Siapa yang tidak ingin bahagia?
Kebahagiaan merupakan salah satu tujuan hidup manusia. Kita hidup didunia ini salahsatu capaiannya adalah mendapatkan kebahagiaan. Selain hidup didunia tentunya kita berharap akan mendapatkan kebahagiaan dikehidupan mendatang.
Pendidikan merupakan alat untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Pendidikan yang berkualitas akan mencerminkan masyarakat yang maju, damai dan mengarah pada sifat-sifat yang kontruktif (Membangun). Pada saat ini pemerintah sedang mencanangkan program "Merdeka Belajar". Melalui program ini harapannya dapat mendongkrak pendidikan Indonesia untuk mencapai pendidikan yang berkualitas dan bermakna. Konsep merdeka belajar ini adalah menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu. Merdeka belajar ini bertujuan supaya para guru, peserta didik . serta orang tua bisa mendapat suasana bahagia saat belajar dengan menciptakan suasana yang membahagiakan. Dalam konsep ini sesuai dengan pandangan tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantara. Beliau mengatakan " Pendidkan yaitu tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak , Maksudnya pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya".
Dengan demikian pembelajaran yang menyenangkan akan menggairahkan peserta didik dan membuat mereka ingin mempelajari dunia dan seisinya. Keinginan mempelajari dunia akan menimbulkan pertanyaan serta gagasan. Pertanyaan dan gagasan tersebut akan berkembang menjadi ilmu pengetahuan jika dapat dibuktikan, hingga pada akhirnya dapat diyakini kebenarannya.
Langkah-langkah merdeka belajar untuk kebahagian peserta didik, sebagai berikut :
- Memahami sifat yang dimiliki peserta didik : Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi, kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap atau berpikir kritis dan kreatif.
- Mengenal peserta didik secara perorangan : Peserta didik berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda, perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran.
- Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar : Sebagai makhluk sosial, sejatinya seorang anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, peserta didik dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok.
- Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah : Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Semuanya berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang ada sejak lahir, oleh karena itu tugas guru adalah mengembangkannya.
- Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik : Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam merdeka belajar. Hasil pekerjaan peserta didik sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, diharapkan memotivasi peserta didik untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi yang lainnya.
- Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar : Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar peserta didik karena lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar).
- Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar : Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada peserta didik merupakan salah satu bentuk interaksi keduanya dan hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan peserta didik.
- Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental : Aktifitas mental lebih diinginkan daripada aktifitas fisik. Seperti sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktifitas mental, oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya.
Mengajar dengan nuansa yang nyaman akan lebih menyenangkan bagi guru maupun peserta didik. Pembelajaran akan lebih nyaman, jika peserta didk dapat berdiskusi lebih dengan gurunya serta dapat belajar di luar kelas, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking karena setiap peserta didik memiliki.








Tetap semangat dan tetap menginspirasi pak guru :)
BalasHapusTerima Kasih Bu, semoga bermanfaat untuk kita semua.
Hapus