurikulum yang akan sesuai, tidak ada paksaan, nanti malah tidak merdeka.
Intinya disarankan untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan
menjalankan dengan ikhlas tanpa paksaan.
Perubahan kurikulum sekarang lebih menekankan
bukan perubahan administrasi, melainkan tentang perubahan polapikir dan
meningkatkan hubungan batin, dan trasformasi belajar.